01 December 2019, 09:10 WIB

Mengevaluasi Arsitektur Indonesia


Fathurrozak | Weekend

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
 MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
Andra Matin (kanan) memperlihatkan karyanya kepada Bupati Banyuwangi Azwar Anas pada pembukaan pameran bertajuk 

SEBUAH bangunan berbentuk persegi yang dimodifikasi menjulang setinggi 30 meter, dikelilingi kolam, tampak dari kejauhan menyerupai tugu monumental. Tidak jauh dari bangunan itu, terletak perkebunan karet. Sekilas, mungkin mata kita akan mengira bahwa beton ekspos tanpa warna itu merupakan bangunan museum, alih-alih masjid.

Pemandangan itu sempat penulis saksikan tatkala berkunjung ke Kabupaten Tulang Bawang Barat pada tahun lalu. Masjid Baitus Shobur di kabupaten yang baru diresmikan pada 2008 sebagai pemekaran dari Tulang Bawang, Provinsi Lampung ini ialah karya arsitektural Andra Matin bersama studionya, andramatin.

Sebuah bangunan dengan karakter arsitektur yang memiliki ciri kuat, punya gagasan tegas, dan menjadi landmark bagi daerah tersebut. Kita mungkin juga menduga, mengapa ada jejak yang amat 'kontemporer' di pelosok daerah yang perlu menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam perjalanan darat dari Bandar Lampung. Andra, sebagai perancang memang bisa ditemukan kerap meninggalkan jejak karyanya di daerah-daerah di luar pusat urban. Andra jugalah yang mendesain tata asri bandara Banyuwangi, Jawa Timur. Jejak-jejak karyanya yang tersebar di berbagai kota atau daerah ini juga tersaji dalam pameran tunggal bertajuk Prihal: Arsitektur Andramatin di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

Mengerjakan proyek personal dan berbasis materialistik, tentu menjadi salah satu domain bagi arsitek yang lumrah dalam laku praktiknya. Namun, yang menarik ialah ketika para perancang tersebut mendesain tata bangunan yang bersinggungan dengan kebutuhan publik. Maka, menyimak pada seksi Prihal Kota yang Lainnya, dan Prihal Jakarta dalam pameran ini juga bisa menjadi medium kita melihat lebih dekat gagasan yang ditawarkan arsitek sebagai seniman dalam mendesain ruang-ruang yang kita jumpai dalam keseharian.

 

Bentuk lain

Selain pemenuhan dua fungsi elementer, yakni kukuh secara bangunan dan berfungsi baik, tentu kehadiran bangunan ialah sebagai cara membentuk kebudayaan yang diserap dari realitas sekitar dan wujud pemaknaannya dalam estetika bangunan. Maka, tafsir-tafsir dan gubahan dari sesuatu yang kerap dijadikan pakem, juga perlu ditawarkan. Masjid Tulang Bawang Barat, ialah salah satu contohnya. Ketika masjid ditafsirkan Andra Matin sebagai bentuk yang lain dan tidak melulu kubah. Kurator pameran Danny Wicaksono menyebut, ini sebagai cara untuk menempuh bangunan arsitektur memiliki pemaknaan pada manusia yang bersinggungan langsung.

"Saya rasa tidak ada yang salah. Dan saya mendukung. Kita perlu hal seperti itu. Perubahan merupakan hal yang kita perlukan, untuk membawa ke arah yang lebih baik. Dalam arsitektur, bisa memberikan makna pada orang yang berhubungan dengan arsitektur tersebut. Masyarakat Tubaba (Tulang Bawang Barat) bangga sekali dengan masjid mereka. Berfungsi dengan baik, punya estetika baru bagi kotanya," ungkap Danny ditemui pada hari pembukaan pameran arsitektur Prihal: Arsitektur Andramatin di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, (27/11).

 

Dalam perjalanan merancang bangun bersama studionya, Isranda Matin Ahmad demikian nama lengkapnya, melalui proses panjang. Dua dekade ia berkarya bersama studionya, Andramatin tentu membentuk pengalaman estetik untuk menghadirkan karya arsitektur. Perkembangan serta eksplorasi bentuk, penggunaan material yang juga menjadi elemen penting, ialah yang memupuk daya kreatif sang seniman.

"Melihat arsitektur Andra tentu tidak bisa dilihat dari sekadar bentuk. Jauh lebih penting ialah bagaimana sebuah bangunan bermakna. Bukan bentuknya, melainkan kehadiran program dan fungsi bangunan. Bentuk memang menjadi sesuatu yang bisa meningkatkan kualitas kota, ruang yang baik, indah, dan menggugah rasa, serta inspirasi. Selain itu, keberadaan bangunan dengan program fungsi yang bermakna bisa meningkatkan kualitas kehidupan, menjaga kebudayaan, dan memperlancar proses pendidikan, ialah hal yang lebih penting juga dalam arsitektur," lanjut Danny.

 

Eksplorasi arsitektur

Dengan memodifikasi bentuk-bentuk sudut 90 derajat, menjadi medium eksplorasi arsitektur yang tercipta bagi Aang, sapaan akrab Andra. "Sepanjang 20 tahun berkarya, tidak banyak yang tahu di balik itu, orang melihat dari hasil saja. Ada yang gagal dan jadinya jelek. Yang tidak pernah diungkap untuk melihat kenyataan di balik dunia arsitektur."

Di tengah keringnya diskursus arsitektur di Indonesia, pameran yang akan berlangsung hingga 11 Desember ini bisa kita maknai sebagai medium pemantik untuk melazimkan wacana dalam khazanah arsitektur di Indonesia.

"Tidak banyak dibicarakan mengenai arsitektur Indonesia, dengan ini mungkin juga akan memunculkan diskusi publik yang kritis. Ini saat yang baik untuk mengevaluasi arsitektur kita, bukan hanya sekadar melihat karya Andra Matin," papar Danny menutup pembicaraan. (Jek/M-4)

BERITA TERKAIT