01 December 2019, 08:40 WIB

Mbegegeg Ugeg-Ugeg


Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia | Weekend

MI/EBET
 MI/EBET
Wartawan Media Indonesia, Ono Sarwono 

KINI banyak pejabat dan elite di negeri ini yang mengawali pidato dengan menyampaikan gabungan salam agama-agama resmi di Indonesia. Biasanya diawali dengan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kemudian disambung berturut-turut dengan salam sejahtera, shalom, om swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan.

Salam demikian itu awalnya dipopulerkan Presiden Joko Widodo. Tentu, ini semata-amata diucapkan sebagai penghormatan atas realitas keberagaman warga yang memeluk agama berbeda-beda. Ini juga pengakuan kesetaraan semua pemeluk agama yang berbeda-beda di negeri ini.

Namun, salam demikian ini dikritisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Mereka mengimbau agar para pejabat atau siapa pun tidak mengucapkan salam pembuka dari semua agama karena hal itu berkaitan dengan keyakinan atau akidah agama tertentu.

Ilustrasi MI

 

Asma Sang Pencipta

Dalam dunia wayang, pengucapan salam juga beraneka ragam. Namun, perbedaan salam dalam seni pakeliran ini bukan karena perbedaan agama atau keyakinan tertentu. Ini karena lebih pada penggambaran akan derajat, posisi, status, atau karakter tokoh.

Dari sisi tutur, setiap ucapan salam memiliki kekhasan. Selain itu, setiap salam juga seperti sudah menjadi milik (trademark) pribadi setiap tokoh dan telah melekat pada diri masing-masing.

Ini semua merupakan kreasi para pujangga dan atau para dalang sejak dahulu kala. Secara substansi, meski salamnya berbeda-beda, pada dasarnya sama, mengagungkan keesaan Yang Mahakuasa. 

Misalnya Raja Kahyangan Bathara Guru, dalam setiap awal bicaranya selalu didahului dengan salam, misalnya, hong ajualadi sang hayu palungguhan ulun. Salam ini kurang lebih berarti dengan menyebut asma Sang Pencipta akan selamat kedudukanku.

Salam ini dimaksudkan bahwa kedudukannya sebagai pimpinan dewa di kahyangan merupakan kehendak-Nya. Untuk itu, dengan senantiasa ingat kepada Yang Mahakuasa, dirinya akan selalu mendapatkan rida-Nya.

Bathara Guru alias Manikmaya kadang juga menyampaikan salam lain, yakni astungkara sidham sekaring bawana langgeng. Maknanya, ini ungkapan untuk mengagungkan penguasa jagat raya.

Dewa elite lainnya, Narada, yang posisinya sebagai warangkanya Bathara Guru, memiliki ciri salam lain yang sangat menarik, di antaranya brekencong-brekencong pakpak pong buk bolong waru dhoyong ditegor uwong kali codhe sapa sing nggawe.

Salam dewa yang tinggal di Kahyangan Sidipengudal-udal itu sulit diartikan kata per katanya. Yang pasti, ungkapan itu juga untuk mengangungkan asma Sang Pencipta. Dari sisi seni, salam itu terdengar jenaka seiring dengan penampilan lucu Bathara Narada sendiri.

Lain lagi dengan Bathara Ismaya yang mengejawantah pada diri Semar Badranaya. Pamomong Pandawa yang bertempat tinggal di Dusun Klampisireng ini sering menyampaikan salam unik, yakni mbegegeg ugeg-ugeg sadulita hemel-hemel. Nuansa imajinasi salam itu sendiri seperti menggambarkan fisik Semar yang mbleneg, gemuk, bulat, dan pendek.

Mbegegeg itu artinya diam tidak bergerak, ugeg-ugeg berarti bergerak sedikit demi sedikit, hemel-hemel yang berarti makan, dan sakdulita memiliki arti sangat sedikit. Maknanya secara umum, jika ingin makan (hidup), jangan hanya diam, tetapi bergerak (bekerja)-lah, biar pun sedikit itu akan membawa keberkahan.

 

Salam Petruk

Salam yang lebih jenaka dan enak didengar seperti miliknya Begawan Durna. Paranpara Astina pada rezim Prabu Duryudana ini selalu mengucapkan salam, blegudhug monyor-monyor emprit gantil buntute kisa, lole-lole. Atau kadang-kadang, lole-lole soma lole soma rante, woh gembol monyor-monyor.

Secara etimologi, kalimat ini tidak mempunyai arti yang jelas atau sulit dicari maksudnya. Namun, dari sejumlah referensi, salam ini mengandung makna bahwa semua yang di dunia ini tidak ada yang abadi.

Para raja juga memiliki salam masing-masing. Misalnya, Raja Dwarawati Prabu Kresna. Dalam pakemnya para dalang kuna, ia menyampaikan salam, hong ilaheng bawana langgeng hyang suksma adilinuwih. Kalimat ini kurang lebih mempunyai makna bahwa manusia mesti patuh pada norma dan jangan sampai ada yang melanggar aturan agar ketentraman dunia terwujud dan terjaga selamanya.

Kresna sebagai titisan Bathara Wisnu, pantas mengucapkan kalimat ini karena ia merupakan tokoh penjaga kedamaian dunia. Dalam ceritanya, Bathara Wisnu ialah dewa penjaga perdamaian dan ketenteraman jagat.

Ini berbeda dengan kakak kandung Kresna, Baladewa, yang menjadi raja di Negara Mandura. Salamnya lebih singkat dan tegas, yakni Ya jagad dewa bathara ya jagad pramundita. Dalam konteksnya, ungkapan ini merupakan cetusan rasa terhadap keagungan Sang Pencipta.

Berbeda lagi dengan para petapa atau maharsi. Mereka pada umumnya menyampaikan ucapan di awal bicaranya dengan salam, hong mangarcana maya sidhi sekaring bawana langgeng. Ungkapan ini bermakna mengagungkan kebesaran dan kesempurnaan Sang Pencipta dunia abadi.

Dalam tataran rakyat biasa, dalam hal ini direpresentasikan para panakawan, juga memiliki salam yang khas. Misalnya, Petruk, ketika menghadap Prabu Yudistira di sitihinggil istana Amarta. Anak kedua Semar ini kerap sambil menyembah ia menghaturkan salam, amit-amit pasang aliman tabik tinebihna tulaksarik linuputna rubeda sapudhenda dhumawahna tawang-towang.

Secara singkat, makna salam ini ialah memohon agar dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik dan berharap jangan sampai dimasukkan ke hati bilamana ada perilaku dan ucapannya yang tidak berkenan.

 

Doa dan harapan

Dalam pergelaran wayang, setiap mendengar salam-salam seperti itu, penonton langsung mengerti atau paham siapa tokoh atau sosok yang sedang bicara. Sebaliknya, bila tokoh-tokoh tersebut tidak menyampaikan salam khasnya masing-masing, terasa tidak afdal. 

 

Ragam salam dalam dunia pekeliran ini contoh bahwa perbedaaan salam tidak ada masalah serta ini merupakan wujud keberagaman, bahkan itu juga suatu keindahan (seni). Meski berbeda, semua salam secara langsung maupun tidak langsung merupakan ungkapan tulus dari pelaku untuk mengagungkan asma Yang Mahakuasa.

Salam juga merupakan doa dan harapan akan kehidupan rahayu, terwujudnya tatanan dunia yang adil dan makmur serta perdamaian yang abadi. Jadi, setiap salam itu mulia adanya. (M-2)

 

BERITA TERKAIT