26 November 2019, 08:00 WIB

Tijili Hotel Benoa Terapkan Nilai-Nilai Tri Hita Karana


mediaindonesia.com | Weekend

Istimewa
 Istimewa
Staf dan pegawai Tijili Hotel Benoa siap menyambut para tamu yang datang.

SEBAGAI komitmen untuk melestarikan budaya lokal Pulau Bali dan konsep pariwisata berkelanjutan, Tijili Hotel Benoa menjaga kelestarian lingkungan dengan menerapkan 'Tri Hita Karana'.

Dengan menerapkan Tri Hita Karana,Tijili Hotel ingin menciptakan suasana terbaik bagi karyawan dan para tamu. Filosofi Tri Hita Karana hidup dalam kegiatan bisnis hotel sehari-hari dengan bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai lokal, melindungi lingkungan, dan berkontribusi kepada masyarakat lokal.

Tahun ini pertama kalinya Tijili Hotel Benoa mengikuti semua proses penilaian dan berpartisipasi dalam Tri Hita Karana Awards.

Tri Hita Karana Award sendiri merupakan ajang tahunan sebagai pengakuan terhadap perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di bidang pariwisata, dalam mengikuti dan melestarikan filosofi tradisional Bali serta mempraktikkan hubungan yang harmonis dengan masyarakat, Tuhan, dan lingkungan.

Untuk mengikuti program Tri Hita Karana Awards 2019,Tijili Hotel Benoa harus melalui empat tahapan yakni mengisi "initial screening" sebagai tanda kesediaan untuk menjalani penilaian dari tim asesor.

Pada tahap ini, Tijili tim memberikan informasi terkait manajemen dan aktivitas tanggung jawab sosial yang telah dilakukan selama tiga tahun berturut-turut, serta mengikuti pelatihan dasar Tri Hita Karana yang diberikan dewan pakar dari Yayasan Tri Hita Karana.

Penghargaan yang diberikan sesuai dengan nilai terhadap aktivitas implementasi Tri Hita Karana yakni untuk kategori bronze atau perunggu, silver atau perak, dan gold atau emas.

“Kami berharap aktivitas, pencapaian, inovasi maupun keunikan yang kami lakukan bisa memberikan persepsipositif, sehingga kedepannya kami bisa terus mengimplementasikan nilai-nilai dalam Tri Hita Karana dan bisa membagi manfaatnya di tingkat dunia, terutama terkait pemanasan global yang termasuk dalam kriteria Palemahan”, ujar Patrick LeProvost, General Manager Tijili Hotel Benoa.

Tri Hita Karana, secara harfiah diterjemahkan sebagai Tiga Penyebab Kemakmuran, membawa hubungan harmonis. Konsep universal ini menyatukan hubungan seseorang dengan Tuhan (Parahyangan), Sekelilingnya (Palemahan), dan Kemanusiaan (Pawongan)

Gaya hidup yang harmonis tersebut termasuk menjaga keseimbangan dunia spiritual dan fisik. Ini membuat kita mempunyai rasa memiliki dan bertanggung jawab untuk kitasendiri, dalam kehidupan, hubungan, komunitas dan lingkungan.

Tri berarti tiga, Hita berarti kemakmuran, dan Karana berarti penyebabnya. Dalam terminologi bahasa Sanskerta, Tri Hita Karana adalah tiga elemen yang memanifestasikan kebahagiaan, atau tiga faktor yang menciptakan kesejahteraan fisik dan spiritual. Ini adalah strategi universal untuk menjaga keseimbangan, kompatibilitas, dan harmoni kehidupan di bumi Pertiwi.

Konsep Tri Hita Karana terdiri dari tiga kearifan utama: Parhyangan atau kearifan keharmonisan kehidupan antara manusia dengan Tuhan, Palemahan atau kearifan keharmonisan kehidupan antara manusia dan alam sekitarnya, dan pawongan atau kearifan harmoni kehidupan. hidup antara manusia satu sama lain.

Dipercaya bahwa keselarasan di antara ketiga aspek ini dapat menghasilkan manfaat maksimal bagi kesejahteraan spiritual, mental, dan fisik manusia.

Parahyangan (Harmoni dengan Tuhan)

Beberapa orang menafsirkan Parahyangan sebagai cara untuk membangun hubungan yang baik dengan Tuhan. Yang lain percaya bahwa Tuhan akan marah jika kita melupakannya. Namun sebenarnya konsep Parahyangan tidak menyebut Tuhan seperti manusia yang bisa marah jika makhluk-Nya melakukan kesalahan.

Tetapi di luar itu, ketika konsep Parahyangan mencoba untuk menciptakan kesadaran bahwa setiap individu di planet ini harus percaya bahwa mereka adalah bagian dari Tuhan, dan Tuhan ada di dalam mereka, dengan harapan bahwa orang akan dapat mengendalikan pikiran dan pikiran mereka. emosi terhadap kehidupan spiritual mereka di bumi.

Hindu Bali memiliki cara unik untuk menerapkan Kebijaksanaan Parahyangan, karena mereka selalu harus mengingat fakta bahwa manusia adalah bagian dari Ibu Semesta. Mereka melambangkan setiap kekuatan Tuhan dalam bentuk tertentu yang dikenal sebagai Pura (kuil).

Patung dan kreasi lain ditempatkan disebuah pura sebagai media untuk fokus pada kebijaksanaan tertentu dari alam semesta. Orang Bali percaya bahwa hanya ada satu Tuhan, tetapi Tuhan itu memiliki kebijaksanaan tanpa batas.

Pawongan (Harmoni di antara orang-orang)

Kebijaksanaan terakhir adalah menciptakan hubungan yang harmonis di antara manusia, karena esensi manusia adalah sebagai makhluk sosial. Sebagai seorang individu, kita tidak akan bisa menjalani kehidupan nyata tanpa orang lain.

Kebijaksanaan Pawongan mengarahkan orang untuk mulai percaya bahwa mereka semua adalah satu; jika kita menyakiti seseorang, itu berarti kita menyakiti diri kita sendiri. Terlebih lagi, Pawongan mencerminkan keberadaan apresiasi kemanusiaan, nilai timbal balik, rasa hormat, dan tentunya hak asasi manusia.

Dengan menerapkan filosofi tabah Tri Hita Karana, realisasi kreatif dan dinamis akan membuat manusia yang harmonis yang pengabdiannya kepada Tuhan, cinta untuk lingkungan dan harmoni dan perdamaian dengan satu sama lain terwujud. Pihak Tijili Hotel juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua manajemen dan staf yang telah bekerja keras dalam meningkatkan operasi dan kebijakan hotel, termasuk membuat berbagai program baru yang selaras dengan nilai-nilai Tri Hita Karana.

Palemahan  (Harmoni dengan alam atau lingkungan)

Kearifan Palemahan merupakan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dan bagaimana kita harus melakukan itu? Manusia harus mengikuti kebijaksanaan 'Tritunggal' yakni untuk memiliki pemikiran bahwa kita adalah bagian dari alam, untuk mengingat bahwa kita hidup di planet ini; bahwa kita bernafas, kita mendapatkan penghasilan, mampu mengendarai mobil mewah dan menikmati hotel mewah bintang tujuh.

Anda dapat menyebutkan semua hal baik yang dinikmati, yang sampai sekarang telah didukung tanpa syarat oleh bumi, dan hal terakhir adalah untuk mengingat bahwa jika kita terus mengambil setiap bagian dari alam tanpa memberikan kembali, itu akan terkuras dan akan berdampak pada hidup kita di masa depan. (OL-09)

 

BERITA TERKAIT