29 November 2019, 06:22 WIB

Korut Tembakkan Dua Proyektil di Hari Thanksgiving


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/KCNA VIA KNS
 AFP/KCNA VIA KNS
Gambar yang dirilis kantor berita Korea Utara KCNA pada Jumat (29/11) memperlihatkan uji coba penembakkan rudal.

KOREA Utara (Korut) menembakkan dua proyektil tidak dikenal, Kamis (28/11), hari libur Thanksgiving di Amerika Serikat (AS). Langkah itu datang ketika pembicaraan nuklir antara Pyongyang dan Washington menghadapi jalan buntu.

Proyektil itu ditembakkan ke arah timur dari Provinsi South Hamgyong dan jatuh di Laut Jepang, juga dikenal sebagai Laut Timur, kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS).

Mereka menambahkan peluncuran itu, yang terbaru dalam rangkaian oleh Pyongyang, dilakukan pada pukul 16:59 waktu setempat atau jam-jam awal di pantai timur AS, selama salah satu acara dan liburan tahunan terbesar 'Negeri Paman Sam'.

Aksi Pyongyang juga datang menjelang dua tahun peringatan pertama Korut untuk rudal balistik antarbenua Hwasong-15, yang menurut para analis mampu menjangkau seluruh daratan AS.

Pyongyang dilarang menembakkan rudal balistik di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB.

Baca juga: Polisi Hong Kong Geledah Kampus Universitas Politeknik Hong Kong

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan peluncuran pada Kamis (28/11) adalah yang terbaru dari serangkaian pelanggaran oleh negara paling tertutup di dunia itu.

"Peluncuran rudal balistik Korea Utara yang berulang kali merupakan penentangan serius terhadap tidak hanya negara kami tetapi juga masyarakat internasional," ujar Abe kepada wartawan di Tokyo.

Peluncuran itu datang setelah Pyongyang menembakkan apa yang disebutnya sistem peluncur roket ganda super besar bulan lalu dan JCS mengatakan perangkat terbaru itu dianggap dari jenis yang sama.

Perangkat-perangkat itu terbang 380 kilometer (236 mil) dan mencapai ketinggian maksimum 97 kilometer, JCS menambahkan.

Negosiasi nuklir antara AS dan Korut terhenti sejak KTT di Vietnam antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un, bubar pada Februari. Pyongyang menuntut Washington mengubah pendekatannya pada akhir tahun ini.

"Korea Utara tambah gelisah ketika tenggat waktu mendekat," kata Shin Beom-chul dari Asan Institute for Policy Studies.

"Itulah sebabnya mereka melakukan provokasi ini, yang merupakan pedoman umum Korea Utara untuk mendapatkan lebih banyak konsesi dari AS," tandasnya.

Korut berada di bawah beberapa rangkaian sanksi internasional atas senjata nuklir dan program rudal balistiknya. Penghapusan beberapa di antaranya adalah permintaan utama Pyongyang dalam pertemuan puncak di Vietnam. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT