02 December 2019, 16:45 WIB

Pengumuman Data Luas Sawah Diundur


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
 ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
 Petani menyemprotkan cairan pestisida ke tanaman padi miliknya di persawahan yang bersebelahan dengan kawasan pabrik 

PENGUMUMAN data luas baku sawah terbaru mengalami penundaan. Semula, rencananya akan dirilis pada 1 Desember 2019. Namun, ternyata pemutakhiran data diperkirakan baru akan selesai pada 4 Desember.

"Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) meminta waktu validasi sampai 4 Desember. Jadi, 4 Desember ini terakhir. Pengumuman mungkin setelah tanggal 4," ujar Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sarwo Edhy di Jakarta, Senin (2/12).

Saat ini, ia menyebut Kementerian ATR tengah mengevaluasi data lahan yang diluncurkan tahun lalu dengan mencocokkan data yang dimiliki Kementerian Pertanian dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Penyempurnaan data luas baku sawah menjadi prioritas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam 100 hari kerja pertama. Selama ini, luasan sawah selalu menjadi perdebatan karena setiap instansi terkait memiliki data yang berbeda-beda.

Baca juga: Beda data dengan BPS, Kementan Cek Ulang Luas Sawah

Dengan kondisi tersebut, Syahrul menilai pemerintah tidak bisa mengambil kebijakan yang tepat. Pasalnya, data luas sawah sangat berkaitan erat dengan penghitungan produksi padi yang akhirnya menentukan terhadap kebijakan ekspor dan impor beras.

Sebelumnya, pada 2018, BPS bersama Kementerian ATR dan BIG telah mengeluarkan data luas baku sawah dengan menggunakan metode terbaru yakni kerangka sampel area (KSA) dengan memanfaatkan citra satelit. Sebelumnya, penghitungan luas sawah hanya mengandalkan pandangan mata di lapangan.

Dari pemutakhiran itu, luas baku sawah di Indonesia tercatat hanya 7,1 juta hektare (ha), turun dari luas lahan yang dirilis pada 2013 yang mencapai 7,7 juta ha.(OL-5)

BERITA TERKAIT