03 December 2019, 13:07 WIB

Mengenal Granat Asap, Sumber Ledakan di Monas


Thomas Harming Suwarta | Politik dan Hukum

ANTARA/Yusuf Nugroho
 ANTARA/Yusuf Nugroho
Anggota TNI menunjukkan granat asap

KAPOLDA Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono menyebutkan ledakan di kawasan Monumen Nasional (Monas) diduga berasal dari granat asap yang ditemukan anggota TNI.

"Dugaan sementara hasil temuan tim di lapangan, berasal dari granat asap," ujar Gatot dalam jumpa pers bersama Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).

Tentang granat asap pernah dijelaskan secara detail oleh Kapaldan XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Dwi Soemartono.

Pada 28 Desember 2018 lalu, Soemartono memberi penjelasaan untuk membantah hoaks yang disebar kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Papua terhadap TNI yang dituding melakukan serangan udara dengan menggunakan bom fosfor dan bom besar lainnya terhadap warga sipil ketika melakukan evakuasi korban pembantaian KKSB terhadap pekerja jalan Trans-Papua di Kabupaten Nduga.

Baca juga: Jokowi Serahkan Kasus Ledakan di Monas pada Polisi

Dalam tayangan video produksi Kodam XVIII Cenderawasih yang diunggah melalui Facebook oleh akun Teknologi dan Strategi Militer, Soemartono yang saat itu didampingi Kapendam Cenderwasih Kolonel Muhammad Aidi menyebutkan granat asap dan granat standar merupakan peralatan wajib yang melekat kepada personel TNI yang sedang melakukan tugas.

Dijelaskan Soemartono, granat asap adalah benda yang tidak berbahaya, sebab hanya mengeluarkan asap yang di gunakan sebagai penanda atau tabir dalam sebuah operasi militer. Sementara selongsong granat yang lainnya adalah sisa dari pelontar granat standar TNI yang merupakan peralatan melekat di personil pasukan Infanteri.

"Fungsi granat asap itu hanya untuk tabir yang isinya bahan kimia piroteknik yang jika dibuka dan bereaksi dengan udara dia mengeluarkan asap secara otomatis karena memang sifat kimianya seperti itu yang lama asapnya kurang lebih 25 detik, yang lama kelamaan menjadi hangat dan panas," kata Soemartono sambil memegang granat asap buatan Pindad jenis GT-AS.

Ia jelaskan, granat itu hanya berupa asap saja yang bahkan dipegang pun tidak menimbulkan bahaya karena hanya mengeluarkan asap.

"Jadi ini adalah alat standar paling rendah yang dimiliki pasukan infantri di mana pun di seluruh Indonesia," pungkas Soemartono.

Terkait ledakan di Monas, Karopenmas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono menyebuut granat tersebut ditemukan dua orang anggota Garnisun, Satker Pemakaman. Serma Fajar dan Kopka Gunawan, ketika sedang melaksanakan olahraga bersama dengan jalan santai personil Garnisun.

Kedua anggota TNI tersebut menemukan bungkusan plastik yang di dalamnya ada satu granat, kemudian diambil dan meledak sehingga menyebabkan luka. (OL-2)

BERITA TERKAIT