27 November 2019, 06:30 WIB

Limbah Baterai Kendaraan Listrik Butuh Solusi


(Pra/Ant/E-3) | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pd.
  ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pd.
 Mahasiswa menunjukan lithium baterai hasil daur ulang saat pameran Pusat Daur Ulang Baterai Litium Bekas  

Pemerintah optimistis pada 2025 sebanyak 20% dari total kendaraan yang beroperasi di Tanah Air akan berbasis atau bertenaga listrik.

Target pengaplikasian kendaraan bermotor listrik memang sangat baik demi mengurangi beban impor minyak dan gas. Penggunaan mobil dan motor listrik juga akan mengurangi emisi karbon sehingga lingkungan lebih ramah bagi masyarakat.

Namun, di balik berbagai hal positif tersebut, penggunaan kendaraan listrik juga menyisakan persoalan, yakni limbah baterai.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Johnny Darmawan mengatakan baterai memiliki periode hidup yang terbatas, yakni 10 tahun. Setelah itu, baterai tidak akan lagi bisa digunakan.

"Sementara baterai itu limbah yang tidak bisa dibuang atau dipendam begitu saja. Maka dari itu, harus ada solusi dari limbah-limbah baterai," ujar Johnny di Jakarta, kemarin.

Olah karena itu, ia meminta pemerintah menerbitkan program pengendalian limbah baterai. Baterai yang sudah habis masa hidupnya harus diolah ulang atau di-recycle sehingga bisa digunakan kembali.

"Jadi, kendaraan listrik ini bisa jadi solusi yang tidak meninggalkan masalah. Sampai buntut terbenahi semua," tandasnya.

Saat ini, wacara kendaraan listrik juga masih terbentur persoalan pengisian. Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TKE-BPPT) Mohammad Mustafa Sarinanto mengatakan penggunaan kendaraan bermotor listrik (KBL) memerlukan kemudahan pengisian listrik untuk tenaga bergeraknya motor.

"Perlu dicarikan model bisnis yang sesuai dengan pengoperasian sistem pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Namun, untuk tahap awal perlu keberpihakan entah dari pemerintah maupun industri untuk menarik minat masyarakat menggunakan kendaraan listrik dengan harga yang lebih ramah," ujarnya di Jakarta.

Ia memberikan gambaran bahwa di Tiongkok tahapan awalnya ialah untuk keekonomian, belum sampai ke level mendatangkan untung ketika seseorang membeli kendaraan listrik, dan karena itu harganya masih mahal. (Pra/Ant/E-3)

BERITA TERKAIT