26 November 2019, 15:06 WIB

Kongres Sastra Tegalan Lestarikan Kearifan Lokal


Supardji Rasban | Humaniora

MI/Supardji Rasban
 MI/Supardji Rasban
Kongres Sastra Tegalan

KOMUNITAS Sastra Kota Tegal, Jawa Tengah, menggelar kongres Sastra Tegalan Pertama di auditorium Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal, Selasa (26/11).

Kongres dibuka Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono tersebut diisi pula dengan acara pembacaa puisi oleh Apito Lahire dan Dhenok Harti.
Keduanya membacakan puisi karya Rendra Rick dari Corona yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Tegal yang dilanjutkan pembacaan puisi Tegalan karya Atmo Tan Sidik oleh Nursholeh.

Wali kota mengapresiasi gelaran Kongres Sastra Tegalan Pertama dan menyebutnya sebagai upaya pelestarian kearifan lokal.

"Kalau bukan kita sendiri yang berupaya melestarikan karya Sastra Tegalan siapa lagi," ujar Dedy.
     
Dedy menyampaikan saat ini di kalangan generasi muda atau milenial sudah banyak yang meninggalkan karya Sastra Tegalan.

"Kongres ini juga sekaligus untuk menularkan karya Sastra Tegalan dari generasi tua ke generasi  milenial," ucapnya.
     
Sastrawan Atmo Tan Sidik menyebut Kongres Bahasa Tegalan diperlukan di tengah banyaknya bahasa daerah yang sudah punah. "Ini bagian dari upaya kita untuk melestarikan bahasa daerah," ucap Atmo.

Seorang nara sumber, Wijanarto menyebut pengakuan atas eksistensi sastra Tegalan sebenarnya sudah diberikan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, saat menggelar sarasehan sastra Tegalan pada pertengahan Agustus lalu.

"Tentu dalam perbincangan sastra, sastra Tegalan sebanding dengan pembicaraan kajian sastra kedaerahan lainnya di Indonesia," kata Wijanarto.

Bagi Wijanarto, yang menarik di balik revitalisme sastra Tegalan jika dilihat dari narasi sejarah, bermula dari proses alih bahasa karya-karya penyair seperti Rendra, Taufik Ismail dan lain-lain. (OL-11)
     

 

 

BERITA TERKAIT