30 November 2019, 14:12 WIB

Pencemaran Parah Sungai Bengawan Solo Kian Parah


Akhmad Safuan | Nusantara

MI/ Akhmad Safuan
 MI/ Akhmad Safuan
Kondisi air Sungai Bengawan Solo yang tercemar kian mengkhawatirkan. 

PENCEMARAN Sungai Bengawan Solo telah mencapai titik tertinggi. Sungai yang dipuja dalam lagu ciptaan Gesang tersebut memiliki air yang beracun dan mematikan biota air. Selain aroma tidak sedap, air di Sungai Bengawan Solo berwarna hitam pekat dan banyak ikan mati ditemukan.

Aliran Sungai Bengawan Solo yang berhulu di Pegunungan Sewu, Wonogir, Jawa Tengah dan hilir di Gresik, Jawa Timur tidak seindah sebelumnya .Pencemaran yang parah telah menjadikan sungai tidak lagi dapat memberikan kehidupan warga sepanjang sungai itu.

Pembuangan limbah di daerah Surakarta seperti industri Ciu (alkohol), pewarna tekstil hingga pengolahan industri lain di sekitar Bengawan Solo diduga menjadi biang keladi terjadinya pencemaran.

Bahkan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Blora yang memanfaatkan aliran Bengawan Solo sebagai air baku terpaksa menghentikan operasionalnya karena pencemaran. Dampaknya, 12 ribu pelanggan PDAM tidak dapat lagi mendapat pasokan air bersih.

"Karena kondisi pencemaran Bengawan Solo cukup parah, 12 ribu pelanggan PDAM di delapan kecamatan di Blora tidak dapat lagi aliran air bersih," kata Kepala Bagian Teknik PDAM Blora Suyitno.

Menelusuri aliran Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Blora sepanjang sungai mengalir hanya melihat hamparan tanaman eceng gondok dan air berwarna hitam pekat.

Aroma tidak sedap menyeruak ketika semakin dekat, berbagai jenis ikan terlihat mati mengambang dan ada rasa gatal di kulit saat mencoba membasahi tangan.

Puluhan perahu nelayan hanya bersadar di dermaga sepanjang Bengawan Solo, aktivitas ratusan nelayan mencari ikan yang sebelumnya cukup ramai dari pagi hingga petang kini terhenti setelah sungai itu tercemar.

"Tidak ada ikan, warga juga tidak berani mengkonsumsi ikan karena takut keracunan," ujar Sukamdi,35, nelayan di Bengawan Solo di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora.

Warga sepanjang sungai lainnya juga tidak dapat lagi memanfaat sumur, karena juga telah tercemar dengan kondisi air berwarna hitam dan beraroma tidak sedap, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih terpaksa mencari ke lokasi cukup jauh.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora Dewi Tedjowati mengaku tidak berdaya menghadapi pencemaran di Bengawan Solo.

DLH Blora hanya mengambil bisa mengambil sampel air dan melakukan penelitian di laboraturium untuk mengetahui kadar pencemaran dan melaporkan ke atasan baik Bupati Blora maupjn DLH Provinsi Jawa Tengah.

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengambil tindakan karena pelaku pencemaran tidak di Blora tetapi dari daerah lain di hilir," kata Dewi Tedjowati.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pramowo secara terpisah mengaku sudah dapat berbagai laporan tentang pencemaran di Sungai Bengawan Solo.

Penelitian juga sudah dilakukan dari tingkat pencemaran, kadar air dan inventarisasi industeri yang telah melakukan pencemaran.

"aat ini sedang dilakukan langkah untuk mencari solusi mengatasi pencemaran itu," lanjut Ganjar Pranowo.

Beberapa perusahaan  yang membuang limbah ke Sungai Bengawan Solo, ujar Ganjar, juga telah dipanggil dan diperiksa terkait pencemaran, ada beberapa solusi sementara dari mulai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) hingga menetralisir air sungai sedang diupayakan. (AS/OL-09)

 

BERITA TERKAIT