26 November 2019, 22:19 WIB

Pengobatan Kanker dengan Immunoterapi Perpanjang Harapan


Indrastuti | Humaniora

Dok UI.AC.ID
 Dok UI.AC.ID
 Ikhwan Rinaldi 

PRESIDEN Amerika Serikat ke-39, Jimmy Carter didiagnosis menderita kanker melanoma pada Agustus 2015. Kanker yang ia derita telah mengalami metastatis atau menyebar ke hati dan otak. Carter mengaku, ia berpikir hidupnya hanya akan bertahan selama beberapa minggu sesudahnya.

Dulu, kanker yang telah menyebar ke organ lain seperti yang diderita Carter mungkin tidak dapat ditangani. Dokter yang merawat Carter menggunakan pengobatan kanker terkini yang mengombinasikan radiasi dengan immunoterapi yakni pengobatan kanker yang memanfaatkan kekuatan daya tahan tubuh untuk mencegah, mengendalikan, dan mengeliminasi kanker.

Dokter melakukan radiasi pada kanker di tubuh Carter, kemudian memberinya obat immunoterapi yang meningkatkan sistem imun di tubuhnya sehingga mampu melawan sel kanker. Desember 2015, Carter menyatakan telah terbebas dari kanker berdasarkan pemeriksaan MRI.

Dokter di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Ikhwan Rinaldi menuturkan, imunoterapi kanker merupakan suatu revolusi yang berperan penting dalam pengobatan kanker, termasuk di Indonesia. "Cara kerjanya dengan mengaktifkan sel imun kita untuk menghancurkan kanker," jelas Ikhwan dalam pelatihan jurnalis Memahami Immunoterapi Kanker yang diselenggarakan AJI bersama Roche di Jakarta, Sabtu (24/11).

Ikhwan menambahkan, immunoterapi baru digunakan untuk kanker stadium lanjut. Saat ini di Indonesia, immunoterapi menggunakan atezolizumab.

"Ada perbedaan signifikan antara hasil pengobatan kemoterapi dan immunoterapi, terutama pada kanker paru jenis bukan sel kecil stadium lanjut," jelas Ikhwan.

Pada kesempatan yang sama, Dokter spesialis paru RS Dharmais Arif Hanafi mengungkapkan, banyak penderita kanker baru yang terlambat berobat. "Sebanyak 95% pasien kanker paru ke dokter sudah masuk stadium lanjut. Tiap tahun, 228 ribu kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh kanker paru," jelasnya.

Immunoterapi, lanjutnya, menambah perpanjangan harapan hidup.

Pengobatan dengan kemoterapi, akan memberi perpanjangan harapan hidup rata-rata 16,7 bulan, sedangkan dengan immunoterapi, harapan hidup dapat mencapai 30 bulan. Pemeriksaan dan pengobatan immunoterapi kanker sudah tersedia di Indonesia untuk pasien kanker paru jenis bukan sel kecil (NSCLC) stadium lanjut, kanker kandung kemih stadium lanjut, dan kanker melanoma. Hanya saja, biayanya masih tergolong cukup mahal. Pengobatan immunoterapi selama 20 bulan, diperkirakan setidaknya memakan biaya hingga Rp30-40 juta untuk satu seri pengobatan. (OL-8)

BERITA TERKAIT