29 November 2019, 03:30 WIB

Tengkes Ditarget Turun Jadi 14%


(Pra/Rif/Ata/H-3) | Humaniora

ANTARA FOTO/Puspa Perwita
 ANTARA FOTO/Puspa Perwita
Kunjungan Presiden bersama Jim Yong Kim tersebut untuk menunjukkan program pemerintah terkait penanganan stunting.  

PRESIDEN Joko Widodo menargetkan prevalensi stunting (tengkes) di Indonesia pada 2024 bisa ditekan hingga hanya 14%. Angka tersebut jauh lebih kecil dari angka yang ditetapkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebesar 19%.

"Dari Bappenas meminta target 19%. Saya tidak mau. Saya ngotot 14%. Angka-angka itu kalau dikerjakan terus bukan sesuatu yang sulit didapat. Tetapi memang perlu kerja keras dan fokus untuk mempertajam, menutup masalah yang harus kita kerjakan," ujar Jokowi di Jakarta, kemarin.

Angka stunting di Indonesia terus mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Pada 2014, prevalensi stunting sebesar 37%, turun menjadi 27% pada 2019.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga menilai proses pembelajaran pengasuhan pada anak tak kalah penting guna menekan angka stunting. "Pola asuh sangat penting. Misalnya, membawa anak secara rutin ke posyandu agar pertumbuhan anak dapat terpantau. Posyandu jadi ujung tombak pemantauan pertumbuhan anak," jelas Bintang di Bali, kemarin.

Bintang menambahkan, seluruh kementerian dan lembaga harus bersinergi untuk menekan angka stunting agar dapat mencapai target yang diminta Presiden Jokowi.

Dokter dan ahli gizi Tan Shot Yen mengungkapkan, dirinya optimistis angka tersebut dapat dicapai asal pemerintah memilih cara yang tepat. Ia menambahkan, cara yang kurang tepat dalam menurunkan stunting akan menimbulkan masalah baru seperti yang terjadi di Tiongkok.

"Angka stunting di Tiongkok turun dari 30% pada 1990-an menjadi 2%, namun menyisakan masalah baru yakni obesitas karena pemberian pangan industri berupa susu formula dan biskuit," jelasnya. Alih-alih, lanjut Tan Shot Yen, pemerintah Indonesia harus memberikan literasi tentang nutrisi bagi ibu hamil, ASI eksklusif, dan MPASI yang sehat. (Pra/Rif/Ata/H-3)

BERITA TERKAIT