26 November 2019, 06:20 WIB

Publikasi Ilmiah belum Dibarengi Kualitas


(Ind/Mal/H-2) | Humaniora

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/pd.
 ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/pd.
Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro 

MESKIPUN jumlah publikasi karya ilmiah Indonesia meningkat, indeks sitasi atau kutipannya masih minim. Hal itu menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas karya ilmiah belum dibarengi dengan kualitas.

Menteri Riset dan Teknologi yang juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang   Brodjonegoro megaskan hal itu di Jakarta, kemarin.

Publikasi ilmiah di Universitas Indonesia misalnya, kata Bambang, memang meningkat dari kuantitas, tetapi ada gap dari publikasi dan lisensi pemakaian paten. "Karena acuan jurnal itu Scopus, ternyata penambahan di UI lebih banyak dipublikasikan karena terpaksa, seperti mahasiswa, peneliti, atau dosen yang ingin lulus atau naik pangkat," ungkapnya.

Scopus adalah basis data sitasi yang bisa menilai suatu jurnal. Kebanyakan publikasi ilmiah Indonesia di Scopus masuk kategori Q4, sedangkan untuk bisa disitasi, jurnal tersebut harus masuk Q1, klaster paling tinggi dari sisi kulitas jurnal.

Pada 2018, publikasi ilmiah Indonesia di tingkat ASEAN berdasarkan data di Scopus ada 33.953, menduduki posisi pertama diikuti Malaysia sebanyak 33.253. Namun, pada 2019, posisi itu berbalik.

Sejumlah kendala yang diidentifikasi BRIN adalah sulitnya pengelolaan jurnal terakreditasi yang berkejaran dengan ketepatan waktu terbit, minimnya suplai paper, hingga sulitnya mendapatkan penulis berbahasa Inggris untuk standar jurnal internasional.

Menteri Bambang juga menyoal mengenai plagiarisme (penjiplakan) karya ilmiah. Ia meminta agar pengelola jurnal melengkapi diri dengan kemampuan uji plagiarisme (penjilplakan) dengan bantuan teknologi.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengajak para ilmuwan dan peneliti Indonesia di Korea Selatan untuk terlibat dalam perbaikan ekosistem riset di Tanah Air. Salah satunya, kata Presiden, mereka bisa terlibat di klaster khusus riset dan inovasi di ibu kota baru Indonesia nanti di Kaltim.

"Saya enggak tahu nanti perisetnya ada berapa puluh ribu, tapi saya ingin gede banget karena memang sudah kita siapkan lahan di ibu kota yang baru," ucap Presiden dalam kunjungan kerjanya, kemarin. (Ind/Mal/H-2)

BERITA TERKAIT