01 December 2019, 10:00 WIB

Mutiara yang Terpendam Masa lalu Kelam


Patna Budi Utami | Weekend

MI/Patna Budi Utami
 MI/Patna Budi Utami
Arena salah satu cabang olahraga Olimpiade Musim Dingin 1984.

ADA banyak hal yang dapat kita simak sembari menyusuri Sarajevo, ibu kota negeri yang kaya dengan sejarah, Bosnia dan Herzegovina. Menyaksikan sisa-sisa perang yang memorakporandakan kota itu sepanjang 1992-1995, menyambangi kota tua Bascarsija yang dipenuhi toko suvenir dan kedai kopi, hingga melintasi jembatan Latin Bridge, lokasi pembunuhan Pangeran Franz Ferdinand dari kerajaan Austria-Hungaria yang menjadi pemicu Perang Dunia I.

Agar dapat menikmati keindahan Kota Sarajevo secara keseluruhan, tidak ada salahnya kita menuju ke ketinggian. Yuk!

 

┼Żuta Tabija

Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk menyaksikan landmark-landmark kota itu ialah Yellow Fortress atau benteng kuning. Dalam bahasa Bosnia disebut ┼Żuta Tabija.

Hamparan bangunan yang memenuhi 'atap' Sarajevo dengan atap genting berwarna oranye kecokelatan menyuguhkan panorama indah karena hamparan itu terlihat berlekuk-lekuk mengikuti kontur tanah kota yang berbukit-bukit dikelilingi pegunungan. Sore hari merupakan waktu terbaik untuk berada di sana lantaran kecantikan Sarajevo semakin memukau ketika matahari menjelang tenggelam, menyemburkan warna jingga pada langit di atas kota.

MI/Patna Budi Utami

Benteng Kuning.

 

 

Yellow Fortress aslinya ialah benteng meriam yang dibangun antara tahun 1727 hingga 1739 di daerah yang disebut Jekovac, tepatnya dekat dengan Barak Jajce dan waduk air Jekovac. Benteng tersebut berfungsi sebagai pertahanan melawan pasukan Austria-Hungaria pada 1878.

Kini, benteng yang sempat rusak beberapa kali dan terakhir direnovasi pada 1998, itu, lebih populer sebagai salah satu spot untuk memandangi Kota Sarajevo sembari menikmati minuman hangat yang disajikan kafe yang ada di sana.

 

Bukit Trebevic

Di salah satu bukit tidak jauh dari Kota Sarajevo juga ada tempat menarik, tetapi kini kondisinya terbilang menyedihkan. Bukit Trebevic, yang selalu berselimut kabut, dulunya merupakan arena salah satu cabang olahraga Olimpiade Musim Dingin 1984, yakni cabang olahraga bobsleigh atau olahraga meluncur menggunakan kereta salju.

Saat Olimpiade Musim Dingin 1984 digelar, negeri tersebut masih bernama Yugoslavia. Kini, lintasan olahraga bobsleigh yang terbuat dari beton itu dalam kondisi terbengkalai. Bangunan yang berada di tengah hijaunya hutan dan dinginnya kabut Bukit Trebevic, bahkan nyaris hancur dan berubah menjadi sarana bagi para penyuka grafiti untuk mencoretkan warna-warni cat mereka.

Meski demikian, di sekitar arena itu berdiri hotel cantik dan selalu diselimuti kabut yang tetap didatangi para pelanggannya. Hotel berbintang empat sekaligus restoran dengan atap bangunan berbentuk beberapa kerucut itu bernama Pino Nature Hotel.

Bagi mereka yang enggan meninggalkan Trebevic melalui jalan yang meliuk-liuk, bisa memanfaatkan cable car atau kereta gantung dari Trebevic dan mendarat tidak jauh dari sekitar kota tua Bascarsija, Sarajevo.

 

Linden

Sekitar 300 meter dari batas pusat kota, masih di perbukitan, ada sebuah areal bernama Ambassadors Alley, atau gang para duta besar. Nama itu diberikan karena di sepanjang tepi kiri dan kanan jalan yang membentang di kawasan itu, terdapat deretan pohon linden yang ditanam oleh para duta besar yang bertugas di negeri itu. Setiap pohon diberi nama penananamnya, lengkap dengan tahun penanaman. Di sana pula terdapat pohon linden yang ditanam Dubes RI untuk Bosnia dan Herzegovina Amelia Achmad Yani periode 2016. Putri Jenderal Achmad Yani itu menanam pohon tersebut pada 2018.

MI/Patna Budi Utami

Ambassadors Alley.

 

Amelia mengaku bangga berkesempatan menanam pohon di Ambassadors Alley karena itu merupakan sebuah penghormatan bagi bangsa Indonesia. "Selain itu, penanaman pohon linden yang bunganya putih dan wangi di Ambassadors Aley sangat membanggakan karena nama Achmad Yani juga tergores di batu pualam di bawah pohon," ujarnya.

 

Goat's bridge

Tidak jauh dari Ambassadors Alley, di suatu bukit yang lebih tinggi terdapat situs bersejarah berupa jembatan yang terbuat dari batu-batu persegi berukuran besar. Namanya Kozija Cuprija atau goat's bridge alias jembatan kambing. Bentuknya yang kokoh dan cantik dan merentang di antara dua bukit, membuat siapa pun ingin mengambil gambarnya.   

"Jembatan ini disebut goat's bridge karena dahulu kala ukuran jembatan ini sangat kecil dan hanya bisa dilewati kambing," kata Kenan Bajrica, salah seorang warga Bosnia dan Herzegovina yang mengantar ke jembatan berwarna putih itu.

 

Mostar dan Blagaj

Kota lainnya yang selalu menjadi tujuan wisatawan untuk berkunjung ke salah satu negeri yang berada di Semenanjung Balkan di Eropa Selatan, itu, ialah Mostar. Ikon sekaligus pusat kota itu ialah Stari Most atau jembatan tua yang dibangun pada abad XVI. Jembatan itu merupakan buruan utama wisatawan yang berkunjung ke kota di wilayah administrasi Herzegovina tersebut.

Bentuknya yang melengkung setengah lingkaran dengan deretan gedung-gedung tua nan kokoh di dua ujungnya, membuat jembatan di atas Sungai Neretva itu terlihat sangat indah. Apalagi, nun jauh di latar belakang jembatan yang ikonik dan termasuk ke dalam Unesco World Heritage Site itu, membentang pegunungan cadas yang ditumbuhi semak hijau.

Mostar berjarak sekitar 160 kilometer dari Sarajevo dan bisa ditempuh melalui jalan darat sekitar dua jam. Meski lumayan jauh, perjalanan dijamin tidak akan membosankan. Sepanjang perjalanan, tersaji pemandangan cantik luar biasa berupa tebing-tebing cadas hasil pahatan alam, sungai dengan air berwarna hijau toska, serta melintasi sejumlah terowongan yang panjangnya hingga ratusan meter.

MI/Patna BudiUtami

Mostar.

 

Seperti umumnya tempat wisata, Mostar juga dipenuhi restoran dan toko suvenir. Demikian halnya dengan tempat wisata lain yang tidak jauh dari Mostar, yakni Blagaj.

Blagaj ialah sebuah desa yang memiliki sumber air Sungai Buna dan rumah sufi berusia 600 tahun. Rumah sufi tersebut berdiri tepat di hulu sumber air berwarna biru di bawah tebing batu yang sangat menawan. Di sekitar aliran sungai berdiri restoran-restoran yang selain menyediakan makanan nan lezat, juga menyuguhkan pemandangan cantik dan suasana menenangkan karena semua restoran menghadap sungai yang aliran airnya terdengar gemercik.

 

Srebrenica

Saat berkunjung ke Bosnia dan Herzegovina, jangan lupa untuk berziarah ke Srebrenica. Di kota kecil inilah terdapat Srebrenica Genocide Memorial atau pusat peringatan dan permakaman para korban pembantaian dalam peristiwa penyerangan Bosnia dan Herzegovina oleh pasukan Serbia pimpinan Jenderal Ratko Mladic pada Juli 1995.

MI/Patna Budi Utami

Srebrenica.

 

Peristiwa pembantaian paling keji di Eropa setelah Perang Dunia II itu menewaskan 8.372 orang laki-laki dewasa dan anak-anak dari etnik Bosnia muslim. Kini dari seluruh korban yang tewas telah diambil dari sejumlah kuburan massal, kemudian dimakamkan di Srebrenica Genocide Memorial, yang baru berjumlah 6.643 orang. (M-2)

 

BERITA TERKAIT