26 November 2019, 17:04 WIB

Mendongeng Bisa Pulihkan Trauma  dan Adiksi Gadget  


Eni Kartinah | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Kegiatan mendongeng bersama anak-anak di Rumah Amalia.  

MENDONGENG atau story telling itu seru dan menyenangkan. Selain itu mendongeng sebagai terapi anak kecanduan gajet, trauma healing pasca bencana, trauma kekerasan, trauma pasca perceraian.

Hal tersebut disampaikan pemerhati anak, Muhammad Agus Syafii yang founder Rumah Amalia kepada media di Jakarta, Selasa (26/11).

Contohnya orang terkena musibah banjir besar atau gempa tiba-tiba. Akibat bencana tersebut, perkampungan hancur dan menyebabkan warga untuk tinggal di pengungsian.

Dengan tinggal di tempat pengungsian atau tempat penampungan sementara,  anak-anak dan juga orang dewasa mengalami trauma.

"Mereka biasanya menjadi panik, merasa cemas, dan takut berlebihan saat melihat langit mulai mendung dan rintik hujan ataupun anak yang kecanduan gadget tiba-tiba tidak bisa login di media sosial teriak-teriak histeris," tutur Agus Syafii.

Dengan kondisi psikologis anak-anak tersebut, Agus menganjurkan untuk mengajak anak-anak mendongeng. "Mendongeng adalah terapi bisa menghibur, merasa lebih tenang dan senang, sehingga kepanikan dan kecemasannya hilang," tuturnya.

Di Rumah Amalia, menurut Agus, kegiatan mendongeng dibuat program khusus dengan jadwal yang rutin. "Hal tersebut agar manfaatnya dapat lebih cepat dan lebih besar dirasakan anak-anak," jelasnya. 

Akan terapi Agus mengingatkan bahwa proses traumatic healing untuk setiap anak berbeda-beda. Durasi healing juga tergantung pada kondisi anak masing-masing.

"Ada yang bisa cepat mengatasi trauma, ada juga butuh waktu lama. Traumatic healing dengan cara mendongeng sesuai dengan kondisi anak," papar Agus.. 

"Ketika menjadikan dongeng sebagai terapi, kita harus memperhatikan kondisi anak-anak. Jika mereka sudah terlihat lebih tenang dan kepercayaan dan nyaman pendongeng terapis  dengan anak anak juga sudah terjalin," tuturnya.

"Oleh karena itu, kita bisa juga mulai memberikan dongeng misalnya dengan tema “Singkirkan handphone-mu, bermain yuk!” Sehingga anak-anak bisa meninggalkan gajet dan memilih bermain lari-larian, petak umpet, kena-kenaan, patung Pancoran, atau tepuk nyamuk," paparnya..(OL-09)

Hal ini juga diharapkan dapat mempengaruhi pola pikir dan mengubah cara pandang mereka. diharapkan anak yang mengalami trauma maupun anak yang kecanduan HP bisa menjadi pulih kembali, hidup lebih nyaman, lebih bahagia, lebih indah dan menemukan jati dirinya.

BERITA TERKAIT