27 November 2019, 05:40 WIB

1 Juta Barel Ditargetkan Tercapai 2030


Agus Utantoro | Ekonomi

(ANTARA/Luqman Hakim)
 (ANTARA/Luqman Hakim)
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto saat membuka "Joint Convention Yogyakarta 

KEPALA Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya menargetkan produksi minyak dan gas bumi Indonesia mampu mencapai 1 juta barel setara minyak per hari pada 2030.

"Kita targetkan di 2030 kita bisa kembali ke 1 juta barel per hari lagi. Sekarang ini 750 ribu barel per hari," kata Dwi seusai membuka Joint Convention Yogyakarta 2019 (JCY 2019) bertajuk Toward Massive Exploration and Maximizing Undeveloped Resources di Yogyakarta, kemarin.

Untuk mencapai target itu, sambungnya, SKK Migas akan terus meningkatkan eksplorasi untuk mendongkrak produksi migas.

Saat ini, kata Dwi, dari total 128 cekungan sedimen yang ada di Indonesia, baru 54 cekungan yang telah dieksplorasi. Artinya, masih ada 74 cekungan yang menunggu untuk ditemukan potensinya.

Selain itu, lanjut dia, untuk produksi gas, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar, yaitu Blok Masela yang kini mulai digarap. Blok Masela mampu menambah produksi 9,5 juta ton per tahun untuk LNG dan 150 mmcfd (kaki kubik per hari) untuk gas pipa.

"Tetapi memang tantangannya besar karena kita membutuhkan investor-investor yang punya kekuatan finansial karena ini napasnya harus panjang," kata dia.

Menurut Dwi, turunnya harga minyak membuat investor berpikir panjang untuk menanamkan modal mereka. Meski demikian, sektor migas di Indonesia masih menjanjikan bagi investor yang dibuktikan dengan tingginya nilai investasi di Blok Masela.

"Dengan impact US$20 miliar di Masela masuk, saya kira ini membuktikan sesungguhnya investasi di Indonesia sangat menarik, khususnya di laut dalam dan Indonesia bagian timur," kata dia.

Impor janga pendek

Di kesempatan terpisah, Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, untuk jangka pendek, Indonesia masih belum bisa lepas dari impor migas. Pasalnya, dalam 5-10 tahun yang akan datang, kebutuhan migas dalam negeri masih sangat tinggi, mencapai 2 juta barel per hari.

Dengan situasi itu, Fabby menilai Indonesia dipastikan akan tetap memerlukan impor minyak mentah dan BBM hingga 60% dari total kebutuhan.

"Impor itu bisa sampai 60% dari sekarang dan kebutuhan minyak mentah maupun produk minyak mendatang. Sekarang produksi kita di sekitar 700 ribu barel, kemampuan kilang kita masih di bawah 1 juta barel per hari. Ini saja BBM-nya pasti harus impor. Secara agregat, kebutuhan BBM kita 1,4 juta barel per hari, pasokan minyak hanya 700 ribu barel. Jadi, impor itu keniscayaan," celetuk Fabby.

Karena itu, lanjutnya, menjadi penting bagi pemerintah mengembangkan kendaraan listrik. Dengan demikian, laju permintaan bahan bakar minyak itu lebih rendah. Namun, kalkulasi rencana penggunaan 2 juta mobil listrik ke depan akan berimplikasi pada menurunnya permintaan migas. (AT/Hld/E-1)

BERITA TERKAIT