31 October 2019, 06:00 WIB

Indonesia Mampu Hadapi Resesi Global


mediaindonesia.com | Ekonomi

MI/SUSANTO
 MI/SUSANTO
Dirut PT Sarana Multi Infrastruktur Edwin Syharuzad menyampaikan sambutan dalam diskusi ekonomi Ngobrol Pembangunan Indonesia (Ngopi).

BILA resesi ekonomi global akibat perang dagang terjadi, Indonesia diprediksi mampu bertahan. Ini disebabkan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang cukup untuk mengatasi hal tersebut.

Pakar ekonomi Chatib Basri yang memprediksi hal itu juga menilai bahwa Indonesia terbukti mampu melewati sejumlah krisis global dengan baik. Lihat saja krisis global 2008 dan 2015 ketika harga komoditas dunia kolaps.

Chatib juga menilai selama The Fed tetap bersifat dovish atau menggunakan kebijakan suku bunga rendah, arus modal portofolio akan mengalir ke negara emerging market, termasuk Indonesia.

“Saya melihat dengan situasi seperti itu untuk bertahan di 5% tidak masalah karena fiskal kita relatif aman. Kalaupun harga komoditas kolaps, paling defisit kita naik 1,7%. Fiskal kita masih dapat dikelola. BI masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga acuan,” tutur Chatib dalam acara Ngobrol Pembangunan Indonesia di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut Chatib juga berpendapat situasi saat ini tidak seburuk dua krisis ekonomi global tersebut. Soalnya, kondisi ekonomi Amerika sekarang pun lebih baik daripada 2008. Karena itu, dirinya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 4,6% atau lebih dekat pada kisaran 5%.

Meskipun terjadi perlambatan ekonomi, ia meyakini hal tersebut tidak akan signifikan. Namun, pemerintah semestinya tidak puas terhadap kondisi itu.

Chatib menyarankan pemerintah melakukan akselerasi guna mendorong pertumbuhan yang lebih cepat. Menurutnya, ada dua tahapan yang harus dikerjakan dalam kaitan dengan ekspor dan investasi, baik jangka pendek maupun jangka menengah.

“Jangka pendek itu harus menjaga stabilitas dengan menaikkan daya beli melalui counter cyclical, seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Selanjutnya pada medium term, agar ekonomi yang stabil dapat naik terus, kita membutuhkan peningkatan investasi, ekspor, berkaitan dengan perizinan dan lain-nya,” urai Chatib.

Guna menaikkan investasi, Chatib mengatakan pemerintah tidak dapat memaksakan diri menyelesaikan semua persoalan di semua daerah karena tidak memiliki waktu dan dana yang cukup untuk itu. Karenanya, ia mengusulkan pemerintah membuat kisah sukses yang dapat menjadi contoh sehingga mendorong investasi masuk ke Indonesia.

“Kalau success story terjadi, orang akan berubah persepsinya. Misalnya, untuk investasi tidak perlu semua orang datang ke sini. Kalau ada, bisa ambil dua atau tiga perusahaan besar masuk ke sini. Yang lain akan ikut. Jadi cari yang memiliki efek besar sehingga menarik investasi lain,” terang Chatib.

Sasar pemerintah daerah
Terkait dengan proyeksi Outlook 2020, Direktur Uama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Edwin Syahruzad mengungkapkan meski ada perlemahan dari sisi permintaan, pihaknya akan mendorong portofolio campuran yang lebih besar pada pembiayaan untuk pemerintah daerah. “Dalam lima tahun terakhir kami mendorong pembangunan trans-Sumatra,” ujar Edwin di tempat yang sama.

Pihaknya mendorong pemerintah setempat untuk membangun jalan kabupaten hingga jalan provinsi sehingga aktivitas ekonomi meningkat. Hasil akhirnya, relokasi pabrik dan lainnya dapat masuk ke daerah tersebut.

Hal lain yang akan SMI dorong, yaitu pemerintah daerah yang berada di wilayah ‘kaya’ dan membutuhkan infrastruktur. Misalnya, DKI Jakarta yang dipandang Edwin memiliki banyak proyek infrastruktur yang baru didanai anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), seperti moda raya terpadu (MRT).

Menurutnya, pembangunan MRT saat ini dibiayai APBD, bukan dari proyeknya sendiri. Untuk itu, dalam ekspansi ke depan, akan lebih baik MRT yang sudah mengantongi pendapatan dapat menggunakan skema partisipasi swasta. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak perlu berutang karena proyek tersebut menjadi sumber pembayaran.   

Sejauh ini SMI sudah membantu memfasilitasi 15 proyek public private partnership alias kerja sama pemerintah dengan badan usaha. Pihaknya melihat dalam perkembangan lima tahun terakhir, sumber daya domestik sudah sangat dominan, seperti badan usaha milik negara (BUMN).

“Tantangan ke depan, yaitu kita dapat menarik investor global agar lebih banyak lagi masuk atau berpartisipasi dalam membangun atau juga me-recycle aset-aset yang sudah dibangun. Kami juga melihat ada preseden bagus, semisal satu ruas tol Trans-Jawa dapat dibeli secara cukup signifikan oleh investor Kanada,” pungkas Edwin. (Dro/Fan/S3-25)

BERITA TERKAIT