26 November 2019, 08:20 WIB

Adamas Belva Syah Devara Dinobatkan Jadi CEO Startup of The Year


M Ilham Ramadhan Avisena | Hiburan

ANTARA
 ANTARA
Adamas Belva Syah Devara

ADAMAS Belva Syah Devara baru berusia 29 tahun, tapi prestasinya sudah segunung. Tidak mengherankan jika ia memenangi anugerah People of The Year 2019 pada kategori CEO Startup of The Year dari Metro TV karena kesuksesannya mengembangkan Ruangguru, startup bidang pendidikan dan teknologi yang terbesar di Indonesia.

Hingga saat ini, Belva telah menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional atas kepemimpinannya membangun Ruangguru. Salah satu yang prestisius ialah saat ia masuk dalam deretan 30 pemuda di bawah umur 30 tahun tersukses dalam bidang kewirausahaan teknologi di Asia oleh Forbes Magazine pada 2017 lalu.

Lahir dari keluarga sederhana, pemilik gelar ganda dari Harvard University dan Stanford University itu sejak awal meyakini pendidikan ialah tiket untuk meraih masa depan yang lebih baik.

"Saya lahir dari keluarga yang sederhana dan seluruh perjalanan saya sampai saat ini, saya berdiri menerima penghargaan ini adalah bukti bahwa pendidikan tiket menuju masa depan yang lebih baik," ujar anak pertama dari tiga bersaudara itu saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, Minggu (24/11) malam.

Di bawah kepemimpinan Belva, hanya dalam setahun, Ruangguru berkembang pesat lima kali lipat dan menjadi perusahaan teknologi pendidikan terbesar di Indonesia, menjangkau 10 juta siswa dan 150.000 guru.

Belva menuturkan, lahirnya gagasan untuk menciptakan aplikasi dalam jaringan (daring) di bidang pendidikan, Ruangguru merupakan bentuk kepeduliannya pada dunia pendidikan Indonesia yang masih jauh dari kata baik dan mumpuni.

Kedua orangtua Belva bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Nilai-nilai yang ditanamkan orangtuanya mengenai pentingnya pendidikan ini ialah dasar keyakinannya hingga membidani kelahiran Ruangguru.

Sejak SMP hingga SMA, ia mengenyam pendidikan di sekolah swasta, yakni SMP Islam Al Azhar 8 dan SMA Presiden.

"Kita tahu pendidikan di Indonesia masuk yang paling buruk, ada di dua terbawah berdasarkan ranking PISA tahun 2012. Nah, kami berpikir harus menggunakan teknologi supaya ada lompatan ke depan," kata laki-laki kelahiran Jakarta, 30 Mei 1990, itu.

Berawal dari pengetahuannya dibidang komputer dan kecintaannya pada dunia pendidikan, Belva memberanikan diri untuk melawan arus utama sektor pendidikan dengan menciptakan aplikasi Ruangguru pada 2014 lalu. Pelan tapi pasti, usahanya itu menuai hasil. Meski belum signifikan, minat anak-anak Indonesia untuk mencari ilmu di dunia maya terbilang luar biasa.

"Alhamdulillah dua tahun ke belakang ternyata bisa booming juga aplikasi belajar di Indonesia. Itu artinya kan anak-anak di Indonesia ketika ada platformnya, ada aplikasinya, mereka mau kok belajar," ucap Young Leader for Indonesia 2011 dari McKinsey & Company itu.

Bila sebelumnya aplikasi belajar itu hanya ditujukan kepada siswa SD hingga SMA, kini Ruangguru mencoba untuk menyentuh kalangan profesional. Ruangguru juga akan melakukan ekspansi ke luar Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mendorong anak-anak untuk mau belajar.

Karena rekam jejaknya di dunia pendidikan, Belva ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai salah seorang staf khususnya. Dalam membagi waktu antara urusan negara dan tugasnya sebagai CEO Ruangguru, Belva mengaku tidak kesulitan.

Salah satu usulan yang akan dibawa dan disampaikan kepada Presiden ialah pemanfaatan teknologi digital dalam lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah formal hingga kini masih belum memberdayakan teknologi digital. "Selama ini kan dalam pendidikan digitalisasinya di luar sekolah, yang mungkin akan saya bawa ke Presiden adalah digitalisasi di dalam sekolah," pungkasnya.


Di atas rata-rata

Kecerdasan Belva berada di atas tingkat rata-rata teman seusianya. Karena itu, ia dikenal sebagai pemuda berotak cemerlang. Selama SMA, ia selalu meraih peringkat satu dan menjuarai berbagai kompetisi olimpiade ilmiah, pidato, dan debat berbahasa Inggris.

Tak mengherankan jika beasiswa demi beasiswa didapatkannya, termasuk saat dirinya melanjutkan studi ke Nanyang Technological University (NTU) di Singapura, salah satu institut teknik terbaik di Asia (2007).

Saat itu, Belva merupakan orang Indonesia pertama yang diterima di program gelar ganda dalam program studi Ilmu komputer dan Bisnis di NTU. Di sana Belva berhasil meraih tiga medali emas prestisius dari Nanyang Technological University Lee Kuan Yew Gold Medal (penghargaan tertinggi bagi mahasiswa di universitas), Infocomm Development Authority of Singapore Gold Medal (penghargaan bagi peraih nilai akademis tertinggi di program studi Ilmu Komputer), dan Accenture Gold Medal (penghargaan bagi peraih nilai akademis tertinggi di program studi Bisnis).

Pada 2013, Belva melanjutkan pendidikan pascasarjananya dan menjadi orang Indonesia pertama yang diterima di program gelar ganda di Harvard University dan Stanford University--dua universitas paling bergengsi di dunia. Di Harvard ia mengambil jurusan kebijakan publik, sedangkan di Stanford ia mengambil jurusan bisnis manajemen. (Hym/H-2)

BERITA TERKAIT