30 November 2019, 08:05 WIB

Gairah Baru Super Bayern


Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo | Sepak Bola

Seno
 Seno
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo

TWEET Robert Lewandowski setelah menggunduli Red Star 6-0 di Liga Champions, Selasa lalu, terasa nakal. ‘Saya mengaku bahwa saya sekarang ke­tagihan mencetak gol’, tulis penyerang Polandia berusia 31 tahun itu. Tidak keliru kalau namanya kemudian dipelesetkan menjadi ­‘LewanGolski’.

Ujung tombak andalan Bayern Muenchen tersebut memang mencetak banyak sejarah hari itu. Ia hanya memerlukan waktu 14 menit dan 31 detik untuk menyumbangkan empat gol bagi klub raksasa sepak bola Jerman tersebut. Kalau satu golnya tidak dianulir VAR (video assistant referee), rekornya akan lebih cemerlang lagi.

Lewandowski pantas disejajarkan dengan Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo dalam urusan mencetak gol. Belum lagi Desember masuk, ia sudah mencetak 31 gol pada musim kompetisi kali ini. Di Bayern sendiri Lewandowski tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di ajang Liga Champions melewati legenda Gerd Mueller. Dengan empat gol tambahan Selasa lalu itu, ia sudah membukukan 46 gol bagi Die Rotten di ajang kompetisi juara-juara Liga Eropa.

Suburnya kembali Lewandowski merupakan berkah bagi Bayern. Klub raksasa itu sempat terpuruk ketika ditangani Nico Kovac. Puncaknya ketika mereka dipecundangi Eintracht Frankfurt 1-5. Tidak pernah Bayern kebobolan sebanyak itu dalam satu pertandingan. Tidak mengherankan bila Kovac langsung dipecat setelah kekalahan tersebut.

Mantan asisten pelatih ­nasional Jerman, Hans Dieter Flicks, kemudian ditunjuk sebagai pelatih sementara. Ia harus membangun kembali kebesaran Bayern yang sedang terpuruk. Kalau tidak bisa segera mengembalikan kepercayaan diri para pemain, Bayern bisa tenggelam.

Hansi benar-benar menghadapi ujian paling berat ketika diminta menggantikan Kovac. Bagaimana tidak? Laga pertama yang harus ia pimpin ialah menghadapi musuh bebuyutan, Borussia Dortmund.  Sementara itu, ia harus kehilangan semua andalan di jantung pertahanan, mulai Nicklas Sule dan Lucas Hernandez yang cedera, hingga Jerome Boateng yang terkena dua kali hukuman bermain karena mendapatkan kartu merah saat melawan Frankfurt.

Javi Martinez

Dalam situasi terjepit, beruntung Hansi memiliki Javi Martinez. Pemain asal Spanyol itu merupakan pembawa keberuntungan bagi Bayern. Setiap kali Martinez turun bermain, pasti klub asal Bavaria ini meraih kemenangan.

Persoalannya, Martinez selama ini bermain sebagai gelandang. Nyaris tidak pernah ia bermain sebagai centre back. Namun, Hansi tidak punya pilihan lain kecuali bereksperimen untuk me­nempatkan Martinez di jantung pertahanan dan berharap ‘keberuntungan Martinez’ akan datang.

Persoalan kedua ialah siapa yang akan mendampingi Martinez sebagai centre back? Ada memang Lukas Mai, tetapi ia pemain muda yang belum pernah diturunkan pada pertandingan dengan ketegangan tinggi. Eksperimen kedua yang diambil Hansi ialah menggeser bek kiri David Alaba menjadi centre back. Posisi bek kiri sendiri diberikan kepada pemain asal Kanada, Alphonso Davies.

Hansi benar-benar tegang dengan eksperimen yang ia lakukan. Terlebih lagi lawan yang harus dihadapi dalam debutnya sebagai pelatih ialah Dortmund yang penuh dengan pemain muda yang punya kecepatan.

Pada menit-menit awal memang terlihat sekali kecanggungan Martinez ataupun Alaba dalam mengambil posisi. Beruntung dengan pola 4-2-3-1 yang diterapkan, ia memiliki Joshua Kimmich dan Leon Goretzka yang mampu menjadi pelapis pertahanan. Di posisi bek kanan, Benjamin Pavard juga mampu tampil dengan performa terbaik seperti ketika ikut membawa Prancis memenangi Piala Dunia 2018.

Bayern kemudian tampil seperti sebuah mesin yang berputar kencang. Apalagi setelah Lewandowski mencetak gol pertama memanfaatkan umpan silang Pavard. Umpan dari kaki ke kaki mengalir sangat cepat. Apalagi Kingsley Koman begitu padu untuk bekerja sama dengan Davies mengoyak pertahanan kanan Dortmund, sementara Serge Gnabry beraksi bersama Pavard untuk membongkar pertahanan kiri lawan.

Thomas Mueller memainkan peran yang efektif sebagai motivator bagi rekan-rekannya. Gerakan-gerakannya dari lini kedua mampu membuyarkan konsentrasi Mats Hummel untuk tidak fokus mengawal Lewandowski. Gol pertama Bayern hasil dari aksi ­Mueller menarik perhatian lawan sehingga Lewandowski bisa begitu bebas menyundul bola umpan dari Pavard.

Hansi berhasil membuat Bayern jadi klub yang enak ditonton. Mereka tak hanya produktif mencetak gol, tapi juga kuat dalam ­bertahan.

Jumlah 16 gol yang dicetak di empat laga terakhir membuktikan Bayern telah menemukan kembali permainan terbaik mereka. Bayern tetap bisa memainkan irama yang sama ketika Boateng menggantikan Alaba, Coretin Tolisso menggantikan Goretzka, ataupun Philippe Coutinho menggantikan Koman saat menghadapi Red Star di Liga Champions. Semua pemain bisa saling mengisi sehingga tidak ada ruang bagi lawan untuk bisa mengeksploitasi kelemahan.

Menjamu Bayer

Permainan indah dan enak ditonton diharapkan bisa dinikmati saat Bayern menjamu Bayer Leverkusen ­dini hari nanti. Hansi bisa lebih tenang karena para pemain tahu permainan yang diharapkan. Ia pun ­mempunyai lebih banyak pilihan karena setidaknya Boateng sudah bisa dimainkan lagi sebagai centre back.

Memang tidak boleh ada sikap menganggap enteng lawan karena semua tim selalu punya motivasi berbeda saat menghadapi Die Rotten. Perasaan menjadi ‘David’ membuat mereka tampil dengan seluruh kekuat­an untuk bisa menaklukkan ‘sang Goliath’.

Meski kini berada di ­posisi 9 klasemen sementara, performa Bayer Leverkusen lambat tapi pasti semakin meningkat juga. Pelatih asal Belanda, Peter Bozs, mulai menemukan formasi terbaik setelah Bayer ditinggal para pemain bintang seperti Julian Brandt dan Javier ‘Chicharito’ Hernandez.

Dengan kiper Lukas ­Hrá­decký yang membuat sejarah besar membawa ­Finlandia lolos ke putaran final Piala Eropa 2020, gawang Bayer lebih kukuh. Kembalinya kapten kesebelasan, Lars Bender, membuat pertahanan Bayer lebih terjamin. Bersama saudara kembarnya, Sven Bender, Lars menjadi andalan.

Apalagi Bayer memiliki bintang baru, Jonathan Tah, yang akan mendampingi Sven menjaga jantung pertahanan. Tah sekarang menjadi pilihan pelatih nasional Joachim Loew untuk tampil di Piala Eropa 2020. Untuk bek kiri, Bayer memiliki pemain lincah asal Brasil, Wendell.

Seperti halnya Bayern, Bosz suka bermain dengan pola 4-2-3-1. Gelandang asal Cile Charles Aranguiz dan Kerem Demirbay menjadi pelapis pertama yang memotong aliran bola Bayern. Namun, mereka  harus bekerja keras terutama untuk mengawasi Pavard, Davies, atau Alaba yang sangat aktif menopang serangan.

Peran tiga gelandang menyerang Karim Bellarabi, Nadiem Amiri, dan Mousa Diaby sangat menentukan.  

Saat tertekan, mereka harus mampu memotong aliran bola dari kaki ke kaki yang begitu cepat dilakukan para pemain Die Rotten.

Bayer sangat berharap Kevin Volland bisa mencuri gol. Ketajaman memanfaatkan peluang merupakan kekuatan Volland. Hansi pantas memilih Alaba untuk mengantisipasi serangan balik lawan daripada Boateng yang kuat dalam bola atas, tetapi lamban untuk mengejar lawan.

Bertanding di Stadion Allianz membuat Bayern pantas percaya diri untuk melanjutkan tren kemenangan. Apabila mereka bisa mempertahankan gaya permainan sejak ditangani Hansi, bukan mustahil Die Rotten akan kembali berpesta gol, sekaligus kembali berada di puncak klasemen.

Bayer tidak pernah bisa menang ketika bertandang ke Stadion Allianz. Terakhir mereka bisa mengalahkan Die Rotten tujuh tahun lalu. Namun, Hansi tidak mau terlena dengan semua catatan statistik.

“Tugas saya ialah melakukan yang terbaik untuk Bayern. Ini adalah klub ketika saya masih aktif sebagai pemain dan kehormatan yang tinggi ketika sekarang dipercaya untuk menangani, meski saya tidak tahu sampai kapan kepercayaan ini akan diberikan,” ujar Hansi yang sudah mulai lebih rileks dan akrab berbincang dengan para pemain Die Rotten.

BERITA TERKAIT