27 November 2019, 10:20 WIB

Inovasi dan Terobosan Generasi Milenial Dinanti


Golda Eksa | Politik dan Hukum

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Para pembicara dari kiri Rawanda W Tuturoong (Tenaga Ahli Utama KSP), Mikhail Gorbachev Dom (Politisi Muda/Juru Bicara PSI), Hasan Nasbi.

GENERASI milenial, khususnya mereka yang berada di pemerintahan, diharapkan dapat melakukan berbagai perubahan. Terobosan, inovasi, cara berpikir out of the box, dan nonlinear merupakan lompatan yang sangat dibutuhkan publik.

Hal itu dikemukakan tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden (KSP) Rawanda W Tuturoong di sela-sela diskusi bertema Pembangunan Indonesia pada periode kedua Jokowi di mata generasi milenial, di Jakarta, kemarin.

Diskusi juga menghadirkan beberapa narasumber, seperti politikus muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mikhail Gorbachev Dom, Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama, dan pengamat politik Hasan Nasbi. Rawanda mengingatkan agar generasi muda tidak menghabiskan energi untuk bertengkar. Para pemuda juga penting meningkatkan optimisme ketimbang pesimisme ketika melaksanakan sebuah gagasan.

"Pemuda harus memperbanyak studi dan gagasan supaya nantinya perubahan bisa lebih cepat. Intinya, semua orang yang berhasil dalam perubahan pasti di awal mengalami hal yang sama," kata dia.

Pada kesempatan itu, Mikhail menilai di setiap era pasti memiliki feedback untuk membuat sesuatu menjadi baru. Umpan balik tersebut di dalam sebuah zaman, terang dia, biasanya diberikan kelompok pemuda. "Sama seperti saat ini, feedback itu diberikan oleh pemuda. Bedanya adalah pemuda di 2019 secara populasi besar. Kita tahu milenial, seperti yang disebut orang marketing misalnya, dapat mengubah nyaris segala sesuatu."

Menurut dia, di dalam kamus marketing milenial menjadi sesuatu yang baru. Contohnya, pariwisata domestik yang berkembang lantaran pemuda kerap berwisata di dalam negeri. Begitu pula dengan dunia perdagangan yang banyak melibatkan generasi tersebut.

"Tidak ada yang mengenal milenial selain milenial itu sendiri. Pak Jokowi sepertinya menangkap betul apa itu. Akhirnya, dia meminta teman-teman milenial yang terbaik dan tentunya sesuai dengan jumlahnya dari latar belakang berbeda, itu bagus," katanya.

Sebaliknya Hasan Nasbi memandang dalam politik pasti selalu ada keterwakilan, seperti perempuan, primordial, dan milenial. Hal itu dilakukan supaya tetap menjaga keseimbangan. "Persoalannya ialah kekurangan anak muda cuma satu, yaitu pengalaman," ujarnya. (Gol/P-4)

BERITA TERKAIT