27 November 2019, 19:13 WIB

Perang Dagang Mereda, Ekonomi Indonesia Diprediksi Mmebaik


M. Ilham ramadhan Avisena | Ekonomi

Antara/galih Pradipta
 Antara/galih Pradipta
Suasana terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok,l Jakarta

EKONOM Universitas Indonesia Ari Kuncoro memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 berada dikisaran 5,1%. Angka itu didapat berdasarkan pengamatannya terkait indikasi meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Selain itu, lanjut Ari, dalam beberapa bulan terakhir geliat investor untuk masuk ke Indonesia cenderung membaik meski tidak signifikan.

"Kalau dihitung-hitung, saya bilang paling kita gini-gini juga, 5,1% kalau ada damai dagang ya bisa lah 5,2%. Kalau Trump di impeach, kita gak tahu dampaknya positif atau negatif, kalau perang dagang mereda bisa jadi ekspor kita akan meningkat, tapi kita gak tahu juga karena banyak yang bilang Trump ini sebenarnya oke, pertumbuhan AS gak jelek-jelek amat," kata Ari saat ditemui di Universitas Indonesia, Depok, Rabu (27/11).

Ia mengaku tidak sepakat dengan prediksi yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka 4,8%-4,9%. Menurutnya prediksi tersebut cukup pesimistis dan terlalu rendah.

"Saya gak setuju kalau 4,9%, karena itu terjadi di 2014, saat itu komoditas turun, waktu itu sedang merangkak naik, tapi karena ada perang dagang di 2017, dia turun lagi," jelas Ari.

Baca juga : Menkeu Singgung Investasi Kurma di Depan Mahasiswa

Kondisi pada 2014 itu menurutnya, tidak bisa disamaratakan dengan kondisi perekonomian saat ini. Sebab, Indonesia memiliki potensi yang cukup baik di 2020 yang dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang baik pula dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Terlebih bila prediksi meredanya perang dagang antara Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu terjadi, maka tingkat ekspor Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkat pesat.

"Jadi kalau disebut middle income trap, itu tidak betul juga karena pertumbuhan kita lebih tinggi dibanding negara lain. Ini memang karena situasi global yang mengakibatkan semua negara berhati-hati termasuk kita," tutur Ari.

Senada, perbaikan kondisi ekonomi Indonesia diamini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam penjelasannya saat memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Menurutnya, ekonomi Indonesia terus tumbuh membaik.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya rating beberapa lembaga survei internasional yang menyebutkan kondisi perekonomian Indonesia terbilang cukup baik.

Baca juga : Program B20 Selamatkan Devisa Negara Rp35,58 Triliun

"Indonesia dianggap baik, prudent. Itu dilihat dari rating international, ada moody's dan yang lainnya. Mereka memberikan kita good performence, berarti kita sudah masuk investment grade," tutur Ani, sapaan karib Sri Mulyani.

Dengan rating invesment grade itu, imbuhnya, dampaknya tidak mungkin akan langsung dirasakan saat ini, melainkan beberapa tahun mendatang.

"Barangkali kalian bilang 'so what bu?, aku enggak merasa'. Karena kalian masih muda. 20 tahun yang lalu Indonesia adalah selective default. Kalau kita semakin default itu berarti indonesia masih dalam kelompok junk. Dulu kalau saya mengisu surat utang, orang liat itu surat utang atau toilet paper," pungkas Ani. (OL-7_

BERITA TERKAIT