02 December 2019, 20:37 WIB

COP25 Resmi Dibuka untuk Wujudkan Paris Agrement


Thalatie K Yani | Humaniora

MI/Thalatie K Yani
 MI/Thalatie K Yani
Pavilion Indonesia di COP25 di Madrid, Spanyol

SEBANYAK 197 negara menghadiri pembukaan Konferensi perubahan iklim (COP) 25 yang berlangsung di IFEMA, Madrid, Spanyol. Konferensi yang diselengarakan UNFCCC mengusung tema 'Time for Action' ini akan membahas langkah nyata mewujudkan artikel 6 Paris Agrement.

Artikel itu menyangkut implementasi nationally determined contribution (NDC) pengurangan emisi. Reduksi emisi bisa ditransfer antar negara dan diperhitungkan dalam NDC. Komponen penting dalam perjanjian ini yaitu untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global sedekat mungkin hingga 1,5 derajat Celcius dan dengan demikian mencegah dampak terburuk perubahan iklim.

Indonesia berharap pertemuan tahun ini tidak akan mengalami kebuntuan seperti 3 tahun terakhir. Pasalnya penerapan Paris Agrement akan dilakukan pada Januari 2020 tajun depan.

National Focal Point UNFCCC Indonesia Ruandha Agung Sugardiman kepada wartawan menyatakan ada sekitar 40-50 negosiator yang diturunkan pada COP25 ini guna memperjuangkan kepentingan Indonesia.

"Kita harus upayakan bilateral, negosiasi informal. Kita secara bilateral sudah ada kesepakatan, dengan Norwegia, Inggris, Jerman, sudah. Nonmarket, posisi indonesia itu aman, jadi kita ikuti. Kasian negara-negara yang masih di bawah kita, harus dukung mereka," ujar Agung kepada wartawan di sela konferensi di Ifema, Madrid, Spanyol, Senin (2/12).

Konferensi kali ini dinilai penting karena sudah tiga tahun terakhir deadlock dan ditambah lagi tahun lalu Amerika Serikat menyatakan keluar dari Paris Agrement.

"Kalau deadlock lagi belum tahu bagaimana. Harusnya setelah implementasi pada Januari 2020 ini harus ada instrumen jelas. Kita dituntut lebih ambisius menurunkan emisi, tapi juga ambisi bagaimana negara-negara maju memberikan finance ke negara yang punya hutan," ujarnya.

Indonesia menargetkan menurunkan emisi hingga 29% dengan upaya sendiri. Namun bila mendapatkan dukungan dari negara lain, bisa mencapai 41%. Meski begitu, Agung menyatakan Indonesia tidak mau berambisi terlalu banyak di sektor market, lebih menitikberatkan ke non market.

"Yang masih ngotot itu Brasil, Tiongkok, India, Arab Saudi, karena mereka hutannya masih bagus. Kemudian, Tiongkok dan India resforestrasinya berhasil, artinya mereka bisa berjualan, bisa market," ujarnya.

Hutan Indonesia, kata Agung, melalui citra satelit masih 90 juta hektare. Sebanyak 45%nya masih hutan premier.

Sementara itu dalam pembukaan COP25, Carolina Schmidt Zaldivar menteri lingkungan hidup Chile yang menjadi pemimpin sidang COP25 ini mengajak semua negara untuk bergabung dalam aliansi mengatasi perubahan iklim.

"Saya ingin mengundang semua negara, secara global untuk bergabung dalam aliansi untuk ambili iklim ini untuk memenuhi target 2020," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sudah saatnya menghentikan perang melawan alam. Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, dunia harus membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius, mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 45% dari tingkat 2010 pada 2030.

"Komitmen yang dibuat di Paris masih akan mengarah pada peningkatan suhu di atas tiga derajat Celcius. Tetapi banyak negara bahkan tidak memenuhi komitmen itu," tegasnya.

COP25, katanya menyediakan panggung global bagi negara-negara yang siap melangkah dan berkomitmen menetralisir karbon pada 2050. Termasuk 7 negara G20 dan negara lain yang sering berkontribusi terhadap masalah ini.

"Kami juga melihat dengan jelas penghasil emisi terbesar di dunia tidak menarik beratnya. Dan tanpa mereka, tujuan kita tidak dapat dicapai. Itulah mengapa sangat penting bagi kita untuk berkumpul di Madrid untuk COP25 ini," ujarnya.

"Saya berharap dari COP sebuah demonstrasi yang jelas tentang peningkatan ambisi dan komitmen yang menunjukkan akuntabilitas, tanggung jawab, dan kepemimpinan." (OL-8)

BERITA TERKAIT