26 November 2019, 11:45 WIB

Jakpro Akui tidak Kuasai Soal Seni untuk Kelola TIM


Antara | Megapolitan

ANTARA/Muhammad Adimaja
 ANTARA/Muhammad Adimaja
Pekerja menyelesaikan pembangunan revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta.

DIREKTUR Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Dwi Wahyu Darwoto mengaku pihaknya tidak menguasai bidang kesenian seperti yang dilakukan oleh para seniman.        

Pernyataan itu diungkapkannya ketika menanggapi para seniman Taman Ismail Marzuki (TIM) yang mengatakan pihak pengembang yang ditunjuk Pemprov DKI Jakarta tidak mengerti kesenian.

"Kami tidak akan mengelola ranah seninya seolah-olah semua dikuasai Jakpro, kami sadar Jakpro tidak punya kemampuan untuk itu," kata Dwi saat ditemui di kantornya di Thamrin City, Senin (25/11).   

Dwi menjelaskan tugasnya dalam pengembang revitalisasi kawasan TIM hanya sebagai pengelola untuk sarana dan prasarana di pusat kesenian itu.    

"Kami hanya bagian kecilnya, sebagai Satuan Pelaksana Sarana dan Prasarana. Itu pun mungkin hanya sebagian yang dikelola Jakpro. Kami tidak masuk ke ranah kesenian, ataupun promosi dan pemasaran seni," ujar Dwi.    

Baca juga: Jakpro Revitalisasi 7 Fasilitas TIM

Jakpro sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI ditunjuk langsung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI sebagai pihak yang bertanggung jawab merevitalisasi TIM hingga perawatannya pascarevitalisasi selama 28 tahun.  

Nantinya, pascarevitalisasi selesai, Jakpro mengusulkan agar urusan infrastruktur dan pengelolaan gedung dilakukan oleh pihaknya sedangkan untuk kesenian dan promosi dilakukan Dewan Kesenian Jakarta bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI.    

"Jadi Jakpro hanya mengelola infrastrukturnya," kata Dwi.    

Diketahui para seniman TIM menolak adanya pembangunan hotel dalam revitalisasi kawasan pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang akan dikelola PT Jakarta Propertindo (Jakpro).    

"Kami bukannya menolak revitalisasi TIM, yang kami tolak pembangunan hotelnya. Itu kan tidak sesuai dengan citra TIM sebagai art center," kata salah satu seniman TIM Arie F Batubara saat dihubungi.  

Para seniman TIM menilai dengan adanya hotel yang direncanakan berbintang lima itu akan menyebabkan lambat laun orientasi kawasan budaya akan tergerus menjadi kawasan komersial. (OL-2)

BERITA TERKAIT