28 November 2019, 07:20 WIB

Hikayat Ciputra dan Hendra


Agus Dermawan T Konsultan Seni Ciputra Artpreneur | Humaniora

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Ciputra 1931-2019

SAYA mengenal Ciputra awal 1980-an dalam berbagai pertemuan di Pasar Seni Ancol (PSA), Jakarta Utara. Pada saat itu, ia memang masih relatif sering berjalan-jalan di PSA, yang tak lain merupakan gagasannya. Ketika kebetulan berjumpa, ia selalu mengajak untuk berkeliling ke sudut-sudut sambil menyampaikan aspirasi keseniannya.

"Saya ingin menyatukan hati kesenian dengan spirit entrepreneur. Para seniman akan saya tradisikan bekerja di hadapan orang banyak, mendapat apresiasi dan kritik secara langsung dari orang banyak, dan yang lebih penting bisa bertransaksi langsung dengan orang banyak. Para seniman saya ajak masuk dalam semangat entrepreneurship," kata Ciputra.

Tahun demi tahun PSA menemukan bentuknya sehingga yang menjadi 'penghuni' pasar itu akhirnya bukan hanya para seniman muda, melainkan juga para perupa senior. Para seniman terkenal, seperti pematung Amrus Natalsya, pelukis Abas Alibasyah, dan kriyawan Indro Sungkowo ada di situ. Kepopuleran PSA pun membubung sehingga sangat banyak tamu agung negara yang berkunjung ke sana.

Alkisah pada 1978 pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) bebas dari penjara politik Kebon Waru, Bandung. Hendra ialah pelukis besar yang tercatat sebagai tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia. Ia menjadi tahanan politik sejak 1966 pascakudeta Gerakan 30 September 1965.

Di dalam penjara Hendra mendengar bahwa di Jakarta ada PSA yang menaungi kehidupan para seniman. Maka, sekeluar dari bui ia pun berkunjung ke situ. Sesampai di PSA, di bawah pohon rindang, Hendra menangis tersedu-sedu. Ciputra yang kebetulan ada di PSA menemuinya. Dalam isaknya Hendra berkata bahwa Ciputra, sang tokoh properti, ialah lelaki penggempur semen dan penegak baja yang punya hati selembut bagai sutra.

"Hanya malaikat yang mau mengurus orang-orang setengah sekarat," tutur Hendra. Yang disebut 'orang setengah sekarat' itu ialah seniman.

Sejak itu, Ciputra dan Hendra bersahabat. Ciputra lantas membeli satu-dua lukisan Hendra. Lewat surat-menyurat yang berbahasa puitis dan retoris, mereka terus membina hubungan.

Syahdan pada 1983, Ciputra terbang ke Bali untuk rekreasi. Dalam perjalanan di pesawat, Ciputra teringat bahwa Hendra menetap di Ubud, Bali. Maka, hatinya diniatkan untuk mampir ke kediaman Hendra di Ubud. Ketika Ciputra berkunjung, Hendra ternyata sedang sakit serius dan terbaring lemah di tempat tidur.

Ketika istrinya, Nuraeni, berusaha membangunkan, Hendra berusaha sekuat tena-ga untuk duduk. "Pak Cip...Pak Cip... Pak Cip..." gumamnya. Ciputra sangat terharu memandangnya.

Saat itu Ciputra keheranan melihat di rumah Hendra tidak ada lukisan. Dia pun terkejut saat Nuraeni menjelaskan bahwa lukisan-lukisan Hendra yang berjumlah sekitar 30 buah itu digadaikan di Bank BNI untuk meminjam uang Rp15 juta. Uang itu untuk memperbaiki rumah dan biaya pengobatan.

Dengan rasa iba, Ciputra pun berjanji akan membantu Hendra. Ia pun meminjami uang guna membayar utang mereka di bank. Tujuannya, agar Hendra dapat kembali memiliki lukisan-lukisannya. Setelah utang di bank lunas, semua lukisan Hendra dibawa pulang.

Beberapa minggu kemudian lukisan Hendra dibawa ke Jakarta oleh Ciputra untuk dipamerkan dan dijual di Galeri Pasar Seni Ancol. Akan tetapi, setelah lama dipasarkan, lukisan-lukisan itu ternyata tidak ada satu pun yang laku. Akhirnya semua lukisan itu dibeli sendiri oleh Ciputra dengan harga lebih dari Rp100 juta.

Hendra meninggal tak lama setelah peristiwa tebus-menebus lukisan itu. Ciputra ingin mengabadikan nama sahabatnya itu sebagai nama galeri yang ia dirikan di tengah PSA.

Dalam rangka proyek itu, ia mengundang pelukis Sudjojono dan Abas Alibasyah, kritikus Agus Dermawan T dan Kusnadi, serta Tresna Suyawan (putra Hendra) untuk membahas itu di rumahnya di Pondok Indah.

Namun, wacana itu hangus saat pemerintah Indonesia melarang siapa pun untuk memakai atau menyinggung nama eks tahanan politik PKI, sebelum sang tokoh direhabilitasi penuh. Ciputra kecewa luar biasa. Akan tetapi, ia tetap mendukung Hendra.

Dari tahun ke tahun akhirnya Ciputra berhasil mengumpulkan lebih dari 100 lukisan Hendra dalam berbagai ukuran.

"Semua adalah permata koleksi saya. Kini, saya ingin mengabadikan koleksi itu dalam museum modern, yang bukan semata dalam bentuk pemajangan karya secara konvensional, melainkan juga dalam model presentasi kecanggihan teknologi visual," paparnya.

Museum itu lantas ia ba-ngun di kompleks superblok Ciputra World di Jalan Dr Satrio yang di dalamnya tergabung juga hotel, kantor, mal, service apartment, dan kondominium yang berkualitas bintang lima.

Dari museum tersebut, Ciputra lantas mengembangkan hasratnya untuk membangun artpreneur center, yang terdiri atas art gallery, museum, teater, dan art show. Di forum art show itu dipertunjukan karya Hendra lewat peranti teknologi mutakhir.

Semua kerja besar itu ia kerjakan bersama putrinya, Rina Ciputra, seorang master bisnis dan pengagum seni yang menerima penghargaan seni Ordine della de Italia dari pemerintah Italia.

DR (HC) Ir Ciputra bukan hanya tokoh besar dalam bidang properti, melainkan juga pendorong luar biasa dunia seni. Kini ia telah tiada. Namun, wahana kesenian yang diwariskan tiada ternilai harganya.

BERITA TERKAIT