27 November 2019, 04:40 WIB

Bank BUMN Bidik Kredit Tumbuh 10%-11%


Ihfa Firdausya | Ekonomi

antara (Indra Arief Pribadi)
 antara (Indra Arief Pribadi)
Jajaran Direksi PT Bank Mandiri Persero Tbk di Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (26/11)  

Perbankan badan usaha milik negara (BUMN) membidik pertumbuhan kredit double digit tahun depan meski potensi perlambatan ekonomi global masih membayangi.

Bank Mandiri Tbk, Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk membidik pertumbuhan kredit 10% hingga 13%. Hanya Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk yang membidik angka pertumbuhan kredit single digit.

Wakil Direktur Utama Mandiri Sulaiman Arif Arianto Sulaiman saat memberikan pemaparan dalam rapat dengar pendapat di Komisi XI DPR, kemarin, mengatakan pihaknya membidik pertumbuhan laba bersih sebesar 6%-7% pada 2020.

"Tahun 2020 pertumbuhan kredit diproyeksikan 10% hingga 11%, dana pihak ketiga 2020 tumbuh 8% hingga 9%," ujar Sulaiman.

Target pertumbuhan kredit itu lebih tinggi daripada proyeksi pertumbuhan kredit emiten bersandi saham BMRI sepanjang 2019 di kisaran 8% hingga 9% yang dipangkas dari target sebelumnya di 10%-12%.

Direktur Utama Bank BNI Achmad Baiquni mengatakan pertumbuhan kredit perseroan tahun depan akan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi makro.

Bank BNI memiliki proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan akan lebih baik jika dibandingkan dengan 2019, yakni menjadi sebesar 5,0%-5,2%, dengan proyeksi tingkat suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate di 4,5%-5%.

Dengan target kredit tumbuh hingga 13%, perseroan juga membidik pertumbuhan laba tahun depan di 15%-17% (yoy).

"Kami memiliki target pertumbuhan kredit di 11%-13% dan laba bersih tumbuh 15%-17%," kata Baiquni di Komisi XI DPR.

Di tempat berbeda, Executive Vice President Divisi Risiko Enterprise & Management Portofolio BRI Kristina Lestari Ningsih mengatakan BRI menargetkan penyaluran kredit tumbuh 11% pada 2020.

"Kalau untuk growth pinjaman kita masih konservatif, sekitar 11%," ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Ia mengakui bahwa di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, baik global maupun domestik, dunia perbankan dan regulator cenderung pesimis perihal pertumbuhan kredit tahun depan.

"Bahkan kemarin dari pihak regulator lebih pesimistis, sekitar 8%. Tapi kita sebagai yang memang fokus di pembiayaan, di kredit, ya tentunya kami punya target lebih tinggi daripada industri," imbuhnya.

Untuk mencapai target pertumbuhan kredit 11%, BRI juga fokus terhadap digitalisasi.

BTN konsolidasi

BTN dalam rencana bisnis bank (RBB) menargetkan pertumbuhan kredit 6% hingga 8%.

Direktur Finansial, Treasuri, dan Strategi BTN Nixon L Napitupulu seusai rapat di Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (25/11), mengakui target kredit tersebut menurun jika dibandingkan dengan 2019.

Penurunan itu disebabkan perseroan fokus untuk konsolidasi internal dan memperbaiki kualitas kredit dengan menurunkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Perseroan juga tidak ingin ambisius mendorong pertumbuhan kredit hingga kondisi likuiditas benar-benar memadai.

BTN akan menunggu hingga rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) membaik.

"Kami akan lebih ke konsolidasi, perbaikan kualitas, plus likuiditas dibenarkan sampai LDR membaik,"ujar dia.

Target pertumbuhan kredit itu lebih rendah daripada revisi terakhir RBB BTN tahun ini bisa mencapai 10%. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT