28 November 2019, 16:45 WIB

Perlunya Representasi Diversitas di AMI Awards


Fathurrozak | Weekend

MI/ Fathurrozak
 MI/ Fathurrozak
Kunto Aji lewat Mantra Mantranya berhasil menyabet kategori Album Terbaik Terbaik di AMI Awards 2019..

AJANG penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards telah mencapai usia ke-22 tahun ini. Pada AMI Awards 2019 ini Kunto Aji meraih penghargaan Album Terbaik Terbaik.

Sementara, Yovie Widianto bersama Tulus dan Glenn Fredly meraih Karya Produksi Kolaborasi Terbaik lewat Adu Rayu. Andmesh Kamaleng melalui Cinta Lua Biasa-nya memboyong Penyanyi Solo Pria Pop Terbaik. Di kategori Penyanyi Solo Wanita Pop Terbaik, penghargaan jatuh ke Bunga Citra Lestari lewat aransemen Harta Berharga yang menjadi ost. Keluarga Cemara.

Deretan juara itu cukup menunjukkan jika AMI Awards telah mengakomodasi berbagai ragam jenis musik dan memasukkan musisi di luar arus utama. Meski begitu, sebagian musisi menilai bahwa di tahun mendatang, akomodasi itu perlu lebih luas.

Ini diungkapkan oleh Ramengvrl, rapper yang meraih penghargaan Karya Produksi Rap/Hip Hop Terbaik lewat Ca$hmere. Bagi perempuan yang tenar dengan lagu I'm Da Man ini, AMI Awards bisa menjadi pemantik dampak dan ruang untuk menghadirkan representasi yang beragam.

"Kalau gue, ini bukan benchmark atau segala macem. In term of making an impact, di hip hopnya sendiri ini penting. Buat karier gue mungkin enggak penting. Namun di hip hopnya, orang jadi tahu dengan adanya nominasi ini tiap tahun. Specially for female. Buat di skena rapper female, mereka jadi tahu," tuturnya saat ditemui seusai menerima penghargaan, di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Rabu, (27/11).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan jika dampak AMI Awards bisa memberi inspirasi bagi musisi generasi baru di genre-genre tersebut. "Gue yang bukan siapa-siapa tadinya, lahir di Jakarta Timur, kalau gue bisa kenapa enggak? Jadi AMI Awards sebenarnya bisa menimbulkan impact dan sebagai ruang untuk representasi," tambahnya.

Saat ini, ia memang melihat dikotomi antara jalur musik mainstream dan sidestream sudah membaur. "Cuma belum ideal. We're going there."

Salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk mencapai titik ideal itu, menurutnya, dengan memperbanyak nominasi dan daftar nominee. Ramengvrl melihat masih banyak nominasi yang diramaikan oleh musisi atau produksi label. Ia merasa perlu bagi AMI Awards untuk juga lebih memberikan ruang lebih luas lagi untuk karya-karya non-label.

Kolam yang semakin bercampur

Menanggapi dikotomi antara arus utama dan arus pinggir, Kunto Aji menganggap kini sudah semakin berbaur, sama seperti yang diungkap Ramengvrl, meski belum ideal. Aji menyebut saat ini, musisi bisa berada di kolam mana pun, tergantung karya yang dibuat.

"Yang jelas sekarang sebenarnya makin nyampur kolamnya. Siapa pun bisa loncat kemana pun tergantung karyanya ketika dibawa ke kolam mana aja bisa. Asal bikinnya into the music dalam artian positif, orang akan terima," ungkapnya saat ditemui usai gelaran AMI Awards, Kamis dinihari, (28/11).

Saat ditanya mengenai apakah AMI Awards sudah cukup ideal dalam perjalanannya memberikan penghargaan kepada musisi dan karya musik, Aji menganggap sudah cukup ideal. Meski, ia juga senada dengan Ramengvrl yang mengungkapkan terkait ketersediaan ruang bagi karya dan musisi yang berada di luar jangkauan jaring industri. (M-1)

BERITA TERKAIT