29 November 2019, 09:29 WIB

Wakil Ketua MPR Rindu Keberagaman


Mathias S Brahmana | Politik dan Hukum

Istimewa
 Istimewa
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menyosialisasikan Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Joglo Sawah, Kudus, Jawa Tengah.

WAKIL Ketua MPR Lestari Moerdijat merindukan nasionalisme keberagaman yang dirajut para pejuang dalam meraih serta mempertahankan kemerdekaan bangsa dapat merasuk ke dalam diri generasi milineal.

Saat ini, ia melihat keberagaman dan kemajemukan yang mengikat anak bangsa dalam satu keutuhan selama berpuluh-puluh tahun, kini terang-terangan dipertentangkan orang-orang tertentu.

“Sikap demikian sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur yang diinginkan dan diperjuangkan para pendiri bangsa Indonesia. Itulah yang membuat saya terusik. Kita terganggu oleh sikap kelompok tertentu yang ingin menang sendiri,” tandas Lestari Moerdijat di Gedung MPR, Jumat (29/11).

Adanya larangan menyampaikan ucapan selamat di hari-hari besar keagamaan, maraknya sikap intoleran, dan politik identitas dalam kehidupan berbangsa, sangat mengusik hati perempuan yang pernah terlibat membebaskan sandera bersama sejumlah petinggi Partai NasDem dari sarang Abu Sayyaf, Filipina itu.

Baca juga: Usul Presiden Dipilih MPR Sulit Dilakukan

Di masa lalu, kata Mbak Rerie, sapaan Lestari Moerdijat, nasionalisme keberagaman nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga berbeda suku, agama, dan ras, saling menghargai dan menghormati. Hari-hari besar keagamaan bahkan sering dirayakan bersama dengan saling bersilaturahmi. Hidup terasa tenteram, damai dan tenang.

Rasa cinta akan kemajemukan hendaknya terus dirawat sesama anak bangsa Indonesia.

“Jangan malah terjadi sebaliknya, menjadi provokator, yang menuntun rakyat bersikap radikal,” cetusnya.

Menurut aktivis penyintas kanker itu, tindakan dan perilaku intoleran serta merebaknya politik identitas, selain tidak mengekspresikan nasionalisme keberagaman, juga mengubur sejarah bahwa bangsa ini terbentuk dan diperkuat keberagaman suku, etnis, dan agama.

Para pendiri bangsa telah mengajarkan dengan sangat gamblang tentang nasionalisme Indonesia yang cinta Tanah Air dengan segenap keberagamannya. Harus disadari bahwa pluralitas itu bukan hasil rekayasa, tetapi kodrat yang alami.

Benar bahwa ada mayoritas dan ada pula minoritas. Realitas sosial itu harus diterima tanpa harus mempertentangkannya.

“Mengingkari kemajemukan membawa konsekwensi terjadinya perpecahan bangsa,” paparnya.

Mbak Rerie mengingatkan para pendiri negara telah meletakkan fondasi berbangsa yang kuat melalui Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, yang diakui dunia internasional sebagai jati diri dan perekat luar biasa. Pilar-pilar itu secara ideologis maupun sosiologis menjamin keberagaman.

‘’Atas dasar empat pilar itu, setiap anak bangsa harus merasa nyaman dan terlindungi berada di seluruh pelosok Tanah Air. Siapa pun anak bangsa ini tidak boleh merasa terusik oleh adanya perbedaan yang melekat dalam dirinya dengan lingkungannya, seperti perbedaan etnis, suku, agama ataupun ras,’’ papar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem yang baru kembali dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dalam rangka mensosialisasikan Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Mbak Rerie yang juga konsisten dalam memperjuangkan pendidikan maupun pembelaan terhadap hak-hak perempuan menegaskan seseorang tidak boleh berubah identitas atau menjadi bunglon hanya karena merasa tidak nyaman berada di sebuah lingkungan.

Sebuah kelompok mayoritas, baik secara etnik maupun agama, tidak boleh merasa terganggu oleh kehadiran suatu kelompok yang berbeda etnik maupun agama.

Sikap yang luluh menerima perbedaan agar setiap orang merasa nyaman walaupun berbeda. Seperti itulah nasionalisme otentik tentang keberagaman.

Politisi Partai NasDem itu mendesak semua pihak agar terus menumbuhkembangkan nasionalisme keberagaman yang menjamin, menghormati dan menghargai adanya perbedaan. Tidak mesti ada penyeragaman yang justru dapat melahirkan pemaksaan sehingga berujung pada kekerasan karena masing-masing mempertahankan identitas.

Ibu empat anak itu merindukan setiap etnik dan kelompok terjamin dalam melakukan setiap aktivitasnya, bahkan wajib mengekspresikan rasa nasionalismenya dalam koridor Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Terakhir, Ketua Yayasan Sukma Bangsa yang memiliki sejumlah sekolah di Aceh tersebut, mempersilakan masing-masing etnis dan kelompok menyatakan perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah airnya.

“Nasionalisme bisa diekspresikan melalui bermacam-macam cara tanpa merusak tenun kebangsaan yang sudah terajut,” pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT