26 November 2019, 07:40 WIB

Negeri Kanguru Tawarkan Hunian


DERO IQBAL MAHENDRA | Ekonomi

Dok. Crown Group
 Dok. Crown Group
Negeri Kanguru Tawarkan Hunian

BELAKANGAN ini pengembang properti asal Australia cukup gencar memasarkan produk mereka kepada masyarakat Indonesia. Mereka menawarkan properti di beberapa kota, seperti Sydney dan Melbourne.

Salah satu pengembang Australia itu ialah Crown Group. Menurut GM Strategic & Corporate Communication Crown Group Indonesia, Bagus Sukmana, potensi pasar Australia dipandang cukup menguntungkan bagi sejumlah investor asing yang masuk, termasuk Indonesia.

"Pembeli orang Indonesia untuk seluruh proyek Crown Group di Sydney sekitar 10%. Selain orang Indonesia, pembeli lokal Australia mencapai 60% dan 20% berasal dari Tiongkok dan 10% berasal dari negara-negara Asia lain," ungkap Bagus kepada Media Indonesia, kemarin.

Untuk diketahui, Crown Group telah membangun sekitar 23 unit hunian vertikal. Perusahaan tersebut melihat Australia masih kekurangan pasokan hunian sehingga daya serap pasar tetap besar.

Bagus menjelaskan, terdapat keuntungan yang menjadi daya tarik bagi konsumen asal Indonesia untuk berinvestasi di Australia. Misalnya, keamanan investasi ditunjukkan dari pembeli hanya dibebankan uang muka sebesar 10% selama proyek masih dibangun dan pelunasan dilakukan setelah bangunan layak huni.

Dari segi investasi pun cukup menguntungkan. Secara konservatif tingkat kenaikan harga hunian di Australia, khususnya di Sydney, berada pada kisaran 8%-10% per tahun.

Begitu juga legal status kepemilikan yang diberikan pemerintah Australia kepada investor asing, yaitu free hold alias seumur hidup. Padahal, di Singapura hanya 99 tahun.

Selain itu, Australia tergolong memiliki stabilitas ekonomi dan politik tertinggi di sekitar kawasan. "Salah satu asal kota investor Indonesia yang paling banyak memiliki unit properti di Australia, yaitu Bandung," kata Bagus.

Imbas

Memandang fenomena itu, Associate Director Coldwell Banker Commercial (CBC) Indonesia Kiagus Ariodamar menyebutkan, secara umum penyerapan pasar properti di Australia oleh orang Indonesia karena sektor properti domestik masih belum menggeliat. Meskipun demikian, pihaknya belum memiliki penelitian secara khusus tentang hal tersebut.

"Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan harga sektor hunian di dalam negeri kurang dari 5%. Di samping itu, pilihan unit yang diluncurkan untuk kelas menengah atas sampai kelas atas masih relatif terbatas. Kontribusi pengembangan hunian vertikal masih di kelas menengah sampai menengah bawah," jelas Ario.

Pertumbuhan sektor properti nasional pada 2019 diperkirakan sekitar 3%. Proyeksi itu tidak jauh dari realisasi pertumbuhan sektor properti 2018 sebesar 3,58%. Dalam lima tahun terakhir, kontribusi sektor properti terhadap perekonomian domestik juga berkisar 3%.

Hal itu, menurut Ario, membuat investor kelas menengah hingga kelas menengah atas mencari alternatif properti yang lebih menarik di luar negeri seperti Australia. Apalagi, iklim investasi properti di Australia dinilainya sangat baik dari sisi harga dan pertumbuhan.

Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya menyoroti Indonesia membutuhkan regulasi yang memberikan kesetaraan bagi investor asing. Pasalnya, pemerintah pun tidak dapat melarang investor Indonesia untuk berinvestasi pada properti luar negeri.

"Poin pentingnya warga Indonesia bisa membeli properti asing, tetapi orang asing juga bisa membeli properti di Indonesia dengan aturan kepemilikan yang jelas dan legal," tutur Bambang. (Tes/S-3)

BERITA TERKAIT