27 November 2019, 11:45 WIB

Pemerintah Harus Paham Karakter Generasi Milenial


Arnoldus Dhae | Nusantara

MI/Arnoldus Dhae
 MI/Arnoldus Dhae
Seminar bertajuk Global Milenials yang diselenggarakan oleh Universitas Parasetiya Mulya, di Denpasar, Bali, Selasa (26/11/2019).

PEMERINTAH dan seluruh stakeholder diimbau untuk memahami karakter dan pola karier generasi milenial Indonesia, untuk menyongsong era industri 4.0. Isu ini mengemuka dalam seminar bertajuk Global Milenials yang diselenggarakan oleh Universitas Parasetiya Mulya, di Denpasar, Bali, Selasa (26/11/2019).
Wakil Rektor II Universitas Prasetiya Mulya Prof Djoko Wintoro menjelaskan, saatnya Indonesia lebih cermat mengemas bonus demografi berkualitas generasi milenial saat ini.

"Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia akan terus melenggang maju tanpa kompromi. Namun, bukan berarti waktu tidak bisa ditaklukkan. Jika kita bisa berdamai dan selalu menyesuaikan diri dengannya, maka perlombaan itu dapat kita menangkan. Sebagai contoh, dewasa ini banyak generasi milenial yang dapat mewujudkan proyek Roro Jonggrang. Mereka mampu menyelesaikan pekerjaan hanya dengan waktu semalam," ujarnya.

Misi dapat berhasil bukan hanya karena kerja keras, namun peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital yang menjadi penyebab utama.

Dia menambahkan generasi Milenial pada umumnya adalah Tech Savvy. Hal inilah yang memungkinkan mereka untuk selalu melihat informasi di internet atau sosial media. Kemudahan dalam mencari informasi dan berbagai kemudahan lain membuat kehidupan milenial relatif lebih praktis dan cepat dalam menyelesaikan pekerjaan.

Menurutnya, di sebagian besar belahan dunia, pengaruh milenial ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi. Melalui kreativitasnya, generasi milenial menjadi pendorong era komunikasi kreatif yang mampu meningkatkan perekonomian suatu negara secara keseluruhan.

Salah satu pembicara Henry Pribadi menggambarkan kaum milenial di Jepang. Saat ini generasi milenial Jepang memelopori enterpreneur, menjadi penggerak utama dan menjadi generasi yang mempengaruhi berbagai kebijakan publik di Jepang. Mereka menguasai teknologi dan  sekitar 90-95% berpendidikan tinggi.

Pembicara lainnya adalah Eka Ardianto yang memaparkan karakter kaum milenials di Korea. Menurutnya, banyak kaum milenial yang memilih berbisnis atau menjadi youtuber. Pemerintah Korea Selatan ikut campur tangan agar milenial lebih berkembang.

baca juga: DPR Desak Pertamina Segera Perbaiki Pesisir Pantai Cemarajaya

Sementara narasumber Fatoni mengatakan, milenial Amerika paling banyak dirujuk. Bisa dibilang ada dua mahzab milenial, yaitu Mahzab US dan Mahzab China. Mereka umumnya cerdas dan sekolahnya tinggi. Mereka yang sekolahnya tinggi cenderung punya income lebih tinggi daripada yang tidak sekolah. Milenial wanita lebih banyak yang sekolah daripada laki-laki.

"Di Amerika saat ini banyak lajang dan tidak mau menikah. Mereka tertarik pada teknologi dan pengalaman. Tidak adanya apresiasi dari atasan jadi alasan pindah kerja karena 66% ingin memulai bisnis sendiri," ujarnya. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT