01 December 2019, 12:33 WIB

Humphrey: 212 Jadi Kebanggaan, tak Masalah Digelar Tiap Tahun


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum

MI/Arya Manggala
 MI/Arya Manggala
Ribuan umat Islam mengikuti acara Reuni Alumni 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12) di tahun 2017

KETUA Umum DPP PPP versi Muktamar Jakarta, Humphrey Djemat, mengungkapkan tidak ada persoalan dengan penyelenggaraan reuni 212 yang bakal berlangsung besok, Senin (2/12). Humphrey berpatok pada otoritas keamanan yang mengizinkan kegiatan tersebut.

"Begini, soal reuni itu pertama kali harus berpatokan dari sikap pihak otoritas keamanan. Yang saya dengar otoritas keamanan itu tidak melarang. Itu dulu. Dari situ saya bisa melihat, reuni itu boleh saja dilakukan sepanjang tidak melakukan hal-hal yang bersifat menganggu keamanan atau chaos," terang Humphrey usai pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke-5 PPP versi Muktamar Jakarta di Hotel Red Top Jakarta, Sabtu (30/11).

Menurutnya, acara 212 tidak bisa dibandingkan dengan acara demonstrasi di negara lain. Sebagai contoh, ia menyebut demonstrasi Hong Kong yang berujung rusuh. Bahkan, 212 bisa menjadi kebanggaan Indonesia.

"Kalau kita bandingkan dengan Hong Kong. Hong Kong tidak bisa dibandingkan dengan 212. Hong Kong ternyata terjadi chaos. Nah di sini kan suatu kebanggaan juga. Nah kita lihat aja di situ. Jadi mau tiap tahun tidak masalah. Juga soal isu penistaan agama sudah selesai. Yang bersangkutan sudah dihukum," ungkapnya.

Baca juga: Jelang Reuni 212, Polri: Tidak Ada Pergerakan Massa ke Jakarta

Humphrey yang pernah menjadi anggota tim kuasa hukum Ahok dalam perkara penistaan agama ini pun menyebut 212 bukan organisasi terlarang.

"Saya mau tanya lagi, 212 itu kan bukan organisasi terlarang. Coba kalau reuni mengenai, kalau mau yang paling enak disebut, reuni mungkin mengenai eks PKI, boleh gak? Gak boleh. Reuni jangan kan eks PKI, Reuni eks HTI saja sudah gak boleh," ujarnya.

Artinya, lanjut Humphrey, reuni 212 tidak menjadi masalah. Reuni pun tidak berniat melakukan hal-hal yang mengacaukan negeri ini. Humphrey menilai reuni diadakan tiap tahun itu untuk mengenang kembali gerakan yang muncul 3 tahun lalu.

"Begini, mungkin ada satu nilai yang bisa kita lihat di situ, yaitu kebersamaan sesama saudara muslim. Pada waktu dilakukan gerakan 212 pada 2 Desember itu juga menunjukkan satu nilai-nilai islami yang baik. Artinya pada waktu itu tidak ada kekacauan, padahal waktu itu sangat banyak sekali," tegasnya.

Ia juga memuji kelompok 212 yang saat itu menjaga lingkungan dan kebersihan. Menurutnya, hal itu akan menjadi nilai positif bagi citra demokrasi di Indonesia.

"Katanya juga tidak ada satu helai daun pun yang dicabut, mengenai kebersihan dan segala macam. Nah, kalau nilai-nilai itu yang dilihat kan nilai-nilai yang bagus. Boleh saja melakukan ungkapan kebebasan berpendapat, tapi kemarin dengan jumlah yang fantastis itu sudah menunjukkan orang Indonesia, khususnya umat Islam bisa berdemokrasi dengan aman," tukasnya.(OL-5)

 

BERITA TERKAIT