26 November 2019, 21:00 WIB

P4TK IPA Luncurkan Empat Inovasi Layanan Berbasis Sains


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

ist
 ist
Ketua penyelenggara sekaligus Kepala Pusat PPPTK IPA Bandung Enang Ahmadi

PUSAT pengembangan dan pemberdayaan pendidikan dan tenaga kependidikan (P4TK) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) meluncurkan empat program inovasi yakni Diklat Daring Masif dan Terbuka (Didamba), Media Informasi Kepala Laboratorium IPA (De-Mikroskop), SIM Evaluasi Diklat (SimEdi), dan Mobil Pendidikan Semua Pintar Sains (Modis Pisan) bagi guru dan tenaga kependidikan di bidang IPA.

Kepala P4TK IPA, Enang Ahmadi, mengungkapkan, empat program ini dikembangkan dalam rangka memberikan layanan peningkatan kompetensi yang lebih baik, khususnya bagi guru dan tenaga kependidikan di bidang IPA.

Enang menjelaskan, program Didamba bertujuan untuk memberi ruang bagi para guru yang tidak bisa mengikuti diklat ke P4TK karena berbagai keterbatasan agar tetap dapat meningkatkan kompetensi melalui daring.

"Kita beri ruang supaya para guru tetap bisa tetap bergerak melalui daring. Kami pastikan dengan konsep ini tidak boleh ada guru yang tertinggal dalam peningkatan kompetensi," ujar Enang dalam acara Simposium Nasional Guru IPA 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Selasa (26/11).


Baca juga: Indonesia Terpilih Jadi Tuan Rumah Konvensi Minamata


Selanjutnya, program De-Mikroskop bertujuan mempermudah para guru IPA yang juga berperan sebagai kepala laboratorium agar dapat terkoneksi dan terstandar di seluruh Indonesia. Ada juga SimEdi yakni aplikasi untuk mengevaluasi program diklat.

Sedangkan yang terakhir yakni Modis Pisan, yaitu laboratorium virtual yang memberikan layanan pada sekolah yang tidak memiliki laboratorium dan kelompok/komunitas sains yang ada di zonasi.

"Sains show di sekolah dipadukan dengan pendidikan karakter, jadi dua jam sains show dan dua jam pendidikan karakter sains. Ini respons anak-anak, pembelajaran sains yang awalnya disebut rumit jadi menyenangkan. Modus pisan selalu diharapkan bisa hadir ke pelosok desa sampai daerah-daerah yang tidak ada laboratoriumnya. Dalam tiga bulan ini kami sudah delapan kali ke sekolah-sekolah," terangnya.

"Semoga ini menjadi bagian yang penting dalam rangka guru penggerak Indonesia maju," tutup Enang. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT