28 November 2019, 01:40 WIB

Dwiki Dharmawan Diplomasi melalui Jatiluhur Jazz Festival


Bagus Pradana | Hiburan

Dok. MI
 Dok. MI
Musisi Dwiki Dharmawan

BERMAIN musik dengan mengundang banyak grup dan musisi biasanya dilakukan di ruang tertutup. Namun, ada tren di banyak negara bahwa bermain musik di tempat terbuka dengan dukungan panorama alam yang indah menjadi pilihan dan banyak disukai penonton.

Tak salah jika musikus jazz kenamaan Dwiki Dharmawan, 53, memilih panorama (waduk/danau) Jatiluhur sebagai venue. The 1st International Jatiluhur Jazz Festival 2019 yang akan berlangsung pada Sabtu (30/11) hingga Minggu (1/12).

"Di Probolinggo ada Jazz Gunung, di Jogja ada Ngayogjazz, di Jateng sudah ada Prambanan Jazz, di Banyuwangi juga ada, tapi di Jawa Barat yang alamnya begitu indah, banyak venue tempat-tempat bagus, belum ada. Ini alasan kami mengadakan festival jazz di Jatiluhur ini," terang Dwiki selaku direktur artistik The 1st International Jatiluhur Jazz Festival 2019.

Tidak itu saja, selain alamnya indah, Jatiluhur yang terletak di Kabupaten Purwakarta ini punya nilai sejarah dan merupakan (waduk) terbesar di Asia Tenggara sehingga sangat berpotensi untuk pariwisata.

Dua potensi ini, yakni keindahan alam dan pelaku seni, menurut Dwiki, dapat dikolaborasikan untuk mendukung dunia pariwisata. "Kuncinya adalah kolaborasi, seniman itu memerlukan stage, venue, untuk menampilkan karyanya. Jatiluhur sebagai venue juga membutuhkan promosi untuk lebih dikenal baik wisatawan lokal maupun mancanegara," cetus Dwiki.

Maestro jazz yang sering tampil di event-event internasional ini juga mengajak wisatawan Nusantara untuk lebih mengenali Jatiluhur. "Begitu bersejarahnya, begitu indahnya, tetapi wisatawan Indonesia belum banyak yang kenal," imbuhnya.

Atraksi dan sensasi bermusik di danau buatan terbesar se-Asia Tenggara ini, menurut suami penyanyi Ita Purnamasari, ini akan sangat menarik sebagai sebuah ajang promosi serta diplomasi budaya untuk mengenalkan musik Indonesia kepada dunia.

Konsep pergelaran musik outdoor yang mengambil tempat pinggir danau ini juga belum pernah ada di Indonesia, dan The 1st International Jatiluhur Jazz Festival 2019 ini merupakan event pertama yang mengadopsi konsep tersebut.

"Saya pernah di Montreux Jazz Festival di Switzerland, dan itu tidak kalah indah, di danau. Nah, ini The First International Jazz Festival... ini merupakan sebuah ide yang tidak hanya sekali, kalau ada first, insya Allah ada second-nya, lalu third, dan bisa berkembang lagi," ujarnya.


Diminati musisi

Jawa Barat, menurut Dwiki yang merupakan pentolan dari grup jazz Krakatau ini, mempunyai potensi kesenian tradisional yang kuat. Ada musik bambu, musik perkusi, dan seni pertunjukan.

Kesenian tradisional yang juga tak kalah indahnya itu, menurut Dwiki, juga perlu diberi panggung. "Makanya, di Jatiluhur Jazz Festival ini kami merangkul mereka yang berada di kesenian daerah ini yang layak untuk diberikan panggung. Di situ juga menjadi tugasnya Jatiluhur Jazz Festival untuk mengangkat seniman asli dari Jawa Barat," tuturnya.

Diakui festival musik outdoor ini sebenarnya telah banyak diterapkan di banyak daerah, bahkan sebagian besar mampu bertransformasi menjadi ikon daerah tersebut.

Dwiki mengaku lega pada event kali pertama ini banyak musikus yang ingin berpartisipasi. Bahkan, sangat ingin ikut, tetapi karena belum ada waktu akhirnya pesan tempat untuk tahun depan, tambahnya.

Sejumlah artis nasional akan menjadi pengisi festival jazz tersebut, di antaranya World Peace Project feat Steve Thornton, Kamal Musallam, Marcel, Wizzy, Shaharani dan Queenfireworks, Java Jive, Mus Mudjiono, serta Krakatau. Lalu, ada dua artis dangdut papan atas Indonesia, yaitu Via Vallen dan Zaskia Gotik yang akan memuncaki festival tersebut dengan kolaborasi dangdut-jazz yang konsepnya masih disimpan rapat-rapat oleh Dwiki Dharmawan.

Kemudian, juga ada musisi asli Purwakarta yang akan memberikan warna Etno-Jazz dalam festival musik ini. (H-1)

BERITA TERKAIT