01 December 2019, 13:23 WIB

Peringatkan Abe, Korut Sebut Pemimpin Jepang Paling Bodoh


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Kantor berita Korut (KCNA) merilis foto peluncuran roket ukuran super tanpa keterangan tempat dan tanggal.
 Kantor berita Korut (KCNA) merilis foto peluncuran roket ukuran super tanpa keterangan tempat dan tanggal.
KCNA/AFP

PADA Sabtu (30/11), Korea Utara (Korut) memperingatkan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe bahwa ia akan segera melihat ‘rudal balistik sungguhan’ sambil mengecamnya sebagai orang paling bodoh yang pernah dikenal dalam sejarah.

Kecaman penuh warna tersebut terjadi dua hari setelah negara yang terisolasi itu menguji apa yang disebutnya sistem peluncuran roket berganda super besar.

Korea Selatan (Korsel) melaporkan dua proyektil milik Korut jatuh di Laut Jepang, yang juga dikenal sebagai Laut Timur.

Setelah peluncuran rudal yang diawasi Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Abe menyebut senjata rudal balistik yang ditembakkan melanggar resolusi PBB.

"Dapat dikatakan Abe adalah satu-satunya orang idiot di dunia dan orang paling bodoh yang pernah dikenal dalam sejarah karena ia gagal membedakan sebuah rudal dari beberapa sistem roket peluncuran sembari melihat laporan yang disertai foto," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korut dalam sebuah pernyataan yang dikutip KCNA.

"Abe mungkin akan melihat rudal balistik yang sebenarnya di masa depan dan di bawah hidungnya ... Abe tidak lain adalah seorang dungu yang sempurna," tambahnya.

Korea Utara, kata pernyataan itu, lebih baik menghindari berurusan dengan Abe, menambahkan bahwa melakukan hal itu dengan ‘kurcaci politik’ hanya akan membawa ‘aib’.

Kritik terhadap pemimpin Jepang adalah yang kedua dari jenisnya oleh Pyongyang bulan ini.

Korea Utara telah menuduh Abe sebagai ‘idiot dan penjahat’ dan memperingatkan dia tidak akan pernah menginjakkan kaki di Pyongyang setelah dia mengutuk uji senjata Korea Utara beberapa hari sebelumnya.

Pyongyang berada di bawah serangkaian sanksi internasional atas program senjata nuklir dan rudal balistiknya, yang menurut mereka perlu dipertahankan terhadap kemungkinan invasi Amerika Serikat. (AFP/Hym/OL-09)

BERITA TERKAIT