26 November 2019, 12:52 WIB

Soal TIM, Gerindra: Harusnya Duduk Bareng Dulu dengan Seniman


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Pekerja menyelesaikan pembangunan revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta

ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra Syarif tidak setuju dengan pembangunan hotel bintang 5 di dalam Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.

Ia menyarankan pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta duduk bareng dengan seniman untuk membicarakan revitalisasi TIM.

"Kemarin, pendekatanya hanya formalitas, kan enggak begitu. Harusnya duduk barenglah dengan seniman, jangan ngotot ngototan. Kalau saya, prinsipnya enggak setuju (pembangunan hotel bintang 5)," kata Syarif di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (26/11).

Syarif mengatakan penolakan seniman mengenai pembangunan hotel bintang 5 itu karena kurang memahami teknis revitalisasi di TIM tersebut.

Baca juga: Jakpro Akui tidak Kuasai Soal Seni untuk Kelola TIM

Namun, ia meyakini apa yang dikerjakan jajaran Gubernur Anies Baswedan bertujuan baik.

"Saya berpendapat apa yg diupayakan Pemprov untuk tujuan yang lebih baik. Hal-hal teknis mungkin kurang dipahami (oleh seniman)," kata Syarif.

Proses revitalisasi TIM memakan biaya hingga Rp1,8 triliun. Revitalisasi tersebut akan menggunakan penyertaan modal daerah (PMD) Jakpro yang telah masuk dalam APBD DKI Jakarta.

Syarif pun juga mewanti-wanti Pemprov DKI agar memikirkan biaya maintenance atau pemiliharaan atas revitalisasi TIM tersebut.

"Kalau jadi dibangun kan ada pembiayaan maintenance tuh. Harusnya dipikirkan setelah dibangun biaya maintanance itu harus dipikirkan gimana," ucap Syarif. (OL-2)

BERITA TERKAIT