01 December 2019, 08:50 WIB

Mengetengahkan Mereka yang Terpinggirkan


Furqon Ulya Himawan | Weekend

MI/Furqon Ulya Himawan
 MI/Furqon Ulya Himawan
egunjung sedang mengamati lukisan yang dipamerkan di Jogja National Museum dalam pameran karya seni Biennale Jogja Equator #5.

SUATU hari, sejumlah petani riang gembira. Mereka berkumpul di sawah, memakai caping dan baju ala kadarnya. Mereka terlihat sedang sibuk memanen padi yang warnanya kuning keemasan. Padi yang sudah mereka panen lalu diikat dan dikumpulkan di pematang sawah. Setelah terkumpul, ikatan padi itu diangkut menggunakan pedati yang ditarik dua ekor sapi melewati jalan setapak.

Dari kejauhan, sebuah gunung kukuh berdiri. Simpanan airnya mampu mengairi parit areal persawahan. Pohon-pohon tumbuh rindang di sekitarnya. Begitulah pemandangan panen padi pada suatu hari di areal persawahan yang terletak di kaki gunung. Gambaran itu memberi kesan bahagia, subur, dan makmur. Pas dengan istilah gemah ripah loh jinawi. Tapi sayangnya, itu hanya sebuah lukisan.

Lukisan itu berukuran sekira 79 cm x 150 cm. Terpajang di dinding di sebuah ruangan berukuran 5m x 7m. Konon, lukisan-lukisan itu diperdagangkan di pinggir jalan dan mafhum disebut lukisan girlan.

Nasirun, seniman lukis yang terkenal dengan kesederhanaannya, membelinya lalu meresponnya. Hasilnya, dia pajang di Jogja Nasional Museum (JNM) dalam hajat pameran seni Biennale Jogja Equator #5 bertajuk Do We Live in The Same Playground?

Di Biennale Jogja Equator #5 kali ini, Nasirun salah satu seniman lukis Yogyakarta ikut ambil bagian. Dia mengangkat narasi lukisan Sokaraja yang banyak diperdagangkan di pinggiran jalan daerah Sokaraja, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, hingga Bandung.

 

Umbul-umbul

Lukisan Sokaraja termasuk jenis lukisan yang biasanya dipajang sebagai dekorasi rumah. Biasanya, lukisan Sokaraja dijual di pinggir-pinggir jalan atau dipasarkan dari rumah ke rumah.

Kebanyakan, lukisan yang Nasirun beli menggambarkan tentang indahnya pemandangan dan suasana perdesaan seperti lukisan yang menggambarkan suasana panen padi. Di lukisan itu, Nasirun meresponsnya dengan menambahi umbul-umbul yang terpasang di pinggir jalan dan menambah suasana panen padi semakin semarak.

Nasirun memenuhi tembok di salah satu ruang pamer JNM dengan lukisan-lukisan Girlan yang sudah direspons. Ukurannya beragam. Judulnya, Mengangkat/Merespon yang Terpinggirkan. Nasirun juga menyertakan versi gambar aslinya sehingga bisa diketahui lukisan aslinya sebelum mendapat respon dari Nasirun.

Sebagai pelukis yang lahir dari daerah Cilacap, Nasirun merasa lukisan-lukisan Sokaraja adalah karya lukis penting dalam kepingan sejarah seni rupa Indonesia. Namun, lukisan yang mendapat sebutan girlan, tidak pernah mendapat perhatian.

Dalam keterangan karya Nasirun dijelaskan, saat ini, pelukis-pelukis Sokaraja semakin terdesak, lapak-lapak jualannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan semakin terpinggirkan.

Dari situlah, Nasirun ingin mengangkatnya dan mengajak kepada penikmat seni Biennale Jogja Equator #5 untuk melihat kembali salah satu kepingan penting dalam seni rupa Indonesia, lukisan Sokaraja: lukisan-lukisan Girlan yang sangat dekat dan paling dikenali masyarakat umum namun semakin terpinggirkan.

 

Merespons persoalan

Biennale Jogja Equator #5 berlangsung sejak 20 Oktober dan berakhir pada 30 November. Ada sekitar 52 seniman dari beberapa daerah di Indonesia dan senimanseniman luar negeri yang ikut berpartisipasi, seperti Malaysia, Vietnam, dan Laos. Pameran juga bukan hanya di JNM.

Dengan mengusung tajuk Do We Live in The Same Playground? Seniman yang terlibat merespons persoal an di sekitarnya yang selama ini terpinggirkan. Karya-karya mereka tak hanya dipajang di JNM, sejumlah karya juga ada yang dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, seperti karya kolektif Studio Malya berjudul Have You Heard it Lately.

Karya Studio Malya yang berada dalam sebuah ruangan berukuran sekitar 5mx7m. Dari luar tampak dua pintu, kanan dan kiri. Jika kita masuk melalui pintu kanan, kita akan menemukan sebuah ruangan dengan cahaya yang berpendar. Tepat di tengah terlihat sebuah telepon rumah berwarna merah. Sementara itu, di sekelilingnya bergelantungan 64 kaleng.

Meski di ruangan gelap, pengunjung bisa mendengarkan suara yang terus mengetuk-ketuk gendang telinga. Suara-suara itu keluar dari 64 kaleng yang bergelantungan. Jika mendengarkannya, akan muncul beragam suara, seperti sua ra kritikan, suara yang memberi masukan, dan suara-suara tangisan serta harapan.

 “Generasi masa kini sangat perlu mempelajari jejak bangsa ini di kurun waktu 1965. Supaya mereka mampu menjadi kekuatan penyelesaian nanti. Jadi sekarang belajarnya, mulai memahaminya, dan nanti pada saat menjadi dewan yang atau pengambil keputusan bisa mendorong keputusan lebih bijak,” begitu salah satu penggalan suara yang keluar dari kaleng.

Benar, seni instalasi karya Studio Malya itu bercerita tentang upaya rekonsiliasi korban kemanusiaan 65 yang sampai sekarang tidak kunjung usai. Mereka mewawancarai berbagai tokoh, pemuka agama, akademisi, generasi muda dan penyintas itu sendiri untuk bersuara tentang sejarah 1965 dan mengapa upaya rekonsiliasi tak selesai.

“Usianya pun beragam mulai dari 20-80 tahun,” kata Mega Nur, salah satu seniman yang ikut berkolaborasi dalam Studio Malya tentang jenjang usia siapa saja yang diwawancarai.

Ya, begitulah beberapa seniman yang terlibat dalam pagelaran Biennale Jogja Equator #5 bertajuk Do We Live in The Same Playground?, melihat, mendengar, dan merespons maka pinggiran, seperti Nasirun yang merespons Girlan dan Studio Malya yang merespons peristiwa 65. (M-4)

BERITA TERKAIT