28 November 2019, 04:20 WIB

Seniman Muda yang Melongo


(AT/M-4) | Humaniora

Dok Pribadi
 Dok Pribadi
Heri Pemad

Heri Pemad, pemad dalam bahasa Jawa berarti 'walikan' atau bolak-balik artinya gila, tidak memiliki cita-cita besar menjadi seorang pelukis. Namun, cita-cita itu terhambat oleh situasi yang dihadapi, yaitu kurangnya ruang berekspresi maupun peluang para seniman muda untuk berkembang.

"Cita-cita itu tumbuh saat SMA," kata dia. Pengetahuannya tentang dunia seni nol besar. Ketika itu dia baru saja memasuki Yogyakarta dari Sukoharjo. Tatapi fakta dia memiliki hobi menggambar tidak bisa diingkari.

Bahkan, ia sebanyak tiga kali berusaha mendaftar di ISI dan baru baru diterima pada saat mencoba pada tahun ketiga. Namun, ketika dirinya masuk ke ISI, kenyataaan yang didapat tentang dunia pelukis ternyata di luar ekspektasinya. Dunia melukis ternyata tidak sekadar membuat lukisan kemudian menjualnya.

Menjadi seorang pelukis juga tidak mudah. Selain dia harus bergulat dengan dunia ide penciptaaan karya, pelukis juga dituntut bisa hidup dari karyanya.

Ketika melihat dunia seni yang ada, ia pun mendapati, kehidupan seniman tidak mudah. Saat itu, hanya beberapa seniman yang sudah mapan, ketika pameran mereka dikunjungi para pejabat dan dikirimi karangan bunga.

"Geleri waktu itu (1990-an) kalaupun ada sangat segmented, hanya seniman tertentu yang bisa pameran di sana," kata dia.

Seniman-seniman muda yang segitu banyak hanya melongo. Padahal, sebagai seorang seniman muda, mereka membutuhkan ruang untuk mengasah dan menunjukkan prestasi.

"Karya mereka (beberapa seniman mapan) tidak bagus-bagus amat. Ya sudah, dianggap saja seniman yang beruntung," kata dia. Banyak seniman yang bagus, tetapi tidak beruntung. Demikian pula sebaliknya, ada seniman yang biasa-biasa saja, tetapi dia beruntung dan mendapatkan pasar atas karya mereka.

Makelar seni

Sebagai anak muda, Heri tidak ingin diam, menunggu keberuntungan agar bisa menjadi seniman. Ia sedikit mengubah jalan hidupnya dan membantu membuka jalan bagi seniman-seniman muda untuk naik panggung. Di sisi lain, Heri mengaku hingga sekarang dirinya masih merawat kemampuannya di dunia seni rupa, teruma melukis.

"Kita tidak bisa menggantungkan sesuatu yang itu-itu saja, seniman itu-itu saja, galeri itu-itu saja, maupun kolektor yang itu-itu saja," kata dia.

Dunia seni di Indonesia tidak bisa mengandalkan makelar seni yang menjual karya seni seperti menjual tanah, dengan mengiming-imingi investasi. Karya seni seharusnya dinilai atas dasar nilai seni yang ada di dalamnya dan bisa dijelaskan secara logis.

Dengan sepak terjangnya di dunia seni saat ini, Heri pun semakin sadar, untuk berkiprah di dunia seni, seseorang tidak harus menjadi pelukis, pematung, penggrafis, videographer, ataupun pemusik. Kita tetap bisa berkesenian dengan bekerja sama dengan seniman.

"Saya pun sampai sekarang masih melukis karena jiwa saya ada di sana. Saya masih melukis supaya saya tahu bahwa berkarya seni itu tidak mudah. Mengekspresikan gagasan menjadi sebuah karya tidak mudah, perlu pemikiran, perjalanan, dan proses yang panjang," pungkas dia. (AT/M-4)

Biodata

Nama : Heri Pemad

Tempat dan tanggal lahir : Sukoharjo, 12 April 1976.

Pendidikan: ISI Yogyakarta 1996-2000, Jurusan Seni Murni, Program Studi Seni Lukis.

Penghargaan:

1. Cat Air Terbaik tahun 1997 di Kampus ISI Yogyakarta.

2. Nokia Art Award Asia Pacific pada 1999

BERITA TERKAIT