28 November 2019, 16:54 WIB

Agnez Mo Sang Kreator


Kennorton Hutasoit Jurnalis Metro TV - Lulusan Magister Ilmu Komunikasi Mercu Buana Jakarta | Opini

Dok Pribadi
 Dok Pribadi
Jurnalis Metro TV Kennorton Hutasoit 

SALUT!  Itu komentar saya bagi Anda yang mengomentari kutipan pernyataan Agnes Monica “Cause I actually don’t have Indonesian blood whatsoever.”  Ada komentar yang mengkritik dan ada juga yang mendukung selebritas yang kini kerap disapa Agnez Mo.  

Bagi saya itu sah-sah saja. Saya meminjam pemikiran Michel Foucault bahwa yang paling penting adalah berpartisipasi dalam pengetahuan (episteme), sebab tidak ada kebenaran yang mutlak. Bagi dia knowledge/power bahwa pengetahuan itu sendiri adalah kekuasaan. Jika dikaitkan dengan tentang istilah “Indonesia blood” maka episteme mana yang benar, adalah episteme yang paling diyakini.

Agnez Mo: Yaa, Cause I actually don’t have Indonesian blood whatsoever. Cause I’m actually german, japanese, chinese, I was just born in Indonesia. I’m also Christian, which is in Indonesia the majority there moslem. I’ve always been kind of you know. I’m not going to say that I felt like I don’t belong there, because I always feel like the people accepted me for who I was but there’s always that sense that ughhh I’m not like everybody else...”

Begitulah transkrip dari potongan video wawancara Agnez Mo dengan presenter Kevan Kenney dalam tulisan Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo yang dimuat di kolom opini mediaiIndonesia.com Jernih Melihat Agnez Mo Serta Tugas Wishnutama.

Poin yang dipersoalkan dalam permbicangan yang dimuat di media baik media mainstream maupun new media (portal berita dan media sosial) adalah tentang “Cause I actually don’t have Indonesian blood whatsoever.”  

Ujaran para netizen yang berisi pro dan kontra pun tampil di layer televisi menjadi visual insert ketika berdialog tentang pernyataan Agnez Mo yang dianggap kontroversial.

Agnez Mo pun menanggapi polemik pernyataannya di akun instagramnya @agnezmo yang mempertanyakan kenapa tidak memotong dan mengedit bagian video yang diunggahnya di akun instagramnya. Ia malu pada orang yang hanya ingin menyebarkan kebencian dengan memutarbalikkan kata-kata dan niatnya. Menurutnya, semua yang ia katakan adalah hal-hal yang baik tentang keberagaman di Indonesia. Ia mengatakan:  “Saya tidak bisa memilih darah atau DNA saya, tetapi saya selalu BERDIRI untuk negara saya, saya SELALU MEMILIKI, dan TIDAK ADA yang bisa mengambilnya dari saya. Belajarlah untuk menonton semuanya alih-alih mengeluarkan hal-hal di luar konteks.”

Agnez Mo juga menyampaikan ungkapan rasa cinta dan maaf baik kepada pendukungnya maupun kepada orang-orang yang ingin salah paham serta tidak punya dendam atau kemarahan terhadap pemotongan pernyataan dia yang menjadi polemik. Berikut ini kutipan lengkap dari Instagram @agnezmo:

"Why dont you cut and edit this part? Shame on people who only want to spread hatred by twisting my words and my intention. ? All i said were good things, that even when I’m a MINORITY, i got to share this amazing diversity that i learn in my country. I have always shared that in ALL my interviews (national and international). I can’t choose my blood or my DNA, but I always STAND for my country, I ALWAYS HAVE, and NOBODY could take that away from me. Learn to watch the whole thing instead of taking things out of context. For people who support me, i love you. For people who want to misunderstand me, i love you and i forgive you. Believe me, i dont have a single ounce of grudge or anger towards you. For all the clout chasers, I pray for you so you could find peace in ur heart #TheBibleTellsMeSo My heart is full. No matter what you say, #Indonesia represent. #AGNEZMO Love & Forgive. Hingga Kamis siang pukul 13.08 jumlah tayangan Instagram @agnezmo mencapai 2,8 juta views.

Kalimat “Cause I actually don’t have Indonesian blood whatsoever” telah dijelaskan Agnez Mo bahwa yang dimaksudnya adalah  “Saya tidak bisa memilih darah atau DNA saya, tetapi saya selalu BERDIRI untuk negara saya, saya SELALU MEMILIKI, dan TIDAK ADA yang bisa mengambilnya dari saya.”

Saya meminjam pemikiran Thomas Aquinas tentang kebenaran untuk membedah pernyataan Agnez Mo. Aquinas mengungkapkan tiga pengertian kebenaran yaitu: 1) suatu artefak (barang buatan manusia) disebut benar bila sesuai dengan model atau ideal dengan yang ada dalam pikiran si manusia pembuatnya; 2) benda-benda natural dikatakan benar karena sesuai dengan ideal atau model yang ada dalam pikiran Sang Pencipta alam semesta; 3) kata-kata dikatakan sebagai benar bila sesuai dengan apa yang diyakini/dipercaya oleh si pembicara atau si penulis. Bila seseorang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya diyakininya, maka kataka-takanya tersebut tidak benar atau dengan kata lain ia sedang berbohong. Singkat kata kebenaran menurut Aquinas adalah: 1) kebenaran praktis; 2) kebenaran ontologis, dan 3) kebenaran moral.

Poin penting yang diambil dari kebenaran menurut Aquinas adalah poin ketiga. Mengacu pada kebenaran Aquinas poin ketiga ini, Agnez Mo benar bukan darah Indonesia, melainkan darah Jerman, Jepang, dan Tiongkok. Pernyataan ini benar adanya, Agnez Mo tidak berbohong. Dalam poin kebenaran moral, Agnez Mo tidak bermasalah.  

Lalu apakah ada yang salah dalam pernyataan ini? Menurut pemikiran Aquinas kebenaran itu tergantung pada intelek itu  yaitu intelek si pembuat/pencipta dalam hal ini Agnez Mo sebagai orang yang menyampaikan pernyataan. Jika mengacu pada poin itu, Agnez Mo sudah menjelaskan ia tidak bisa memilih darah atau DNA-nya, tetapi ia selalu  berdiri untuk negaranya. Sampai di sini sudah jelas, bahwa tuduhan “durhaka” atau apa pun itu adalah kata-kata yang berlainan dengan makna dan kebenaran menurut Agnez Mo sebagai si pencipta pernyataan.

Lalu apa yang menjadi masalah? Masalahnya banyaknya komentar yang terfasilitasi di era komunikasi digital new media.  Menurut David Holmes (2012), interaktivitas menjadi ciri khusus di era new media ini. Semua yang bisa mengakses internet, bisa berkomentar apa saja dan tentu berdasarkan keinginan dan selera pelaku komunikasi digital itu sendiri. Jimly Asshiddiqie dalam akun twitter @JimlyAS berkomentar: “Kebencian& dengki berbasis SARA memang bikin susah” itu komentarnya terhadap polemik pernayataan Agnes Mo.

Bagaimana pula kalau dipandang dari etika berkomunikasi? Menurut Nico Gara (1994) Hakikat dan misi pokok dari komunikasi adalah martabat manusia. Komunikasi sejati menghargai martabat manusia. Karena itu komunikasi seharusnya menghargai hakikat dan hak setiap insan untuk berkomunikasi. Ini berarti bahwa komunikasi hendaknya membebaskan dan memampukan setiap orang untuk mengungkapkan kebutuhan mereka dan menolong mereka untuk bertindak bersama guna memenuhi kebutuhan mereka.

Menurut Ellie Williams (2013) setiap orang mempunyai kode etik perorangan, kode etik perorangan inilah yang menentukan bagamana pandangan individu tentang hal benar dan salah terhadap suatu masalah dan sudah tentu akan mempengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi, membangun relasi dan berkomunikasi antarpersonal dengan orang lain. Etika pribadi sangat bergantung dari latar belakang seseorang dan hubungan orang itu dengan masalah kehidupan, termasuk berkaitan dengan kepedulian seseorang terhadap suatu masalah.

Kode etik perorangan ini pula yang memperlihatkan sejauh mana seseorang itu memiliki tanggung jawab etis yang merupakan bagian dari perekat yang dipegang bersama-sama oleh suatu masyarakat. Bicara tentang etik ini tidak terlepas dari prinsip-prinsip moral dasar. Bagi Franz Magnis-Suseno (1987) moral dasar adalah prinsip sikap baik, prinsip keadilan, dan prinsip hormat pada diri sendiri. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa prinsip keadilan dan hormat pada diri sendiri merupakan syarat pelaksanaan sikap baik, sedangkan sikap baik menjadi dasar mengapa seseorang bersedia untuk bersikap adil.

Mengacu pada tiga poin moral, tentang sikap baik, selama ini Agnez Mo menunjukkan sikap baik sebagai manusia yang menggeluti dunia musik menghasilkan karya-karya yang bisa menghibur dan menginspirasi banyak orang. Tentang, prinsip keadilan, ia mengungkapkan sekalipun dia minoritas, tapi dia mendapat tempat untuk meraih sukses di Indonesia. Tentang prinsip menghormati diri sendiri, Agnez Mo orang yang menempatkan dirinya sebagai manusia yang bermartabat yang tampil di berbagai ajang musik bergengsi dengan membawa identitas bangsa Indonesia degan simbol tari atau busana.

Poin penting dari polemik pernyataan Agnez Mo adalah sebagai berikut. Pertama, polemik darah Indonesia atau bukan darah Indonesia bisa menjadi kajian atau diskursus tanpa harus disertai unsur-unsur kebencian berbasis SARA. Kedua, jika mengacu pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat, segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia mendapat perlindungan. Artinya yang berdarah Indonesia atau yang tidak berdarah Indonesia kalau sudah menjadi bangsa Indonesia berhak mendapat perlindungan. Ketiga, di era komunikasi digital yang serba cepat dan semua orang bisa menjadi pelaku komunikasi agar terus membangun komunikasi yang bermartabat. (OL-4)

BERITA TERKAIT