25 November 2019, 22:04 WIB

Pengusaha AS Minta Bantuan Indonesia untuk Impor Baja


Andhika Prasetyo | Ekonomi

Antara/Pradita Utama
 Antara/Pradita Utama
Aktivitas ekspor-impor baja di pelabuhan Tanjung Priok, jakarta

AMERIKA Serikat (AS) memutuskan untuk mengenakan bea masuk sebesar 25% kepada setiap produk baja yang masuk ke negara tersebut.

Niatnya, langkah itu diambil untuk mengamankan produk-produk baja asal AS dari serangan produk baja asing. Namun, pada kenyataannya, kebijakan tersebut malah menyulitkan para pelaku usaha 'Negeri Paman Sam'.

Seperti Allegheny Technologies Incorporated (ATI) Metals yang setiap tahun mengimpor sekitar 300 ribu ton lembaran baja senilai 600 juta dolar ASdari Indonesia.

Perusahaan tersebut kini harus mengeluarkan bea masuk 25% dari baja yang didatangkan.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengungkapkan ATI Metal kemudian mengajukan permohonan bantuan kepada Indonesia untuk melobi pemerintah AS untuk memberikan keringanan.

Baca juga : JK : Industri Baja Nasional Kalah Saing Karena Teknologi

"Dalam kunjungan ke AS, kami bertemu pelaku usaha setempat dan mereka meminta bantuan kami. Mereka ingin kami melobi pemerintah AS agar bea masuk dihilangkan," ujar Kasan di kantornya, Jakarta, Senin (25/11).

Sedianya, ATI Metals telah mengajukan pembebasan bea masuk langsung kepada pemerintah AS.

Mereka kemudian diberi opsi yakni pembebasan bea masuk tetapi hanya untuk kuota sebesar 300 ribu ton.

Jika ATI Metal mendatangkan baja melebihi kuota, akan dikenai bea masuk 25%.

Di Indonesia, lembaran baja banyak diproduksi di Morowali, Sulawesi Tengah. Produsen utamanya adalah Tsingshan Group, investor asal Tiongkok. (OL-7)

BERITA TERKAIT