03 December 2019, 19:27 WIB

Gaya Guardiola


Adiyanto | Opini

Dok.MI
 Dok.MI
Adiyanto, wartawan Media Indonesia

USAI timnya ditahan imbang 2-2 oleh Newcastle United, pelatih Manchester City Pep Guardiola ditanya wartawan seputar hasil pertandingan tersebut. Para jurnalis mencecar mengapa City yang sempat dua kali memimpin dalam laga itu, akhirnya hanya memperoleh satu poin alias bermain imbang. Padahal, laga itu lumayan krusial untuk mengejar pimpinan klasemen Liga Primer Inggris, Liverpool yang saat ini berselisih 11 poin dari The Citizens.

Guardiola mengaku tidak terlalu risau dengan penampilan para pemainnya kendati hanya sekali menang dalam lima pertandingan terakhir di semua ajang kompetisi. "Anda harus lihat bagaimana usaha mereka. Saya kira tim ini masih di jalur yang benar,'' ujarnya, kepada AFP, Senin (2/12). Persoalan mereka gagal menang dari Newcastle, pelatih asal Spanyol ini mengatakan, itu hal biasa dalam sepak bola. Kendati timnya mendominasi laga tersebut (berdasarkan statistik pertandingan, City menguasai 70% bola), menurut Guardiola, hal itu bukanlah jaminan. Sepak bola, kata dia, adalah soal berapa gol yang mampu diciptakan dan bagaimana mempertahankan agar jangan sampai disamakan atau malah dilampaui lawan. "Kadang itu terjadi dan Anda harus terima itu," ujar pria berusia 48 tahun tersebut.

Pekan depan, City bakal menghadapi rival sekota mereka, Manchester United. Namun, sebelum itu Kevin de Bruyne dkk harus bertandang ke markas Burnley, Selasa (3/12) atau Rabu dini hari WIB. Wartawan, lagi-lagi mengipasi soal derby Manchester tersebut. Namun, Guardiola pun kembali dengan kalem menjawab diplomatis. Menurut dia, hal terpenting yang perlu dilakukan timnya adalah recovery atau pemulihan. Setelah itu bersiap untuk memenangi laga melawan Burnley. "Setahap demi setahap," katanya.

Sebagai profesional, Guardiola yang bergaji 15 juta pound (Rp274,42 miliar) per musim, tentu tahu target yang dibebankan kepadanya. Kemenangan tentu penting, karena sepak bola kini telah jadi industri bukan lagi sekadar hiburan pengisi waktu senggang. Apalagi jika timnya mampu mempersembahkan sejumlah trofi, karena ujung-ujungnya bakal mendongkrak popularitas dan juga saham klub.

Guardiola sadar itu. Tapi dia tetap bekerja dalam koridor sportivitas. Tidak lantas mencoba menyuap wasit atau berkongkalikong dengan sejumlah pengurus PSSI-nya Inggris, misalnya. Dia juga memperlakukan para pemainnya sebagai manusia, bukan sekadar mesin atau robot pencetak gol. "Lihat bagaimana mereka telah berusaha dan berjuang. Itu harus Anda hargai" kata pelatih yang telah mempersembahkan sejumlah trofi buat Barcelona, Bayern Muenchen, dan City ini.

Eddie Jones, pelatih tim nasional Rugby Inggris, mengaku sangat terkesan dengan gaya kepelatihan Guardiola dan bagaimana dia memperlakukan pemainnya. Dalam biografinya My Life and Rugby, pria asal Australia ini mengisahkan saat dia diperkenankan melihat pria Spanyol itu melatih ketika menangani Bayern Muenchen. Menurut cerita Jones, Guardiola tak segan berbicara satu persatu dengan pemain dan mencontohkan sendiri gerakan yang ingin dia mau. Tidak asal memerintah. "Itu sangat berkesan dan menginspirasi saya," kata Jones yang biografinya dimuat bersambung di surat kabar Inggris The Times, pada pertengahan November lalu.

Gaya Guardiola barangkali bertolak belakang dengan rekan senegaranya yang juga mengadu nasib di Liga Inggris, Unai Emery. Meski sama-sama tak mampu membawa timnya menang dalam lima laga terakhir, tidak ada tekanan bagi Guardiola, baik dari jajaran pengurus atau pun fans fanatik The Citizens. Sebaliknya, Emery baru saja didepak dari singgasananya sebagai pelatih Arsenal. Padahal, peringkat delapan di klasemen Liga Primer, juga tak buruk-buruk amat. Apalagi mereka masih di atas Mancester United.

Mengutip salah seorang sumber di Arsenal, harian The Telegraph menyebut Emery tak lagi dihormati oleh para pemain. Mereka kurang sreg dengan strategi dan taktik pelatih asal Spanyol tersebut. Jadi perkaranya bukan cuma Arsenal tak kunjung menang yang jadi alasan dia dipecat. "Masalahnya ada pada dia (Emery). Dia selalu membuat keputusan buruk dan mengubah taktik seenaknya. Tidak ada identitas di tim ini dan para pemain melihat tidak ada kemajuan," kata si sumber tersebut. (X-12)

 

BERITA TERKAIT