27 November 2019, 09:35 WIB

Media Sosial Jadi Ancaman Kekerasan Terhadap Perempuan


Sheena Abigail, mahasiswa Physics and Astronomy Department, University of College London | Opini

Istimewa
 Istimewa
 Sheena Abigail

PADA 25 November, media sosial di Indonesia diramaikan dengan ucapan hari guru. Memang pada hari itu bertepatan dengan hari guru. Hampir mayoritas akun media sosial baik Snapchat, Facebook, Instagram maupun Twitter dibanjiri dengan berbagai pesan, foto dan video ungkapan terima kasih kepada guru.

Namun tidak banyak orang yang mengingat bahwa pada 25 November juga menjadi hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan.
Fenomena hiperbolik media sosial ini, pada tanggal yang sama, mengingatkan penulis akan wajah lain penggunaan media sosial, yaitu Sang Penghadir Kekerasan Terhadap Perempuan!

Banyak kasus pelecehan di dunia maya (cyber-bullying) terhadap perempuan yang dianggap kecil atau biasa terus merebak. Saat seseorang mengunggah fotonya di media sosial, bisa saja ia akan menerima komentar positif seperti keren dan cantik, tetapi juga tak sedikit yang mendapat komentar negatif seperti jelek, bodoh, dan tidak menarik. Hal ini kemudian dapat memberi dampak kecil hingga ekstrim mempengaruhi pandangan perempuan terhadap tubuhnya.
Media sosial membangun standarnya sendiri mengenai kecantikan. Tak sulit dijumpai, foto yang memperlihatkan tubuh seksi dan langsing, kulit putih dan mulus yang diunggah di media sosial menuai banyak jempol dan pujian.

Keinginan untuk terlihat seperti itu pun tak dapat dihindari, apalagi pada remaja yang sedang mencari jati dirinya. Namun standar kecantikan ini berbeda-beda di berbagai negara. Contohnya di Amerika Serikat, tubuh ideal perempuan adalah wanita dengan betis dan tangan yang ramping, serta bentuk tubuhnya seperti gitar.

Sedangkan di Kolombia, tubuh yang sintal dengan warna kulit eksotislah yang dikategorikan cantik. Berbeda juga dengan negara Tiongkok dan Korea, perempuan yang semampai dengan kulit putih pucat justru diacu sebagai standar cantik. Di Indonesia, para perempuan pada umumnya berkulit sawo matang dengan bentuk tubuh yang bermacam-macam. Namun sejak kolonialisme Belanda dan Jepang yang juga dibarengi masuknya produk asing berbagai alat pemutih ke Indonesia, kriteria cantik pun bergeser atau berganti dan terpusat pada tubuh yang ramping dengan kulit mulus, putih dan bersih.

Contoh lainnya, perempuan Bali yang pada umumnya memiliki hidung kecil, tubuh sintal, kulit sawo matang (seperti yang dijelaskan di mitologi Hindu tentang empat tipe tubuh perempuan Bali:
Padmini, Chitrani, Hastini and Shankini bergeser sejalan dengan perkembangan pariwisata yang sangat pesat. Pengaruh asing pun satu per satu membaur dan hal inilah yang membentuk perspektif perempuan Bali untuk menjadi cantik. Mereka harus ramping dan berkulit putih
termakan imbas westernisasi.

Tak bisa dipungkiri, gambaran cantik dibentuk oleh media sosial. Tingginya penggunaan media sosial secara signifikan menaikkan pengaruh pembentukan standar kecantikan. Tak sedikit pula yang ingin menandingi selebritis Instagram. Bahkan ada yang sampai memodifikasi wajah dan tubuh mereka, menghilangkan rambut pada wajah dan tubuh, yang
mana sebenarnya memiliki rambut merupakan hal wajar demi mempunyai citra tubuh positif.

Tak berhenti di situ saja, para siswi di sekolah pun tak luput dari pengaruh standar kecantikan ini. Beberapa di antara mereka mulai saling membandingkan dan mengatakan aku terlalu gemuk, aku tidak mulus. Berdasarkan hasil survei online yang dilakukan di Indonesia pada
tahun 2017, sebanyak 26,67% mengaku berolahraga lebih keras, 6,67%
mencukur/mencabut rambut, dan 20% dari mereka mengurangi makan untuk mendapatkan tubuh ideal yang diharapkan atau distandarkan di media sosial. Media sosial mendistorsi makna kecantikan, dan terus membuat perempuan berilusi mengenai tubuh idealnya. Akibatnya semakin banyak perempuan muda selalu merasa tidak puas dengan tubuh mereka sendiri.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Richard M. Perloff dari Cleveland State University menunjukkan bahwa perspektif tentang tubuh berubah disebabkan oleh komentar orang lain di media sosial. Hal ini berakibat pada kekacauan pola makan (eating disorder) dan ketidakpuasan akan tubuh yang dimiliki. Terlebih jika dipicu oleh rendahnya penghargaan atas diri sendiri, perfeksionisme dan depresi. Sang gadis akan sangat mudah terpengaruh, terus menerus mencari kepuasan dan validasi.

Melihat betapa besarnya pengaruh media sosial, suatu peluang juga hadir di masa depan. Bahwa body image ini mungkin akan berganti, dengan cara memodifikasi tubuh ideal yang direpresentasikan di media sosial. Meskipun tak semua merasa terkena dampaknya, masalah
ini sudah seharusnya dibahas dan dicari jalan keluarnya oleh pengampu kepentingan terkait kesehatan remaja, melihat angka depresi pada remaja perempuan semakin meningkat terkait rendahnya body positivity.

Solusi yang dapat diusung oleh media sosial pun beragam, mulai dari membuat komunitas online dan offline yang mendukung body positivity (pergerakan yang berfokus pada penerimaan segala bentuk, ukuran dan kemampuan tubuh) hingga body positivity campaign. Di sekolah-sekolah, sudah selayaknya sejak jenjang Sekolah Dasar diadakan diskusi-diskusi terbuka untuk menceritakan apapun yang murid rasakan tentang tubuh mereka, disamping membantu mereka untuk lebih merasa percaya diri. Di tanggal 25 November ini, kita diajak merenungkan dua hal yang kontras yaitu Kemerdekaan dan Kekerasan yang dapat dihadirkan bersamaan oleh media sosial. #merdekabelajar #merdekaperempuan #hapuskankekerasanpadaperempuan.

BERITA TERKAIT