27 November 2019, 23:00 WIB

Laba Tahun Perdana Rp60 Miliar


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

MI/Andry Widyanto
 MI/Andry Widyanto
Di tahun perdana MRT raup laba Rp60 Miliar

PT MRT Jakarta meraup laba Rp60 miliar di tahun pertama beroperasi. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan laba tersebut diperoleh dari total selisih keseluruhan pendapatan yang mencapai Rp1 triliun dengan total pengeluaran yang mencapai Rp940 miliar.

“Ini luar biasa karena di tahun pertama kita sudah mencapai laba komprehensif sebesar Rp60 miliar,” kata William dalam Forum Jurnalis MRT Jakarta di Gedung Wisma Nusantara,  Rabu (27/11).

William menyebut keuntungan MRT bisa diraih karena MRT tidak menanggung utang pinjaman dari pemerintah Jepang melalui Japan International Corporation Agency (JICA) yang digunakan untuk pembangunan MRT selama ini. Tanggungan utang tersebut dibebankan kepada pemerintah pusat sebesar 49% dan Pemprov DKI sebesar 51%.

Sementara itu MRT Jakarta juga meraih pendapatan fantastis dari sektor non-farebox atau pendapatan non-tiket yakni mencapai Rp225 miliar. Pendapatan itu diraih dari iklan hingga 55%, hak nama stasiun atau naming rights di lima stasiun mencapai 33%, telekomunikasi 2%, dan sisanya dari retail.

“Pendapatan non-farebox kita sampai Rp225 miliar dan tiket Rp180 miliar. Di samping itu kita punya pendapatan dari sektor PSO atau subsidi tiket Rp560 miliar dan pendapatan lain-lain mencapai Rp40 miliar,” ungkapnya.

Di sisi lain, William menyebut tahun depan pihaknya menargetkan ada peningkatan pendapatan dari non-farebox tepatnya naming rights untuk seluruh stasiun MRT Jakarta serta peningkatan pendapatan dari tiket. Sebab, tahun depan MRT menargetkan peningkatan jumlah penumpang mencapai 100ribu penumpang perhari dari target tahun ini sebesar 65 ribu penumpang perhari.

Dengan langkah itu, tahun depan MRT menargetkan dapat meraih laba hingga Rp200 miliar hingga Rp250 miliar. MRT Jakarta Fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI pertama beroperasi komersial pada 1 April lalu dan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.


Tiket multitrip

Wiliam juga mengungkapkan MRT Jakarta telah mendapat izin untuk menerbitkan dan menjual kartu jelajah ganda atau multitrip ticket. William menyebut dengan munculnya kartu jelajah ganda akan semakin terbuka lebar peluang MRT untuk mengintegrasikan tiket dengan Jak Lingko, LRT serta Transjakarta.

Pihaknya pun berharap bisa mewujudkan integrasi tiket tersbut pada tahun depan. “Kita mau ajak pelan-pelan Trans Jakarta, Jak Lingko, dan LRT Jakarta untuk bekerja sama mengintegrasikan tiket. Sehingga nantinya dalam berpindah moda, penumpang tidak perlu berganti tiket,” ungkap William.

Selain itu, MRT juga akan mengintegrasikan tiket jelajah ganda MRT dengan tiket KRL Commuterline. Hal itu bakal terwujud pada 2022. Integrasi tiket dengan KRL Commuterline ini merupakan pemenuhan syarat dari Bank Indonesia agar MRT Jakarta dapat menerbitkan dan menjual tiketnya. “Jadi pada Januari 2022 tiket jelajah ganda kita maupun kartu multitrip KRL akan bisa digunakan di kedua moda,” tukasnya.

Dengan begitu, Jakarta akan memiliki satu tiket yang terintegrasi bagi semua moda. Menurutnya hal ini sangat membantu MRT untuk memperluas layanan. Sebab, infrastruktur MRT saat ini belum dapat mencakup seluruh penumpang angkutan umum di Jakarta.

Di sisi lain, kartu jelajah ganda MRT memiliki kelebihan dalam pembacaan saat tap in erta tap out di gate tiket. Pembacaan kartu jelajah ganda MRT menurut William hanya memerlukan waktu 0,3 detik.

“Kartu ini sangat cepat untuk bisa lewat gate. Bahkan gate kita hanya memerlukan waktu 0,3 detik untuk membaca kartu ini. Dalam waktu satu menit, bisa 70 orang lewat untuk tap in atau tap out,” kata William.

Tiket jelajah ganda ini sudah mulai dijual pada Senin (25/11) lalu. William menambahkan saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang membahas mengenai kebijakan tarif paket antar moda. Tarif paket ini bisa berlaku bagi masyarakat yang berpindah ke moda yang berbeda. (Ssr/J-1)

 

BERITA TERKAIT