28 November 2019, 08:45 WIB

Wisma TIM Dipastikan Halangi Teleskop Planetarium


Ilham Pratama | Megapolitan

MI/RAMDANI
 MI/RAMDANI
Warga mengamati benda langit menggunakan teropong di Planetarium Jakarta.

WISMA Taman Ismail Marzuki (TIM) akan memiliki 14 lantai. Dengan ketinggian tersebut, Wisma TIM dipastikan membatasi pantauan teleskop Planetarium yang berada pada kawasan tersebut.

"Untuk pengamatan terkait edukasi publik, terpaksa harus pilih-pilih obyek yang tidak terhalang gedung tinggi," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Rabu (27/11).

Gedung yang bercokol di kawasan TIM saat ini pun, sejatinya telah membuat pemandangan teleskop Planetarium terbatas. Dia pun menyebut posisi TIM akhirnya tidak menguntungkan untuk observasi benda langit secara khusus.

"Idealnya, untuk kawasan observasi, ufuk bisa terlihat. Namun, lokasi pengamatan di tengah kota itu mustahil. Minimal sebagian besar langit masih bisa terlihat. Namun kawasan sekitar TIM sudah tidak layak lagi untuk lokasi pengamatan," terang ahli ilmu astronomi dan astrofisika itu.

Selain itu, polusi cahaya Jakarta dan posisi Planetarium juga tidak menguntungkan seperti pusat observatorium Bosscha di Bandung.

Baca juga: Jakpro akan Bangun Wisma TIM Setinggi 14 Lantai

Setidaknya posisi observatorium harus di tempat minim cahaya dan berada di ketinggian 185 meter di atas permukaan laut (MDPL). Sedangkan TIM sendiri berada di ketinggian 10 (MDPL).

Planetarium dengan Wisma TIM sendiri hanya berjarak sekitar 45 meter. Akhirnya, objek yang dibidik di balik gedung tidak mampu ditangkap teleskop Planetarium.

"Yang utama terhalangnya medan pandang ke objek langit. Ukurannya (clear area), bukan radius, tetapi medan pandang. Artinya, keterkaitan jarak dan tinggi objek gangguan," pungkas dia.

Jakarta Propertindo (Jakpro) sedang merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Wisma 14 lantai akan dibangun di dalam kawasan dengan luas 72.551 meter persegi tersebut.

Proses revitalisasi TIM memakan biaya hingga Rp1,8 triliun. Revitalisasi tersebut akan menggunakan penyertaan modal daerah (PMD) Jakpro yang telah masuk dalam APBD DKI Jakarta. (OL-2) 

BERITA TERKAIT