03 December 2019, 19:20 WIB

Setiap Hari 250 Orang Meninggal akibat TBC di Indonesia


Atalya Puspa | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Setiap Hari 250 Orang Meninggal akibat TBC di Indonesia

PENYAKIT tuberculosis (TBC) masih menjadi momok di Indonesia. Selama 30 tahun, Pemerintah masih belum mampu menurunkan Indonesia dari tiga besar negara pengidap TBC terbesar di dunia.

Koordinator Advokasi dan Komunikasi Stop TBC Indonesia, Thea Hutanamon, mengungkapkan, diperkirakan terdapat 845 ribu kasus baru TBC setiap tahunnya di Indonesia.

Pada 2018 sendiri terdapat 570.289 kasus yang teridentifikasi. Artinya, terdapat 32% kasus TBC yang belum teridentifikasi. Adapun, sebanyak 93 ribu jiwa meninggal setiap tahun akibat TBC.

"Dengan demikian, kasus kematian akibat TBC setiap hari di Indonesia lebih dari 250 orang," kata Thea di Komisi IX DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).

Thea menilai, kasus TBC di Indonesia merupakan satu hal yang urgen untuk ditangani. Pasalnya, hal tersebut menyangkut pada produktivitas masyarakat Indonesia.

Saat ini, permasalahan TBC di Indonesia dinilainya semakin sulit untuk ditanggulangi. Pasalnya, sebanyak 50% pasien TBC juga mengalami resisten obat, yang artinya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk masa penyembuhannya, dari yang seharusnya 6 bulan, menjadi 2 tahun.

"Selain itu, konektivitas yang semakin meluas menyebabkan virus TBC semakin mudah tersebar. Semua orang punya potensi terserang TBC karena virus ini bisa menyebar dari pengidap dari udara, saat mereka bicara, batuk, itu semua bisa terhirup oleh yang lainnya," tuturnya.


Baca juga: Wapres Paparkan 5 Langkah Penuhi Hak Dasar Penyandang Disabilitas


Thea menilai, TBC bukan hanya permasalahan kesehatan. Namun, lebih dari itu, TBC merupakan permasalahan struktural yang mencakup masalah sosial, ekonomi, dan individu.

"Ini merupakan isu strategis. TBC merupakan penyakit yang lama dan belum bisa diselesaikan dan membutuhkan kemitraan lintas sektor. Ketelibatan dari berbagai sektor, baik swasta maupun layanan, pemerintah swasta baik eksekutuf legistaltif. Kemudian organisasi masyarakat supaya bisa terus melanjutkan target eliminasi TBC dari Indonesia," bebernya.

Untuk itu, Thea menyatakan pihaknya mengajak Komisi IX DPR RI untuk bermitra mengatasi permasalahan TBC di Indonesia dari segi struktural dan material.

"Kita meminta agar mungkin Komisi IX bisa membentuk kaukus TBC nasional untuk mebenahi permasalahan TBC yang tidak bisa dianggap sepele. Selain itu, dari pemerintah sendiri juga mungkin mempertimbangkan mengenai infrastruktur penanganan penyakit TBC, apakah risetnya sudah baik. Selain itu dari aspek sosial juga apakah penyebaran TBC di ruang publik bisa ditangani, mengingat penyebaran TBC dari udara bebas," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi IX dari Fraksi Partai NasDem mengungkapkan pihaknya siap untuk bermitra dengan berbagai pihak untuk mengatasi TBC di Indonesia. Dia juga menyebut, pihaknya siap menjadikan penanganan TBC sebagai isu nasional agar pada 2030 mendatang TBC dapat tereliminasi dari Indonesia sesuat target SDG's.

"Pemerintah akan mendorong eliminasi TBC, dan bagaimana ini tidak lagi menjadi isu biasa dan menjadi isu naisonal untuk memerangi TBC dan menurunkan posisi Indonesia dari peringkat 3 besar di dunia," ucapnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT