28 November 2019, 10:06 WIB

Soal Hotel, Radhar: Tidak ada Komersialisasi Apapun di Tanah TIM


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

MI/Panca Syurkani
 MI/Panca Syurkani
Seniman Radhar Panca Dahana (kiri) membaca puisi pada pementasan puisi teatrikal bertajuk "Indonesia Dalam 3,"

PERWAKILAN Seniman Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diketuai Radhar Panca Dahana menolak keras pembangunan hotel berbintang di dalam pusat kebudayaan tersebut. Mereka menentang fasilitas yang ada di TIM dibuat menjadi komersial.

"Kami minta seluruh proyek yang ada dimoratorium. Tidak ada komersialisasi apapun di tanah TIM. Mau bentuknya hotel, toko, supermarket, terserah yang penting enggak komersial. Hotel itu ya mereka profit oriented, nyari keuntungan. Ya enggak bisa dong," kata Radar di Gedung DPRD DKI, Rabu (27/11).

Radhar mengungkapkan sedari awal pihaknya menentang revitalisasi TIM itu. Ia mengatakan pihak Jakpro belum melakukan sosialisasi atas rencana pembangunan hotel berbintang tersebut.

"Ya iyalah (ditentang oleh seniman), kami kan enggak setuju. Jadi dia (Jakpro) tuh udah presentasi pakai gambar-gambar dan lain-lain, bicara seolah-olah mereka sudah konfirmasi dengan kita. Padahal kita menentang saat itu. Mereka mengubah-ubah istilah dari hotel jadi wisma," ucap Radhar.

Baca juga: Wisma TIM Dipastikan Halangi Teleskop Planetarium

Lebih lanjut, Radhar menanggapi soal pernyataan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Danton Sihombing yang menerima pembangunan hotel itu namun harus mengandung unsur seni. Seniman TIM merasa apa yang disampaikan DKJ tidak mewakili aspirasi mereka.

"Urusan DKJ lain lagi sama kita. Itu pilihan dari kelompok tertentu bukan pilihan daripada seniman. Seniman ada ribuan di sini. DKJ berapa orang? Kita kan enggak tahu. Tiba-tiba muncul nama yang enggak jelas, senior saja pada enggak mengerti itu siapa," tutur Radhar.(OL-5)

BERITA TERKAIT