28 November 2019, 17:13 WIB

Kawasan Perumahan Harus Ada Lubang Biopori


Yose Hendra | Nusantara

Antara
 Antara
Untuk mencegah kekeringan dan banjir, setiap perumahan di Pesisir Selatan, Sumbar harus membuat lubang biopori.

PEMKAB Pesisir Selatan (Pessel) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengeluarkan imbauan kepada masyarakat yang tinggal dipemukiman padat penduduk atau kawasan perumahan, agar membuat lubang biopori. Upaya itu bertujuan untuk menjaga keseimbangan air tanah, agar terhindar dari ancaman kekeringan terutama di saat memasuki musim kemarau.

Kepala DLH Pessel, Jumsu Trisno mengatakan lubang biopori selain berfungsi sebagai serapan air ketika musim hujan, juga bisa sebagai penyimpanan atau cadangan air. Termasuk juga sebagai media pengisap sisa  limbah buangan rumah tangga jenis organik.

"Kehadiran lubang biopori pada kawasan padat penduduk atau kawasan perumahan, bisa dijadikan sebagai tempat cadangan air di saat musim kemarau. Sebab di saat musim hujan, lubang biopori memiliki fungsi sebagai serapan air dan mengatasi banjir, serta juga sebagai media penghisap limbah buangan rumah tangga. Masyarakat diminta agar mengembangkan program lubang biopori ini pada kawasan-kawasan perumahan," ujar Jumsu, Kamis (28/11/2019).

Dia juga menjelaskan bahwa biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Bahkan biopori memiliki fungsi yang  sangat besar dalam menjaga keseimbangan.

"Di antaranya, memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah, membuat kompos alami dari sampah organik dari pada dibakar, mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit, mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut. Termasuk mengurangi risiko banjir dan longsor," ungkapnya.

Dijelaskanya, cara membuat lubang biopori tersebut adalah dengan menggali lubang secara vertikal dengan diameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah. Jarak antara lubang satu dengan yang lainya 50-100 cm, mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.

Selanjutnya lobang di isi dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau dari sisa pangkasan rumput.

baca juga: Dana Desa di Jawa Barat masih Disalurkan Untuk Infrastruktur

"Penambahan sampah organik ke dalam lubang yang telah berkurang, juga perlu dilakukan. Hal itu memang akibat dari penyusutan dan proses pelapukan. Nah kompos yang sudah terbantuk dalam lubang itu, dapat diambil setiap akhir musim kemarau. Pengambilan kompos itu sekaligus bertujuan untuk pemeliharaan terhadap lobang resapan tersebut," terangnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT