28 November 2019, 08:25 WIB

Target Pertumbuhan tidak Tercapai


M Ilham RA | Ekonomi

Dok Kemenkeu/Medcom.id
 Dok Kemenkeu/Medcom.id
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara

WAKIL Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah memproyeksikan perekonomian Indonesia akan mengalami pertumbuhan hingga 5,05% pada akhir 2019 ini.

"Apa saja kami pikirkan sebagai langkah untuk menggiring perekonomian jadi lebih baik. Saya mau memulai seperti biasa dengan kondisi dunia," ujarnya dalam acara the 3rd Consumer Banking Forum Arah dan Tantangan Perekonomian Indonesia di Jakarta, kemarin.

Proyeksi yang disampaikannya itu lebih rendah daripada yang pernah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mul-yani pada Agustus 2019.

Saat itu, Sri memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,08% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2019 atau lebih rendah daripada asumsi pemerintah sebelumnya sebesar 5,2%.

"Total untuk 2019, pertumbuhan kami proyeksikan jadi 5,08% (yoy) atau mendekati 5,1%. Proyeksi masih di 5,2%, tapi secara internal kami lihat di 5,08%," ujar Sri kala itu.

Suahasil menuturkan, turunnya proyeksi itu berdasarkan ekspektasi dari pertumbuhan ekonomi global yang semakin menurun, diperkirakan hanya akan tumbuh 3% pada tahun ini atau di bawah perkiraan awal, yakni 3,7%.

Selain itu, volume perdagangan dunia yang tumbuh lebih lambat, dari 3,6% pada 2018 dan 5,5% pada 2017, juga menjadi faktor Kemenkeu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05% tersebut.

"Bukan hanya perekonomian dunia, volume perdagangan global 2019 ini juga diproyeksikan rendah, hanya tumbuh 1,1%. Artinya ekspor dan impor dunia melemah," ujarnya.

Ia menyebutkan berbagai krisis dan perlemahan global telah memengaruhi sektor penunjang pertumbuhan ekonomi Tanah Air meski Indonesia lebih banyak ditopang oleh adanya konsumsi domestik.

Tahun depan membaik

Untuk tahun depan, ekonom dari Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, menyebutkan pertumbuhan ekonomi bakal berada di kisaran 5,1%. Angka sedikit tumbuh itu didapat berdasarkan pengamatannya atas meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Selain itu, geliat investor masuk Indonesia juga sudah mulai terlihat meski tidak terlalu signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

"Kalau dihitung-hitung, saya bilang paling kita 5,1%. Kalau damai perang dagangnya, ya bisa 5,2%," kata Ari, kemarin.

Ia mengaku tak sepakat dengan prediksi yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka 4,8% - 4,9%. Baginya, prediksi tersebut terlalu pesimistis dan terlalu rendah.

"Saya enggak setuju kalau 4,9% karena itu terjadi di 2014, saat itu komoditas turun. Waktu itu sedang me-rangkak naik, tapi karena ada perang dagang di 2017, dia turun lagi," jelas Ari.

Kondisi di 2014 itu, sambungnya, tidak bisa disamaratakan dengan kondisi perekonomian saat ini sebab Indonesia memiliki potensi yang cukup baik di 2020, yang dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang baik pula dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Terlebih bila prediksi meredanya perang dagang antara 'Negeri Paman Sam' dan 'Negeri Tirai Bambu' terjadi, tingkat ekspor Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkat pesat. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT