03 December 2019, 19:20 WIB

Pengelolaan Limbah Batu Bara Perlu Jadi Perhatian Serius


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

Antara/Widodo S Jusuf
 Antara/Widodo S Jusuf
Aktivitas bongkar muat batu barau di PLTU Paiton

INDONESIA menjadi salah satu negara yang memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakar utama pembbangkit listrik. Meski cadangan dan produksi batu bara di Indonesia besar, pemanfaatan batu bara di Indonesia masih tertinggal dari negara lain.

Salah satu isu yang disorot dari batu bara ialah pengelolaan pemanfaatan limbat batu bara yang di Indonesia masuk dalam limbah B3. Karena itu, road map Kebijakan Energi Nasional (KEN) pemanfaatan batu bara dalam bauran energi nasional ditargetkan terus menurun, hingga 25% pada 2050.

Dalam hal pengelolaan limbah batu bara, peneliti Alpha Research Database Ferdy Hasiman mengungkapkan, pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU) di Indonesia telah menerapkan manajemen pengelolaan limbah yang baik.

Hal itu setidaknya terlihat dari penelitiannya di PLTU Paiton di Probolinggo, Jawa Timur yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai. Menurutnya, warga disana justru tak mengeluhkan adanya limbah dari PLTU Paiton.

"Karena PLTU itu menjadi penopang ekonomi warga sekitar. Lalu terumbu karang dan biota-biota laut yang ada hidup di sekitar itu dan tidak terganggu dengan kehadiran PLTU itu,” jelas Ferdy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/12).

Baca juga : Petrosea Mencatatkan Laba US$20,58 Juta per September 2019

Hal itu, menurut Ferdy karena manajemen pengelolaan PLTU Paiton telah dirancang dengan baik sejak awal pembangunan pada 1194. PLTU terbesar dan penyuplai listrik terbesar Jawa-Bali itu telah menerapkan pengelolaan limbah batu bara yang baik.

Teknologi yang diterapkan ialah Super Critical Represitator untuk me-reduce dan meminimalisasi sebaran fly ash buttom ash.

“Sejak awal memang kalau kajian awalnya sudah merusak lingkungan hidup pasti tidak akan dikasih AMDAL oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan pasti akan diberi teguran-teguran.  Nah pihak Kemen LHK sudah mengakui bahwa memang PLTU itu patut mendapatkan penghargaan karena memang pengelolaannya sangat bagus,” tutur Ferdy.

Teknologi serupa ditemukan juga oleg ferdy di PLTU Unit 1 dan 2 di Cirebon, Jawa Barat. PLTU Unit 1 Cirebon bertenaga 660 megawatt, sedangkan PLTU Unit 2 Cirebon bertenaga 1.000 megawatt.

"Nah sama dengan Paiton, PLTU unit 1 Cirebon itu mengadopsi teknologi yang sama, menjaga jangan sampai mencemarkan lingkungan. Sampai sekarang Kemen LH pada kedua PLTU itu belum mengeluarkan teguran apa apa. Bahkan PLTU itu menjadi rujukan para peneliti bahwa ada sampel yang cukup sukses untuk membangun PLTU,” ujar Ferdy.

Baca juga : WHW Optimistis Capai Target Produksi 1 Juta Ton Alumina

Ferdy menegaskan, pengusaha yang ingin masuk ke bisnis PLTU perlu memperhatikan dengan baik pengelolaan limbah batu bara agar tidak mencemari lingkungan. Setidkanya harus mengikuti aturan yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Di sisi lain, pemanfaatan limbah batu bara juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi. Di negara maju seperti Amerika Serikat, India, Tiongkok, dan Jepang, fly ash, bottom ash, dan gipsum diolah sebagai bahan pembuatan jalan, jembatan, paving blok, semen, dan sebagainya.

“Limbah batu bara, abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan konstruksi di berbagai negara. Limbah batu bara itu dijadikan bahan konstruksi, bahan bendungan, jalan. Jumlahnya besar, bisa dimanfaatkan sebenarnya,” urai Hendra Sinadia. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT