28 November 2019, 04:30 WIB

Dapat Dirut Baru, BTN Berbenah


Raja Suhud | Ekonomi

MI/Eva Pardiana
 MI/Eva Pardiana
 Pahala N Mansyuri Dirut BTN

PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk akhirnya mendapatkan direktur utama (dirut) definitif dengan disetujuinya Pahala N Mansyuri sebagai Dirut BTN dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, kemarin.

Pahala yang sebelumnya merupakan Direktur Keuangan Pertamina masuk menggantikan Suprajarto yang mengundurkan diri dari penunjukannya sebagai Dirut BTN pada RUPSLB 28 Agustus lalu. Posisi Suprajarto sebelumnya diisi Plt Dirut Oni Febriarto Rahardjo.

Selain pengisian posisi dirut, pemerintah juga juga melakukan perubahan nomenklatur direksi. Guna meningkatkan dana murah, BTN kini memiliki direktur distribusi pendanaan ritel yang diisi oleh Jasmin, bankir dari Bank Mandiri.

Perseroan juga membentuk dua pos direksi baru, yakni direktur operasional, IT, dan digital yang dijabat Andi Nirwoto dan direktur enterprise, risk mana-gement, big data analytics yang dipegang Setiyo Wibowo.

Dengan perubahan dan penambahan nomenklatur itu, BTN berbenah untuk mendukung peningkatan peran perseroan guna mendukung program pemerintah yakni Sejuta Rumah.

Direktur Finansial, Perencanaan, dan Treasuri BTN Nixon LP Napitulu menyebutkan akan meningkatkan secara drastis porsi penghimpunan dana murah dan mulai mengurangi instrumen berbiaya mahal seperti obligasi ataupun pinjaman bilateral pada 2020 untuk mengurangi tekanan biaya dana (cost of fund).

"Satu tahun ke depan akan mengurangi exposure di obligasi, pinjaman bilateral, dan menggantikannya dengan simpanan," kata Nixon seusai pelaksanaan RUPSLB.

Untuk mengejar pergeseran strategi pendanaan itu, BTN sengaja merekrut Jasmin guna meningkatkan porsi tabungan.

"Jasmin paham soal tabungan bisnis, perdagangan di Tanah Abang itu dia jago, sehingga harapannya peningkatan tabung-an jadi kenyataan," ujarnya.

Selain mendongkrak pendanaan, BTN juga akan meningkatkan digitalisasi perbankan. Pengembangan digitalisasi perbankan ini juga untuk mendukung penghimpunan dana murah melalui penerbitan produk-produk tabungan.

Dengan strategi tersebut, BTN membidik laba bersih sebesar Rp3 triliun pada 2020. Adapun kualitas aset membaik dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) turun ke bawah 3,0%.

Hingga kuartal III 2019, BTN memperoleh laba bersih Rp801 miliar pada kuartal III 2019. Perolehan laba itu menurun jika dibandingkan dengan kuartal III 2018 yang sebesar Rp2,23 triliun.

Penurunan laba itu diklaim karena perseroan meningkatkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar 21,34% untuk persiapan mengikuti aturan baru Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 pada 2020.

Tambahan FLPP

Direktur Konsumer dan Komersial BTN Hirwandi Gafar mengatakan pihaknya mendapatkan tambahan fasilitas likuiditas pembiayaan perumbahan (FLPP) sebesar Rp2 triliun pada tahun ini. Tambahan plafon tersebut akan habis pada akhir tahun ini.

Adapun pada tahun depan, pemerintah mengalokasikan dana untuk FLPP sebesar Rp9 triliun dan Rp2 triliun dari program pengembalian FLPP.

"Jadi, tahun depan ada Rp11 triliun untuk FLPP," ujarnya. (Ifa/E-3)

BERITA TERKAIT