03 December 2019, 05:30 WIB

Pelabuhan Merak Terancam


Wibowo Sangkala | Nusantara

 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
  ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
 Foto udara kendaraan pemudik tujuan Sumatera antre memasuki kapal Roro di Pelabuhan Merak, Banten, Sabtu (1/6/2019)

SOLIKIN gusar. Reklamasi yang sedang berjalan di perairan Selat Sunda membuat General Managet PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Pelabuhan Merak itu gelisah.

"Reklamasi berpotensi mempercepat sedimentasi sehingga pendangkalan air laut terjadi. Reklamasi di Selat Sunda akan berdampak ke wilayah sekitarnya, termasuk Pelabuhan Merak," ujarnya, kemarin.

Proyek reklamasi Selat Sunda dilakukan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) yang melakukan perluasan pelabuhan miliknya seluas 12 hektare. Pekerjaan reklamasi dilakukan PT Seven Gates Indonesia dan PT Boskalis. Untuk reklamasi, PT Seven Gates Indonesia saja membutuhkan 3,5 juta kubik pasir laut untuk menambah luas daratan.

Di sisi lain, fungsi Pelabuhan Merak sebagai sarana transportasi penyeberangan sangat vital bagi masyarakat Pulau Sumatra dan Jawa. Pendangkalan akan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan negara.

"Pendangkalan akan menimbulkan biaya tinggi bagi negara dan merugikan masyarakat yang menggunakan penyeberangan di Pelabuhan Merak. Saya siap pasang badan jika reklamasi di Selat Sunda itu mengancam kepentingan publik, terutama mengganggu penyeberangan," tekad Solikin.

Dalam waktu dekat, Solikin akan meminta Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) untuk melaporkan potensi pendangkalan ini sehingga reklamasi di perairan Selat Sunda ditinjau kembali.

Limbah kimia

Keresahan dalam bentuk lain dirasakan warga Dukuh Satir, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dalam sepekan terakhir, mereka harus mencium bau busuk yang menyengat dari limbah cair yang dibuang sembarangan tidak jauh dari permukiman mereka.

Cairan limbah berbahaya itu mulai mengering karena sinar matahari, tetapi bau busuk yang menyengat masih menyeruak dalam radius ratusan meter ke permukiman warga.

"Limbah dalam volume besar itu dibuang orang tidak dikenal di lahan kosong. Selain bau menyengat, limbah cair itu juga menyebabkan mata perih, dan pohon di sekitarnya mati," ujar Fatulloh, warga.

Lokasi pembuangan limbah itu tidak jauh dari sungai. Warga mengkhatirkan jika hujan, limbah itu terbawa masuk ke aliran sungai.

Demi terjaganya kualitas lingkungan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Timur memprioritaskan air tanah menjadi sumber energi baru terbarukan yang harus dikembangkan. "Ini juga upaya kami menjaga agar air tanah di Jawa Timur tetap terjaga," ujar Kepala Dinas ESDM Setiajit.

Di daerah ini sejumlah daerah, yakni Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek, sangat kekurangan air. Karena itu, air permukaan harus dikelola dengan baik sehingga daerah itu memiliki cadangan air yang cukup.

Di sisi lain, dari 666 kecamatan, setengahnya dalam kondisi kekurangan air karena tinggi air tanah terus menurun. "Karena itu, daerah yang dilalui aliran Sungai Bengawan Solo, seperti Gresik, Bojonegoro, dan Tuban, harus mengelola air dengan baik sehingga punya cadangan untuk pertanian dan air baku PDAM," lanjutnya.

Staf Ahli Menteri ESDM Sampe L Purba sepakat air tanah harus dikelola dengan baik, memperhatikan keseimbangan antara imbuhan dan pengambilannya. "Pemanfaatan air tanah harus memperhatikan keseimbangan dan pelestarian sumber dengan berwawasan lingkungan," ujarnya. (JI/FL/N-2)

BERITA TERKAIT