28 November 2019, 22:00 WIB

Polisi Ungkap Tipu-Tipu Perumahan Syariah


MI | Megapolitan

ANTARA
 ANTARA
Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono

POLDA Metro Jaya mengungkap kasus penipuan promosi pembangunan rumah bermodus syariah tanpa bunga, kredit bank dan riba.

Sedikitnya, 270 orang menjadi korban penipuan dengan nilai kerugian hingga Rp23 miliar sejak 2015 lalu.

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengatakan modus operasinya tersangka menawarkan kepada masyarakat pembangunan perumahan syariah dilakukan kegiatan-kegiatan diantaranya, menunjukkan lokasi, melakukan ground breaking bahkan juga membuat rumah-rumah contoh untuk meyakinkan pada korbannya.

Lantaran tertarik dengan penawaran tersangka, para korban pun mentransfer sejumlah uang melalui bank syariah. Kepada polisi, tersangka mengaku menggunakan uang transfer dari korban untuk pembebasan lahan di lima lokasi perumahan.

“Kenapa masyarakat menjadi tertarik jadi mereka menyampaikan bahwa ini pembangunan perumahan syariah yang dijanjikan tidak ada bunga, kredit bank kemudian tidak ada yang namanya riba, tidak ada checking bank inilah yang membuat menarik masyarakat untuk mengambil perumahan-perumahan tersebut,” kata Gatot di Mapolda Metro Jaya, Kamis (28/11).

Untuk lebih lebih meyakinkan korbannya, para tersangka membuat sejumlah contoh properti yang ditawarkan yakni Perumahan de Alexandra di kabupaten Bogor, perumahan The New Alexandra di Bojong Gede, Bogor; Perumahan Cordova di Cikarang; Perumahan Hagia Sophia di Bandung Timur dan Perumahan Pesona Darussalam di Lampung.

“Tapi faktanya sampai dengan sekarang perumahan tersebut belum ada yang dibangun bahkan mereka lari,” terangnya.

Berdasarkan laporan masyarakat dari 270 masyarakat ada sekitar 41 orang yang melaporkan kepada metro Jaya pada 7-8 November 2019. Kata Gatot, pihaknya melakukan penyelidikan hingga berhasil menangkap para pelaku penipuan tersebut.

Polisi meringkus empat tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah AD selaku Dirut PT ARM Cipta Mulia, MAA selaku Project Manager atau Marketing, MMD selaku Executive Project Manager atau Marketing, serta SM selaku General Manager.

“Sekarang pelaku ini kita tangani ada 4 orang pelaku yang sudah kita tangani, yakni tersangka AD sebagai pemilik proyek dan tiga lagi sebagai marketing. Mereka ini tahu bahwa tidak ada izinnya juga tahu lahan tersebut belum dibebaskan dan lain sebagainya,” sebutnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal penipuan dan penggelapan. Bahkan disangkakan pasal Tindak pidana pencucian uang (TPPU) lantaran ada sejumlah perumahan yang diduga dibangun dari uang hasil kejahatan tersebut.

“Jadi uang itu aliran dananya itu digunakan untuk kelima perumahan itu kita sedang melakukan penyidikan diantaranya digunakan dari pemeriksaannya DP pembebasan lahan land clearing pengurusan izin komisi marketing freelance gaji karyawan pembuatan rumah contoh dan lain sebagainya ini yang mereka gunakan,” lanjutnya.

Dari tangan para tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya brosur penjualan, bukti pembayaran para korban, dan buku tabungan.
Polisi pun kesulitan menyita lahan yang dipakai oleh para pelaku untuk membangun rumah-rumah contoh tersebut karena rumah-rumah itu dibangun di atas lahan orang lain.

Gatot mengimbau kepada seluruh masyarakat karena kasus-kasus terkait dengan perumahan fiktif dan apartemen fiktif telah banyak ditangani oleh Polda Metro Jaya. Oleh karena itu, ia berharap masyarakat lebih waspada dan teliti dalam melakukan transaksi tersebut.

“Kalau membeli cek betul tanyakan betul status tanahnya dan lain sebagainya perlu adanya pengecekan sehingga masyarakat tidak menjadi korban-korban berikutnya,” pungkas Gatot. (Fer/J-1)

BERITA TERKAIT