29 November 2019, 07:15 WIB

Pascapembakaran Konsulat Iran, Irak Tewaskan 30 Demonstran


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/Haidar HAMDANI
 AFP/Haidar HAMDANI
Warga Irak mengangkut jenazah seorang demonstran yang tewas dalam bentrokan dengan polisi.

KOTA-KOTA yang dilanda protes di Irak menyaksikan salah satu hari paling berdarah, Kamis (28/11), ketika tindakan keras pemerintah menewaskan lebih dari 30 demonstran setelah pembakaran konsulat Iran.

Ibu kota dan selatan negara itu telah diguncang kerusuhan jalanan terburuk sejak invasi pimpinan Amerika Serikat (AS) pada 2003 yang menggulingkan Presiden Saddam Hussein.

Gerakan protes mengalamatkan kemarahan mereka pada pemerintah dan para pendukungnya di Iran.

Komisi Hak Asasi Manusia Irak mengatakan lebih dari 30 orang tewas, Kamis (28/11), ketika pasukan keamanan menggunakan kekuatan berlebihan untuk memecah demonstrasi, termasuk 25 di Kota Nasiriyah di daerah selatan.

Baca juga: Demonstran Irak Bakar Konsulat Iran di Najaf

Dua pengunjuk rasa lainnya tewas di Baghdad dan empat lainnya tewas di kota suci Syiah, Najaf, tempat para demonstran membakar konsulat Iran Rabu (27/11) malam.

Massa yang marah pada pengaruh politik Teheran di Irak menyerbu dan membakar misi Iran, berteriak "Kemenangan untuk Irak!" dan "Iran keluar!"

Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Irak Adel Abdel Mahdi, Kamis (28/11) pagi, memerintahkan kepala militer untuk mengerahkan kekuatan di beberapa provinsi yang bergolak demi mengembalikan keamanan dan memulihkan ketertiban.

Tetapi pada sore hari, setelah kematian hampir dua lusin demonstran di kota Nasiriyah, perdana menteri memecat seorang komandan, Jenderal Jamil Shummary.

Selain kematian, operasi militer juga menyebabkan lebih dari 200 orang terluka ketika pasukan keamanan mencoba membubarkan pengunjuk rasa dengan peluru tajam, kata petugas medis dan sumber keamanan.

Kekerasan pada Kamis (28/11) menyebabkan total korban tewas sejak awal Oktober menjadi lebih dari 380 orang, dengan lebih dari 15 ribu lainnya terluka, menurut angka AFP.

Petugas medis di Nasiriyah mengatakan mereka harus melakukan lebih dari 80 operasi penyelamatan jiwa di rumah sakit yang penuh korban.

Provinsi Dhi Qar, yang Nasiriyah adalah ibu kotanya, mengumumkan tiga hari berkabung ketika ribuan orang menghadiri prosesi pemakaman di sana menentang jam malam yang diumumkan sebelumnya pada hari itu.

"Kami tetap bertahan sampai rezim jatuh dan permintaan kami terpenuhi!" mereka berteriak.

Demonstran, yang dibubarkan pasukan keamanan, berkumpul kembali di kantor polisi utama Nasiriyah dan membakarnya.

Mereka kemudian mengepung markas militer utama ketika anggota bersenjata dari suku-suku kuat di daerah itu dikerahkan di sepanjang jalan raya utama untuk memblokade bala bantuan militer yang berusaha mencapai kota.

"Pemandangan dari Nasiriyah pagi ini lebih mirip zona perang daripada jalan-jalan dan jembatan kota," kata Lynn Maalouf dari kelompok hak asasi Amnesty International.

"Pertumpahan darah ini harus dihentikan sekarang," tandasnya. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT